Posted in Uncategorized

Mungkin akal-akalan pihak kartukredit


Kartu Kredit saya sudah tiga kali repelita usia keanggotaannya. Tidak pernah bermasalah. Paling saya harus berenang-renang ketepian agar tidak tenggelam oleh tumpukan hutang. Jujur saja kartu ini kadang menyebalkan namun kadang jadi malaikat kalau kita kepentok kebutuhan uang saat melakukan perjalanan.

Belakangan saya dihubungi oleh petugas kartu kredit yang sama. “Hutang bapak akan kami pindahkan sebesar X rupiah sebagai cicilan“.

Saya bilang tidak tertarik. Lain kali dengan suara yang sama mirip presenter teman Thukul, hanya lidah yang ini lebih kental dan pekat sehingga kadang saya tidak mengerti maksud ucapannya tetap mebujuk saya, bahkan iming-imingnya kali ini “kalau bapak bisa menunjukkan NPWP maka cicilan bapak akan dipindah bukukan 300persen dari tawaran semula.”

Merasa ditantang NPWP saya keluarkan kartu tersebut dari dompet dan langsung masuk mesin fax. Tentunya setelah diberi nama alamat yang dituju.

Dua hari kemudian, pemilik suara yang sama mengkonfirmasi bahwa kartu saya sedang diproses. “Tetapi kalau bisa menunjukkan NPWP akan kami naikkan menjadi 300%.”

Terang saja saya kaget dan mengatakan sudah kirim fax, dan bisa menunjukkan konfirmasi fax sudah diterima. Perempuan ini enteng berkelit “mungkin fax bapak sedang error.”  – Dia tidak sadar bahwa mesin fax di kantor adalah salah satu ujung tombak nafkah kami. Mulai dari pekerjaan menerima undangan lelang, mengirimkan naskah lelang yang diminta panitia lelang. Dan mesin ini tidak boleh mati ataupun rusak sedetikpun.

Tapi untuk memperpendek urusan, saya kirim Fax sekali lagi. Cuma kali ini sekretaris yang saya minta mengirimkannya.

Keesokan harinya, lagi-lagi dia berkilah tidak menerima fax. Saya jadi jengkel.  Dan saya coba kirim ulang. Pada cover fax saya tulis alamat dan keterangan bahwa ini adalah fax ke sekian kali yang saya kirimkan. Bahkan saya kirim berturut-turut enam kali sebelum menghubungi call centre kartu kredit tersebut dan menceritakan duduk perkaranya.

Tidak berapa lama kemudian, kartu cicilan sudah saya terima.

Waktu saya cek, janji 300% hanya angin kosong belaka. Yang jelas saya sudah harus dikenakan uang anggota.

Tentu saja, kejadian ini saya ceritakan kepada anggota keluarga saya. Dan betul saja, mereka pernah dihubungi oleh suara dengan logat kental yang seperti pernah saya ceritakan. Kali ini dengan kebohongan kecil “aplikasi anda sudah kami proses…

Hanya kali ini trik nakal sudah tidak manjur sebab semua sepakat mengatakan “tidak” apapun alasannya. Dan sayapun tidak berselera untuk ikut mempromosikannya.

Terus terang sejatinya saya tidak perlu-perlu amat akan pelayanan ini.

Namun seorang kerabat yang bekerja pada perusahaan serupa menceritakan betapa susahnya mencari pelanggan sehingga menghalalkan jual beli bank data pelanggan kartu kredit satu kepada yang lain. Mengubah buku rekening (istilah mereka dibawa ke bengkel) agar nampak segar dan tambun. Semua dilakukan demi sesuap nasi. Tak heran anda sering heran bagaimana data anda bisa diketahui oleh banyak pihak secara akurat.

Hidup semangkin sukar, pengangguran semangkin banyak, terkadang menggoda beberapa pihak menghalalkan segala cara.

Advertisements
Posted in blackberry

Blackberry – antara Benci dan Cinta


Ciri khas hape blackberry yang dikenal adalah hampir semua kontrol dilakukan dari roller ball. Disamping bentuknya yang tidak kenes. Tak heran para penjual HP di kawasan Roxy Mas selalu membujuk saya dengan “kalau seumuran bapak memang sebaiknya hp ceper ini..” – ini bahasa lain dari “blackberry cocok untuk orang tua.”

Lantaran merasa sudah tua dan dibujuk terus menerus, apalagi dasarnya saya lemah iman terhadap godaan benda pipih tetapi lebar dan hitam ini. Jadilah aku merogoh kocek untuk membeli barang yang dari bungkusnya saja sudah tidak artistik sama sekali kecuali didominasi warna hitam.

Sebetulnya kalau minta dari kantor sih (mungkin) bisa. Namun melihat gelagat setiap pengeluaran dijadikan Komoditas Isue perampingan anggaran, maka saya memilih menyampingkan option tersebut.

Segera mesin saya bawa ke salah satu bagian kota dengan gedung asri di kawasan Kuningan. Saya daftarkan ala pre-paid. Biayanya Lima ribu rupiah per hari. Selang lima menit e-mail Yahoo, Gmail sudah didorong kedalam kotak ceper. FaceBook sudah seperti bersenyawa dengan mesin dari RIM ini.

Namun Yahoo Messenger di tolak kehadirannya dengan alasan melanggar Policy IT untuk mendownload software dari pihak luar. Lalu saya mencoba mentransfer Address Book dari Nokia ke BB – tidak berjalan mulus sebab anda harus bermain copy and paste. Mengaktipkan Bluetooth untuk transfer address juga gagal.

Setelah ada beberapa hari mengenal system perkakas tersebut, saya mulai merambah mem-push email kantor yang bekerja berdasarkan microsoft exchange. Bukan pekerjaan gampang sebab saya harus menandatangani pernyataan tidak menggunakan peralatan ini untuk beremail dengan negara yang diemohi oleh AS.  Dan harus mendapatkan persetujuan dari petinggi IT di Houston sampai Dubai.

Berapa kali mesin saya re-format (wipe out). Namun saat melakukan Aktivasi Enterprise saya selalu gagal. Akhirnya dapat informasi dari IT kantorku bahwa kartu prabayarku tidak mendukung Corporate Email. Kalau sudah begini saya berpaling ke para CSO. Herannya saya terkesan akan pertanyaan para CSO mengapa saya tidak berpuas diri ” dengan Gmail atau Yahoo.”Padahal saya sudah “omong” bahwa kepemilikan BB adalah untuk membantu pekerjaan saya yang tidak mengenal libur ataupun malam hari.

Lagian kalau cuma push-mail semacam itu sudah disikat oleh pihak “SEVEN” yang mampu menyulap GSM menjadi BlackBerry.

Sekalipun rasa berat, langganan BB dengan provider ini saya putus.

Lalu setelah merelease PIN dan IMEI pada BB agar bisa dipakai oleh provider lain, saya mendaftarkan diri kartu yang ditanggung oleh kantor ini kesebuah kawasan di Gatot Subroto.

Berkali-kali CSO bertubuh tinggi semampai ini menuliskan data saya sebagai pelanggan BIS artinya BlackBerry Internet Services, sementara saya tidak berkenan.Saya keukuh minta pelayanan BES (BlackBerry Enterprise Server). BIS hanya mendukung sistem dengan POP3 sampai IMAP sementara BES sudah mendukung Microsoft Exchanger. Begitu kesan yang saya dapat. Lho kok jadi ribet begini.

CSO sedikit melihatkan kegusaran dengan menulis BES (Blackberry Enterprise Services) secara besar-besar di formulir pendaftaran saya. Tetapi fotocopy yang diberikan kepada saya tetap saja keukeuh petunjuk menggunakan layanan BIS. O alah…

Urusan dengan CSO sudah beres. Saya diminta sabar menunggu 24 jam sebelum BB diaktipkan.

Saat menilpun pengemudi untuk mengambil saya di lobby, ternyata nomor HPnya tidak bisa dihubungi. Satpam melihat saya sudah setengah jam berdiri di lobby lalu mendekati saya dan berbisik “Selain nomor provider ini, maka nomor provider lain diacak pak.” – Lalu saya menggunakan jasa “car call” untuk memanggil supir yang setelah dikonfirmasi memang saat parkir HPnya menunjukkan “emergency call.” – Saya harus mengingatnya baik-baik agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Ternyata usaha ke dua inipun tidak berhasil setidaknya sampai sekarang.

Padahal tidak kurang dua IT di kantor, termasuk seorang Kepala Rumah Tangga yang memang biasa berhubungan dengan pihak provider sudah ikut membantu saya.

Sekarang saya kembali menimang Nokia (harus saya sebutkan dong mereknya), karena dengan alat ini toh basik keperluan saya ber Yahoo sudah bisa dipenuhi.

Paman Berry, ternyata anda baru dekat dimata, jauh di email.

Posted in Uncategorized

Sekali ini saja… minta dispensasi.. menghidupkan listrik


Sekali tempo saya kedatangan seorang dengan klasifikasi ahli komputer. Melihat printer di rumah masih menyala sekalipun tidak dipakai, dia lantas berseru bahwa tantangan tersulit dari perusahaannya adalah membuat tombol “ON” meredup tatkala peralatan tidak diaktipkan untuk beberapa lama.

Ternyata hanya untuk menghemat daya listrik yang bagi sementara kita “cuma kecil,” diperlukan usaha dan biaya riset yang besar.

Belakangan diperusahaan saya manakala komputer tidak dipakai untuk beberapa lama, secara otomatis screen server diubah menjadi off. Jadi tidak ada lagi tayangan gambar atau apa saja di layar monitor.

Hari Sabtu 28/3 saya berada di rumah kerabat yang getol menggunjingkan pemanasan global, kerakusan umat manusia memboroskan energi fossil. Bahkan anggota keluarga mengenakan kaos berthema “hemat energy..”

Namun anehnya manakala pada jam 20:30 diusulkan untuk mematikan lampu barang satu jam, keluarlah dalil pembenaran dari mulut mereka, pertama takut ikan di akuarium akan gelagapan lantaran kehabisan oksigen, kedua filem serial kesayangannya di TV bakalan tidak bisa diikuti.

Akhirnya keluar kata sakti “kali ini kita minta dispensasi tidak ikutan matikan lampu, lain kalau (mungkin) bisa..

Ternyata bicara masih lebih gampang ketimbang menjalankannya.

Posted in stress

Caleg Luput Di Contreng


Kalau para Opa dan Oma didikan Belanda jaman tahun Jebot saat berada di rumah dengan berpakaian piyama yang terbuat dari bahan katun dengan warna lembut, maka Opa Mimbar (aku) belakangan ini menggunakan baju santai berjudul “Caleg Stress.”

Cara mengenakannya tentu sangat sederhana. Begitu pulang dari kantor perlahan baju luar ditanggalkan tinggal CD dan Singlet. Ditambah perawakan saya yang gemuk dan perut membunting maka kalau saya jalan-jalan hilir mudik dalam rumah, istri saya langsung komentar “seperti Caleg Stress kalah dalam coblosan..” – tentunya zonder lari-lari dihalaman sambil diikuti sanak keluarga dan masuk liputan media.

Apa sih pantes saya di rumah berpakaian demikian. Hawa Pondok Gede belakangan ini semangkin gerah, maka “Hing atau Crocodile, GT atau Swan atau Dua Cabe” sudah cukup nyaman. Apalagi di rumah kami hanya berdua, dengan pagar tertutup rapat sehingga bebas mau melakukan apa saja.

Hanya kalau ada bel berbunyi, saya panik (gedabigan) buru-buru cari pakaian “Mudlogger Ambil Gaji.” Sebuah model baju ala safari yang kantongnya banyak tetapi isinya sedikit.

Dulu waktu masih menjadi anak kos-kosan saya adalah kaum sarungan. Keberatanku akan sarung sekalipun menawarkan rasa “full isis” (isis=adem) namun bahannya terlalu lebar dan umumnya hanya bertahan sehari. Kalau nekad juga dipertahankan dipakai terus baunya perlahan tengik dan akhirnya “prengus.”

Kalau setiap hari mencuci sarung, bisa bangkrut kantong anak kos. Apalagi ibu kos saya saat itu seorang janda dengan pendengaran berkurang banyak namun indera penciuman meningkat kepekaannya. Barang tiga hari sarung cuma diangin-anginkan, cuping hidungnya akan bergerak seperti icon TV sedang mencari gelombang pemancar. Lalu kebiasaan tersebut terbawa sampai sekarang.

Mohon maaf, sekalian cerewet kadang banyak juga kaum ibu-ibu yang menggunakan penutup kepala. Sayangnya beberapa tidak memperhatikan kebersihan tidak jarang kalau saya berada dibelakang mereka mereka atau kebetulan berpapasan sering tercium aroma mirip topi baret ayah saya yang lama dipakai (tapi jarang dicuci). Sekali tempo, begitu masuk rumah hape sudah meraung. Keasikan menjawab tilpun sambil mulai melolosi kancing baju satu persatu, saya baru sadar kalau dirumah ada seorang ibu muda sedang bertamu.

Untunglah baru baju yang melorot dan itupun buru-buru saya kancingkan kembali. Kalau ada keponakan saya pasti dituding Porno Aksi.

Tapi pasca pemilu Caleg nanti, pakaian model saya akan banyak yang menggunakannya lho. Maklum duit sudah dihamburkan, harapan kembali modal kalau dicontreng, ternyata malah di silang.

Posted in mudlogger, mudlogging

Barang Consumables (dipakai habis) dalam usaha mudlogging


Aneka Rupa Kantong Sample
Aneka Rupa Kantong Sample

Kepingin tahu hiruk pikuk barang mudlogging? saya ambilkan contohnya sebagian kecil saja. Salah satunya adalah menyediakan tabung besar dan kecil yang dinamakan campuran gas untuk kalibrasi. Gas dalam tabung aluminium ini bukan kami bikin sendiri melainkan pesan dari pabrik seperti CALGAZ dalam hal ini. Lalu di bagian depan akan nampak kotak kuning yang berisikan ampul isi gas kalibrasi untuk peralatan deteksi H2S.

Kalau melihat barangnya sepele, namun pengalaman saya puluhan tahun menggeluti bidang ini masih juga mengalami stres-caleg ketika harus menyediakan barang tersebut untuk keperluan mudlogging.

Pertama adalah mencari supplier. Kalau supplier sudah ketemu, mereka harus didaftarkan kedalam daftar rekanan.

Banyak para supplier kita yang bekerja dari rumah (home made) sekalipun berpengalaman namun umumnya gagap teknologi digital sehingga kalau ditanya email address, mereka buru-buru menunjuk email anaknya yang sudah barang tentu berbau kekanak-kanakan.  Atau kalau ditanya NPWP mereka tersipu-sipu alias (tidak punya). Keruan saja saya tidak bisa meloloskan mereka menjadi supplier.

Sekarang supplier sudah dapat, ketika mengorder barang harusnya saya menjadi raja tinggal tuding sana tuding sini. Kenyataannya tidak demikian, saya menjadi mirip supplier dalam arti mengumpulkan data, mencari contoh dari mudlogging terdahulu, mencari toko yang menjual bahan mentahnya. Kalau ini sudah kelar, baru supplier ditilpun untuk meneruskan transaksi mereka.

Barang sudah kelar, ketika dikirim ke gudang rata-rata para supplier tidak mau melakukan pengepakan dengan baik.

Kalau kirim botol plastik ya sembarangan masuk kantong plastik lalu dilempar ke container kami tanpa label sedikitpun. Celakanya pihak gudangpun tidak diberi tahu apa isi barang yang didelivery mereka. Akhirnya saya harus keluar biaya tambahan untuk melakukan packing ulang.

Kendati sudah cuci tangan, kami dianjurkan mengoles kedua lengan dengan lotion ini sebab fungsinya pelindung dari gata-gatal bilamana bersentuhan dengan bahan kimia
Kendati sudah cuci tangan, kami dianjurkan mengoles kedua lengan dengan lotion ini sebab fungsinya pelindung dari gata-gatal bilamana bersentuhan dengan bahan kimia
alat gabungan, kami potret sehingga mudah mengidentifikasikannya
alat gabungan, kami potret sehingga mudah mengidentifikasikannya
Filter ini dipasang di mulut "suntikan" tujuannya menyaring kotoran agar tidak masuk kedalam peralatan gas kami yang sangat halus.
Filter ini dipasang di mulut "suntikan" tujuannya menyaring kotoran agar tidak masuk kedalam peralatan gas kami yang sangat halus.
Yang ini sebagai sensor mengukur kecepatan gerak pompa yang nantinay dikonversikan ke debit (laju alir) pompa dalam memompakan lumpur kedalam lubang bor
Yang ini sebagai sensor mengukur kecepatan gerak pompa yang nantinay dikonversikan ke debit (laju alir) pompa dalam memompakan lumpur kedalam lubang bor
Alat yang bekerja dengan sistem suara mirip kelelawar ini kami gunakan untuk menentukan ketinggian permukaan air atau lumpur atau minyak dalam tangki. Jadi tidak perlu saban jam melongok isi tangki.
Alat yang bekerja dengan sistem suara mirip kelelawar ini kami gunakan untuk menentukan ketinggian permukaan air atau lumpur atau minyak dalam tangki. Jadi tidak perlu saban jam melongok isi tangki.
calibration gas mud logging
calibration gas mud logging
Alluminum Bags ukuran 18-1/2cm x 13-1/2cm
Alluminum Bags ukuran 18-1/2cm x 13-1/2cm
Rock Color Chart GSA
Rock Color Chart GSA
Posted in rokok

Siapa Bisa Menjepit Asap


Ruang untuk para perokok di kantor kami
Ruang untuk para perokok di kantor kami

Saya berusia sekitar 8 atau sembilan tahun ketika berkenalan dengan asap rokok. Pertama sih disuruh menjual rokok pembagian kantor “putih” – produksi BAT van Cirebon.Ini bicara tahun 1960-an lho. Ketika republik tak henti-hentinya diguncang oleh kelompok yang memang dari dulu kepingin republik ini difederalkan, dipecah-pecah. Hubungannya apa? – pihak bersenjata harus melakukan operasi ke gunung ikut, ke rawa katut.  Dalam operasi ini sering dibagikan rokok.  Bagi yang tidak suka dengan asap, sebaiknya bal-balan rokok tadi dilipat dalam dompet tentara yang dari dulu amat banyak sakunya namun sedikit isinya. Saya salah satu yang katut menjadi anak Mobrig kemudian Brigmob akhirnya Brimob.

Sebagai manusia cilik, diperkenalkan oleh mahluk yang oleh penyair Taufiq Ismail “Tuhan Duabelas Centimeter” – apalagi penciuman saya lumayan sensitif, tak heran selain suka akan bau bensin, minyak tanah, dulu bau solar juga sepertinya harum, hasanah hidung saya bertambah dengan bau harumnya tembakau, sekalipun ayah, ibu tidak ada yang merokok. Sambil menimang rokok slop-slopan, kadang saya menciumi tubuh bagian luar rokok ini, baunya seperti menerbitkan selera. Lalu mulai rasa ingin tahu bagaimana sih rasanya merokok.

Dari beberapa slop yang kami terima, ada diantaranya yang sudah apek. Warung rokokpun menolak.  Sehingga daripada dibuang, saya memberanikan diri merokok. Tentunya rasanya tidak enak, pusing-pusing dan batuk-batuk. Teman-teman lalu bilang “kalau rokoknya segar, rasanya tentu nyaman..”

Sayapun ikutan nasehat teman. Kalau ada tamu datang meninggalkan rokok, saya mengambil sebatang dan dibelakang rumah mencoba menghisap rokok “baru” yang harusnya nyaman. Namun kejadian yang sama terulang lagi. Saya batuk-batuk, pusing beberapa saat.

Sahabat saya menasehati. “Itu karena belum terbiasa..” nanti kalau sering berlatih merokok akan dapat nikmatnya.

Sampai akhirnya sayapun menjadi perokok berat.

Menjelang tua, apalagi sering ada peringatan bahaya merokok sayapun mencoba menghilangkan kebiasan ini. Tidak gampang. Namun Akhirnya bisa. Jaman dulu perokok dan tidak merokok berdiri sama tegak. Namun sekarang perokok mulai dikucilkan.

Diganjal asbak
Diganjal asbak

Salah satu diskriminasi ada di kantor saya. Para perokok ditaruh dipojokan dalam kamar tertutup. Tapi wong kamarnya kecil, kalau empat orang merokok sudah pasti ruangan jadi sesak. Agar asap tidak terlalu pekat, teman perokok mulai membuka pintu sedikit. Caranya dengan diganjal asbak duduk yang terbuat dari stainless steel. Tak heran asap rokok yang ramping mulai melepaskan diri disela pintu yang terbuka dan kadang saya berfikir, untuk apa dibuatkan kamar asap kalau pintunya dibuka.

Posted in Uncategorized

Suatu Hari di RS Mata Aini


rumah_sakit_ainiTak disangka kacamata baca yang sudah setahun saya pakai mulai kelihatan tanda ketuaannya. Lapisan coatingnya mulai tergores. Kok kebetulan gara-gara sering mendatangi client yang berlokasi sekitar Kuningan saya sering kepentok tulisan RS Aini. Tanpa persiapan apa-apa saya membelokkan kendaraan ke halaman parkir RS.

Pertama tentunya harus mengisi formulir. Tidak banyak data yang diisikan, cuma kertas seukuran kartupos. Hanya jangan sampai lupa mengisi misalnya “agama” – anda akan dipanggil oleh petugas dan dia akan mbegegek (bersikeras) kepada anda untuk mengisikan kolom yang sebetulnya kurang berkaitan dengan masalah mata. Mumpung masih sistem contreng, kenapa kolom ini tidak dicetak terlebih dahulu lalu pendaftar tinggal melingkari jawaban yang benar.

Tentu ada beda misalnya cara pengisian formulir kesehatan di luar negeri yang menitik beratkan kepada riwayat kesehatan pasien.

Selesai mendaftar saya harus membayar biaya periksa sebelum dipersilahkan menunggu di depan kamar refraksi.

Hanya menunggu sekitar sepuluh menit- pintu terbuka dan seorang perawat menunjukkanb suatu mesin.

Begitu dagu ditaruh, layar teropong memunculkan gambar mirip balon gas berwarna. Lho kok seperti iklan Adobe Acrobat.

Dari melihat tontonan balon gas, saya pindah ke alat lain. Hampir mirip, namun yang keluar bukan balon melainkan tiupan angin cukup keras yang mengagetkan sekalipun saya sudah diberi tahu sebelumnya. Ini to bedanya RS spesialis mata dengan pemeriksaan di toko kacamata biasa seperti yang selama ini saya lakukan. Kursi ketiga saya duduki adalah mencoba lensa dari yang mulai mbelereng (samar, rabun) sampai ke yang lensa yang dioptrinya kuat. Beberapa kali hurup “s” kecil mulai sulit saya lihat sampai bebrapa kali kombinasi lensa dilakukan.

Ketika saya mulai bisa membaca, perawat, berjalan mundur di depan saya sambil mengacungkan jari-jarinya.

Selesai berurusan dengan kamar refraksi saya sudah harus menunggu di ruang praktek dr. FS.

Ada keluhan apa pak?,” tanya dokter senior ini.

Keluhan sih tidak ada dok, cuma mau ganti kacamata!” – yang tidak saya utarakan kepada dokter adalah pasalnya asuransi kesehatan berakhir bulan Maret. Ketimbang hangus, tidak ada salahnya dimanfaatkan setahun sekali ganti kacamata. Lalu dokter menyorotkan senter sambil melihat biji mata saya dengan teliti.

Oho, ternyata saya tidak sia-sia kemari, mata kanan saya terlukis -3.00 Sp, -0.50 Cyl dengan Axis 15 sementara mata kiri tertulis -3,00

Sementara rabun baca saya adalah +2,75 kanan dan kiri +2,75

Malu juga pada diriku berani klaim tidak ada keluhan. Dokter mata kok dilawan.