Posted in tenaga asing

Urung Kerja Gara-gara Bahasa


chua_balikpapanSoal mendatangkan tenaga kerja asing, sudah bukan barang baru bagi perusahaan kami. Rasanya ada muncul kebanggaan “semu” mempunyai anak buah warga asing dari Amerika sampai Asia.Yang Asia macam Philipine atau Malaysia tetap memanggil dengan “Pak”

Tentu yang dimaksud adalah tenaga asing yang legal. Para pekerja di departemen kami amat piawai soal mengurusi pernik-pernik ketenagaan asing sehingga cukup dengan sepucuk surat elektronik dari saya umumnya semua berakhir beres. Data seperti passport, jaminan kesehatan, ijazah dikirim melalui burung “pdf” atau “jpg.”

Justru seperti peribahasa yang kami dengungkan di dunia perminyakan adalah “selalu bersiap menghadapai ketidak siapan..

Alkisah sekitar 6 bulan lalu kami sudah bersiap-siap mendatangkan ahli yang “kebetulan” orang Singapura. Sekalipun demikian saya selalu saja berkoordinasi dengan pihak formalitis yang memang tugasnya mengurus perijinan. Mereka ini sebetulnya konsultan, tetapi ditanam dalam kantor kami khusus mengurusi masalah visa, pasport dan banyak lagi. Untuk keperluan tiket didalam kantor tak jauh dari meja saya sudah ada dua perempuan dari perusahaan jasa tiket yang mjemang ditanam dikantor kami.

Enam bulan cukup lama untuk sebuah urusan sehingga Visa kerjapun didapat oleh konsultan tersebut. Beberapa kali email saya dijawab mbak Rina dan Yeni dengan jawaban tegas “beres pak” – tinggal kalau tiba di Indonesia dia perlu sidik jari.

Maka bagaimana tidak sport jantung ketika sedang makan siang saya ditilpun yang mengatakan bahwa ahli saya sebut saja “Chua” tidak boleh bekerja di Balikpapan sebab menggunakan visa turis. Langsung Chua kami gelandang ke kantor kami padahal rencananya dari airport dia akan langsung diterbangkan dengan helikopter ke lokasi pengeboran. Pasalnya Imigrasi mengancam akan membekuknya ke penjara kalau sampai dia bekerja di rig. Tentu kami tidak akan melakukan perbuatan tercela tersebut.

Neg...Makan siang saya di Jakarta langsung terganggu.

Berita selanjutnya Chua harus kembali pada keesokan harinya. Bagaimanapun rencana harus diubah. Berapa kerugian sudah harus saya tanggung.
Beruntung di mobil selalu ada tas kecil berisikan pakaian. Siang itu juga saya tanpa pulang kerumah saya terbang ke Balikpapan. Ini berarti ada pihak keluarga, kerabat yang terpaksa membatalkan rencananya dengan saya. Apa boleh buat. Di airport, saya sadar kelupaan bawa Frequent Flyer. Masalahnya cuma bikin kantong tebal tetapi duit tipis.

Dalam urutan mendapatkan ijin kerja tenaga asing, mula-mula kami harus menyampaikan permohonan ke instansi terkait. Bila permohonan diterima, pihak kami mengirimkan telex atau fax ke kedubes tempat pemohon dalam hal ini Singapura.

Sampai disini, tugas Chua adalah mendatangi kedubes Indonesia di Singapura, mendapatkan stempel pada passportnya dan di Indonesia dia hanya perlu diambil sidik jari dan diberi surat keterangan jalan.

Ternyata ia tidak melakukannya.

Chua bukan tidak tahu. Yang menjadi persoalan, kalimat dalam telex yang dikirimkan kepada pria yang hanya menguasai Mandarin dan Inggris ini tersebut berisikan 100% tata bahasa Indonesia. Sebagai orang Singapura berdarah Cina, lelaki perokok yang mirip Jacky Chan edisi bajakan ini lalu menanyakan apa maksud surat yang ia terima dari Indonesia.

Celakanya para cewek Singapura baik Angela, Julie atau NurAzizah ataupun perempuan yang „cakap Malay” lainnya – menerjemakan bunyi surat yang isinya permohonan anda diterima dan harap melapor ke kedubes Singapura, sebagai „everything is accepted..no problem..”You can go work in Indonesia.

Apalagi selalu ada alasan masih enam bulan lagi baru ke Indonesia, mungkin ya mungkin tidak. Mengapa harus terburu-buru. Dan
akhirnya peristiwa terlupakan.

Chua bukan pertama kali ini datang ke Indonesia. Juga jam terbang bekerja diseluruh penjuru negeri ia lakoni. Tetapi berhadapan dengan peraturan kita. Ia seperti orang baru pertama kali terdampar dinegeri asing.

Akhirnya operasi kami tersendat. Ternyata rutinitas kerja, apalagi kalau masuk zone haqul yakin sering membuat kita lengah. Justru kita terperosok kemasalah yang sepintas kecil. Tapi ada baiknya kalau surat menyurat kita juga dilampiri bahasa Inggris agar tidak menimbulkan perbedaan pendapat.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Urung Kerja Gara-gara Bahasa

  1. Pak,

    Jadi inget peristiwa itu….. Mungkin kesalahan bukan hanya dari pihak Chua tapi dari pihak staff di Indonesia dan Singapore juga yang tidak memberi tahu secara detail mengenai proses Visa Kerja di indonesia. Kalau boleh dibilang, Indonesia adalah salah sasatu negara yang paling sulit ijin bekerjanya mulai dari Dirjen Migas sampai unit yang terkecil yaitu kelurahan. Inilah yang mebuat Expat yang belum pernah bekerja di Indonesia merasa kebingungan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s