Posted in pramuka

Pramuka itu ternyata….


Di lantai empat tempat saya menginap dan beristana asap, tombol pesan lift saya pencet. Tidak lama kemudian ada suara mendengung, lampu menunjukkan stasiun perjalanan lift dan disertai sedikit suara gemuruh pintu lift terbuka.

Ternyata ada seorang pria tegap berseragam pramuka. Melihat kedua tangan saya penuh jinjingan, ia menekan tombol buka cukup lama dan mempersilahkan saya gedabigan (sibuk-jawa) menarik kopor gemuk dan menjinjing laptop tambun agar bisa masuk.

Setelah mengucapkan terimakasih saya lihat di dadanya ada nama empat hurup pertama dengan akhiran “O” – yang menunjukkan dari Jawa.

Namun kilatan wajah serta badge yang dikenakannya lengkap tanda penghargaan lainnya membuat saya membaca bahwa pria ini bukan sembarangan.

Saya keluarkan jurus bicara singkat padat dalam lift. Empat lantai ke lobby waktunya sangat singkat untuk mengorek sebuah informasi. Sambil membayangkan wajah bang Berthold dari Suara Pembaruan yang memang dedengkot organisasi berlambang tunas kelapa tersebut saya buka percakapan dengan pointer redaktur Suara Pembaruan tersebut.

Ada acara apa pak berpakaian pramuka hari ini?,” tanya saya sambil mencoba membaca nama keduanya. Kurang jelas. Saya harus belajar ilmu membaca papan nama secara kilat.  Sekalipun terkesan nama seseorang yang saya kenal, yaitu nama ayah saya.

Rapim,” katanya singkat. Rapim adalah singkatan dari rapat (para) pimpinan. Istilah ini umumnya banyak dipakai dikalangan militer. Cleeeng panjang – ada dua manusia lain yang kerap menyebut istilah ini – Ibu almarhum dan yang kedua ibunya Tiara.

Lalu saya mencoba memancing soal pramuka dengan menjual nama sahabat Suara Pembaruan. Kesannya seperti kalau anda penggemar sinetron Fitri sedang terpukau oleh Meiska dan Faiz sedang tukar jurus kelicikan yang harus dicounter oleh Fitri sendirian. Tiba-tiba ada orang menyela menanyakan siapa nama pengarang buku Matematika untuk SD tahun 2001. Selain nggak ngaruh – buku SD tiap tahun dikarang oleh penulis berbeda.

Nampaknya nama yang saya sebut tidak menimbulkan “kring” sehingga hanya perlu diresponse dengan tersenyum saja memperlihatkan deretan gigi yang putih.

Lalu kami berdua masuk kedalam ruang makan, memang sudah banyak “pramuka” – namun yang mengherankan saat “teman baru” saya ini masuk ruangan semua berdiri dan memberikan hormat lalu duduk kembali setelah diberi isyarat. Dan belum ada satupun yang menyentuh atau mengambil makanan

Ada yang tidak beres, pikir saya, sebab cara memberikan hormat orang sipil yang belajar “kasih hormat” akan berbeda kelenturan tarikan ototnya dengan pelaku yang pekerjaan memberikan salut adalah garis hidupnya.

Apalagi diujung sana ada ibu-ibu berpakaian Pramuka dan nampak sekali ada perbedaan dalam berbicara. Ini tipikal sekali, ibu pemimpin berbicara ngalor ngidul, selalu dilayani sementara yang lain hanya haheh dan modal senyum serta anggukan.

Setelah sarapan pagi, didepan telah menunggu mobil berwarna hitam dengan supir yang menghormat bukan ala pramuka. Para para sekuriti hotel ikut membentuk semacam pagar betis.

Sampai akhirnya pagi-pagi wajahnya tampil pada sebuah koran lokal yang masuk melalui celah pintu distaples secuil kertas “voucher sarapan pagi untuk satu orang..”

Saya baca harian Tribun Kaltim, mata saya terpana pada foto seorang pria berpakaian pramuka sedang mengenakan topi kepada anggota pramuka cilik pada hari Selasa 17 Feb 2009. Keterangan foto menyebutkan “Menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 mendatang, Kodam VI TanjungPura akan menerjunkan 3400 pasukan TNI untuk membantu pengamanan.”

“Kami tekankan kembali netralitas TNI dalam Pemilu mendatang.”

Rupanya rapat pimpinan antara para Danden sampai Dandim di Kalimantan Timur dibuka dengan cara tidak biasa dikalangan militer yaitu mengenakan baju Pramuka.

Ada dua malam saya selalu bertemu dengan para Dandim dan Danrem entah saat sarapan, entah saat makan akan malam. Tidak pernah kami bertegur sapa, cuma saling tukar tatap sekilas. Siapalah aku ini ingin memperkenalkan diri, nanti dikira cari proyek.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s