Posted in resto, resto padang, restoran

Penyandang Nama GAJAHMADA


Yang saya maksud adalah nama kedai urusan penangsel perut. Misalnya saja di Jakarta yang kondang seperti Bakmi GajahMada yang membuat penggemar bakmi belum Khatam atau belum serasa ziarah ke Serambi Bakmi – kalau tetirah barang setengah jam disini.

Lalu di Balikpapan – saya berani mendeklarasikan Pemekaran Provinsi Makanan tanpa usung peti, yaitu RMPadang di kawasan GajahMada.  Bukan jalan Gajahmada melainkan emperan losmen bertajuk GajahMada. Begitu melekatnya kedai ini sampai-sampai saat orang menyebut Balikpapan atau begitu pesawat menurun dari ketinggian jelajah yang terlintas hanya kedai masakan padang tersebut.

Teman saya pernah suatu siang berkeringat bak “rob” dikantornya. Karena nampak pucat pasi kerabat yang melihatnya mencoba menegurnya dan ia tidak memberikan respons ciri gampang serangan stroke.
Belum sembuh 100persen – saat makan malam di Balikpapan dia kampanye mengusung nama Kedai tersebut. Pertama sih minta daun singkong, potongan mentimun yang seupil.

Babak kedua dia mengamuk, mulai hantam rendang, otak entah apa lagi.
Maka tatkala tugas “nimarih” (betawi= kesana) – apalagi setelah kapok makanan hotel yang cuma mahal dan lama (sebab kalau lebih cepat harga makannya lebih lama).

Ingatan “Ikon Kota Balikpapan” menyerang saya. Mumpung di kota minyak yang cuma semalam apalagi jaraknya hanya dibatasi badan jalan.
Setelah menyeberangi jembatan dengan aliran kendaraan dibawahnya “jeglek” – saya sudah sampai didepan kedai kesayanganku.

Entah kenapa ciri resto masakan Padang kita selalu harus melihat sisi “brutu” alias sisi belakang penjualnya. Ciri lain penyusunan dua piring dibolak balik sebelum masakan diletakkan diatasnya, entah ada hubungannya dengan “im dan yang” – saya jelas belum tahu.

Yang teramat jelas, pajangan masakan di gerobog kaca sudah diloroti habis. Sementara dimeja bertebaran kardus distaples (kadang ikutan masuk nasi) – sebagian sudah diisi plastik transparan sebagai dasar, lalu sebatok nasi, ditemani dengan gulai ayam yang juga diisolasi dengan dalam kantong plastik. Sepotong pisang kekuningan dengan bercak cokat nampak bergulir di sudut kotak. Terbayang kalau nasi hangat langsung di “bekap” dalam kardus berselimut plastik, bakalan ada embun saat dibuka nanti.

Rupanya mereka menerima pesanan masakan dalam jumlah besar.
Melihat saya kadung kuciwa, rupanya petugas berbaju putih dengan keringat teramat membasahi wajahnya – menyetop aktivitasnya dan mulai balik kanan menghadap saya. Jelas saya tidak nyaman makan disana sehingga diputuskan membawa tas kresek berisi makan malam ke kamar 330 yang masih kerabat istana ASAP.

Rupanya selain Surga Asap, saat berada di kamar saya bisa mendengar orang menguap, menilpun anaknya diujung sana agar jangan nakal, cepat tidur. Seperti biasanya mantra para ayah kalau menilpun anak-anaknya.
Perlahan bungkusan saya letakkan di meja. Sementara TV yang tak henti-hentinya mengumbar liputan “reformasi kebablasan” – saya matikan.

Bayangkan di benak saya organisasi masa paling garang adalah FPI menyusul FBR, tetapi di luar dugaan sebuah media masa lokal mampu menghasilkan mesin pembunuh bermesin “pemekaran atau penjagalan.” – apa masih bisa dibenarkan alasan basi “32 tahun dibekap orde lama – sekarang kami menjadi orde amukan”

Nasi saya “bejek” – kok lembek. Sebetulnya bukan masalah, namun ilmu nasi Padang mengharuskan nasi tidak berserikat.

Sambil mencerna, butir nasi lembek yang masuk perut seperti memutar filem jadul. Ingat saat dulu berkumpul di Balikpapan.  Kantor minyak yang mengharuskan saya datang mengecek PC entah itu jam dua malam, jam empat pagi atau jam makan siang. Teman-teman yang silih berganti sekalipun ada yang masih “die hard mudlogger.”

Sayang sekalipun kenangan masa lalu berputar segar didepan mata, rasa nasi padang secara keseluruhan sudah berkurang. Hanya gara-gara nasi. Lalu ingat kedai nasi padang di dalam kantor. Sekali makan disana “uenak tenan” lha makan kesekian kalinya saya diberi nasi masih terbilang kurang “tanak” – sehingga lagi-lagi terpaksa mengucap dadah kepada penjualnya.

Ingatan meloncat lagi sebuah rumah makan di ujung jalan kantor. Bertahun-tahun makan disana, mereka selalu kampiun dalam menyediakan nasi. Kebetulan masakannya sedap dengan harga kaki lima sepakat dengan nama jalannya Ampera.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s