Posted in balikpapan

Sup Buntut Dua Puluh Menit


Jleg… pesawat Garuda menjejakkan cakarnya di bumi Balikpapan. Suara  rem mendadak sekalian membuat badan terdorong kemuka. Atap pesawat  seperti bergetar seperti baru minum softdrink dalam iklan TV.

Sambil berjalan keluar  bandara saya celingukan melihat sang penjemput yang dijanjikan.  Ada sebersit rasa bangga melihat logo perusahaan diantara puluhan  para penjemput di bandara Sepinggan. Apalagi nama saya ditulis dengan  benar dan jelas.

Hotelnya baru pak! awal tahun ini diresmikan! – demikian kata pria  berseragam biru dengan logo perusahaan didada kirinya.  Belakangan namanya Mus saat menjemput saya di Bandara Sepinggan  Balikpapan.

Balikpapan, satu kota yang mengijinkan saya tatap muka,  menyanyi dan makan bersama dengan paling tidak dua menteri yakni pak  Yakob dan yang teramat sering Ibu Sri.

Tapi sebelum acara checkin ke hotel seperti yang dibanggakan Mus,  saya harus mengantarkan teman saya mas mas Timbul (tapi perangainya jauh dari pelawak Timbul) ke markas besarnya yang notabene sebagian  juga masih teman-teman lama semua. Kok kebetulan satu arah dengan  adres perusahanku sekarang.

Saya memasuki halaman gedung yang baru  70persen selesai, kecuali seorang satpam muda usia (Balikpapan adalah kota sejuta Satpam) maka suasana lengang masih menyekap kota yang baru dikocori hujan. Saya lalu mengucapkan kata perpisahan dengan senior mudlogger yang akan ke Badak ini.

Sialnya dia pakai kirim  pesan singkat kepada teman-teman dengan mengatakan aku bersama dengan salah satu pembelot perusahaan kita yang lama.  Sia-sia kujelaskan duduk perkaranya yang sejatinya terjadi, bahwa aku bukan pembelot, tetapi “cucian kotor” yang musti disingkarkan sebagai  akibat dua perusahaan merger. Tetapi dia tetap keukeuh dengan pendapatnya.

Seperti biasanya para mudlogger selalu membanggakan perkakasnya dia  masih berucap “pengalaman bertahun-tahun maka saya jujur saja  perkakas kami lebih canggih. Tinggal masalah harga.” –

Sampai dihotel dengan judul depannya Menara yang berarti tinggi satu  dari tiga gadis berseragam biru didepan loket pendaftaran manggut- manggut membaca nama saya. Lalu sehelai formulir ukuran setengah  kertas letter disodorkan untuk saya isi. Saat menulis data yang  diperlukan saya mengeluh dengan tulisan tangan saya. Makin lama makin  babaliut bentuknya. Malu mau bilang setali tiga wang dengan cakar  ayam. Untung saja laptop diciptakan.

Oh ya pak, soal pembayaran kamar sudah ditanggung perusahaan.. .” – thanks  God. Masa krisis global seperti sekarang ini saya melihat bagian akunting sekalipun ramah, senyumnya seperti balatentara NAZI kalau  sudah bekerja memegang pen di gulak-gulak interneeran dulu. Kadang pihak akunting lebih tekun mencungkili uang sepuluh dua puluh ribu rupiah ketimbang  kehilangan proyek yang bernilai ratusan bahkan miliaran rupiah.

Sinona sambil kepalanya menunduk dan matanya melihat ke layar monitor ia bilang, “kamar no smoking atau smoking..“- dengan suara tegas mirip pembaca Pancasila.

No smoking….” – kata saya sambil mencoba senyum seperti ketika  saya menggoda mamanya Lia (ya istri saya sekarang).

Tanpa senyum sinona bilang masih setegas pembaca naskah Pancasila ” (kamar) no smoking cuma ada satu lantai tapi kebetulan kamar sudah penuh dipesan..

Sonda (zonder) banyak waktu, wajah saya mulai menyatukan kedua alis. Coba bayangkan bahasa Indonesia sudah baik tetapi logikanya “sengkring” di hati. Kamar penuh kok beraninya bilang  kebetulan. Kebetulan dari Hongkong.

Sengkring kedua, ada sekian belas lantai di gedung megah ini dan hanya satu lantai yang disediakan untuk non smoking. Betul-betul Smoke Discrimination.

Jangan-jangan menunggu fatwa dulu baru diperbanyak kamar non smokingnya. Maklum jaman obral murah fatwa. Untung masih sempat baca wejangan Gde Pramana, “Surga dan Neraka  terletak pada cara pandang.” – melihat anak kita pethakilan – tingkah laku tak mau diam – dalam rumah kita merasa di surga. Anakku cerdas, trengginas, sapa dulu bapaknya. Tapi melihat kelakuan anak  orang lain didepan mata belum-belum sudah bilang “anak tidak tahu  adat, mau jadi apa nantinya..”

Saya anggap saya di surga, lalu saya manis-manis bilang “okay saya  boleh taruh di istana asap..”

Gadis manis menunduk lagi sambil ceklak-ceklek menatap layar. Tidak sepersepuluh detik dia bilang dingin sekali..

“Kamar no smoking belum siap. Bagaimana?” – kalau orang lain bisa dianggap, mau tunggu syukur, tidak mau ya tidak jadi apa.

Sekarang saya sedang ahtret dari surga ke neraka. Setengah jam menunggu. Cukup lama.

Kriuk..kriuk .. ada suara mendekur rupanya sebelas pagi tetapi di Balikpapan sudah jam dua belas teng.Kalau jam kukuk yang berbunyi burung kecil maka cacing saya yang memperdengarkan bunyi gelegekannya. Kenapa tidak mencoba resto di hotel ini. Cuma kok pemandangan resto sangat sepi.

Apa yang istimewa dari hotel ini?” tanya saya

Sup Buntut!” – kata penunggu restoran.

Jadi…seru saya bersemangat. . saya pesan satu porsi.

Pelayan melihat saya. Rasanya bakalan ada drama lain. Lha rak tenan (betul saja), dia bilang “tapi bapak harus menunggu paling tidak dua puluh menit untuk menyiapkan makanan.

Rupanya masakan saya diambilkan dari dapur  tetangga sebelah sehingga pelayan harus berjalan paling tidak  2×50 meter untuk makanan kami. Pintarnya supaya sup tidak keburu dingin, maka sekalian pemanasnya  dihidangkan dimeja.

supbuntut

Dagingnya sih cukup empuk. Tetapi sekalipun lapar saya tidak melihat nilai lebih dari masakan ini. Apalagi selain nasi  putih dan bawang dan emping goreng meja sepi dari pernik masakan lainnya.  Selesai makan, pak Mus sudah kirim pesan singkat “pak saya jemput  dari hotel ke kantor ya…

Jreng, saat membayar, saya baca sekilas tagihannya,  semangkuk sup buntut dan nasi putih dan air jeruk papas direken  125 ribu rupiah. Mungkin kalau dihidangkan misalnya lima menit saya harus membayar empat kali lipat lebih tinggi.

(Sengkring adalah ungkapan untuk nada yang sumbang, biasanya diibaratkan kata-kata ketus)

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s