Posted in blackberry, handphone

Ketika mendadak harus menghitung mundur dari Sepuluh


Tumpukan monitor "jadul" berkonde menyiratkan bursa komputer bekas
Tumpukan monitor "jadul" berkonde menyiratkan bursa komputer bekas

Tentu bukan lantaran ikutan seorang ibu memperingatkan anak balitanya yang kelewat demen bermain pancuran dispenser air minum sambil menirukan iklan “Sewkarang Sumber Ayer So Dekaat” – lalu cuuur air dingin diisikan, zonder diminum – ambil gelas baru, lalu cuur air diiskan lagi. Lha air minum galonan sekarang sudah tidak murah lagi cucuku.

Hitungan mundur ini saya lakukan ketika saya mengklik handphone New Message (SMS), sampai muncul layar kosong siap mengisi pesan. Bisa-bisa pelanggan pada amblas semua dikira tilpun saya bermasalah.

Saran agar menghapus semua SMS yang masuk, terkirim, draft sudah saya lakukan. Menghapus foto, image juga hasilnya “sarwa keneh” alias sami mawon.

Hari Sabtu siang, selesai beli buku Cerita Anak Bengal-nya Haji Misbach Yusa Biran – yang saya kenal karena sama-sama tinggal di Grogol(dulu) dan saya pastikan pak Misbach dan Hj Nanny Wijaya tidak kenal saya, maka berangkatlah aku ke ITC Roxy Mas mencari pusat resmi HP untuk di bengkelkan. Di Roxy Mas saya punya kepentingan (bahasa caleg), yaitu menyetop langganan Broadband 3G Pasca Bayar yang baru aktip tiga hari.Baru berlangganan saja sudah bermasalah, bagaimana dengan kedepannya. Padahal biasanya saat pertama berlangganan semua lancar bancar, kedepannya babaliut senhgkarut.

Apalagi urusan pembayaran Pasca Bayar sekalipun pelayanan kacau, tetapi giliran menagih bisa rapi, terorganisasi dan tidak kenal kompropmi.

Di lantai atas sebuah roko mbak petugas Wulan  counter 11, menanyakan alasan saya menyetop langganan. Saya hanya menyerahkan Chip, CD dan tanda mendaftar yang saya lakukan minggu lalu di lapak depan warung makan saya.

Tadinya saya ingin bergurau “takut bahasa Inggris dan Indonesia semangkin lama semangkin kaco belio” menerjemahkan bahasa lain secara serampangan. Pakai bahasa sendiri secara sembrono.

wajah-itc-roxy-masSelesai urusan dengan biaya “meterai” saya. Dari Ruko kawasan Roxy Mas saya menyeberang  menuju gedung ITC Roxi Mas. Padahal sudah ada peringatan berupa pesan singkat dari istri mengatakan ada kompor meleduk alias mbledos di lantai 4 Roxi. Tetapi saya tidak melihat adanya kepanikan. Orang berjalan lalu lalang mirip kalau anda bermimpi atau mengalami sensasi OBE (rogoh sukmo) – yaitu melihat orang berlalu lalang disuatu tempat tetapi zonder berbicara.

Tetapi ala mak, panjang nian antrean di Customer Centre merek terkenal tersebut. Apalagi HP saya beli dari luar Indonesia, bakalan runyam nanti diperlakukan sama dengan BM – pasar gelap.

Sampailah saya mendarat di ruang tengah sambil di jawil – towel oleh para perempuan cantik menawarkan “boleh isi hape–isi hape, boleh ada ST12, ada Ungu, Wiji..”  Dengan perangkat komputer seadanya mereka melayani keinginan kita mengisi HP dengan nada dering apa saja. Kalau anda setuju, sebuah bangku plastik disongsongkan kepada anda.

Kepada gadis ST12 maksudku yang menawarkan nada dering ST12, saya iseng curhat  HP yang sekarang jadi lemot. Maaf  saudara-saudara bahasa lemot ini saya peroleh dari SPG dicounter HP terkenal di mall Ciputra. Jadi bukan pengaruh Chip HP yang bikin scramble vocab saya.

boleh_isi-hpGadis nada dering kehilangan riangnya sambil memperlihatkan wajah pas untuk mimik orang yang tidak mengerti akan suatu topik pembicaraan. Tetapi dalam sekejap wajahnya sumringah lantas dia memanggil seorang lelaki sebut saja Hendi. Mendengar namanya dipanggil, Hendi yang sedang mengunyah sekeping kerupuk “maunya Tengiri Palembang” langsung menyerahkan sisa tiga keping kerupuk Palembang kepada sang Nada Dering, dan menuju komputer jadul bermonitor konde. Dia bilang saya hanya bisa membackup contact bapak yang nampaknya mendekati seribu alamat. SMS, gambar, inbox semua terhapus. Saya acckan semua persyaratannya.

Saat dia bekerja saya tebar suasana Studio Lapangannya. Sekelompok wanita berkulit bak lilin nampak menawarkan HP produk Cina yang disebuat Bisa GSM bisa CDMA, bisa nonton TV sekaligus.

Mungkin sekali anda akan melihatnya sebagai tumpukan disudut bursa jual beli monitor konde- yang bagi sebagian orang sudah dianggap “barang kadaluwarsa” – apalagi anda akan melihat helm motor, sarung tangan kulit(an), bekas air minum kemasan tergeletak disana.

Mudah-mudahan anda percaya bahwa foto ini saya ambil disalah satu pusat grosir hanphone sohor di Indonesia, bahkan dunia yaitu Roxy Mas. Bahkan kalau anda tahu tempatnya, pistol gas bercasing hape bisa ditemukan disini.

Sambil memformat Memory Card saya, ia berceloteh melayani cetak foto. Hanya dari contoh yang ada saya masih bisa bilang kualitas foto rata-rata diambil dari HP sehingga resolusinya rendah.

Sambil menunggu HP diformat, saya berjalan ke salah satu counter karena mengaku melayani BlackBerry bergaransi. Ditemui oleh Rudi. Beberapa menit kami berbicara dengan pemilik toko Gilang. “Sekarang untuk seumuran bapak pakainya Bold” – jarang pakai Jevlin. “Kita banyak jual itu barang, laku keras..Bapak bisa pakai Matrix atau Telkomsel tidak masalah, kami bisa aktipkan langsung.”

Saya simpan ludah saya melihat kotak yang tidak ada gambarnya kecuali warna hitam dan sedikit label negara asal pembuat seperti Mexico atau Hungaria. Harganya masih setara Motor Bebek atau sebuah Laptop.

Balik lagi ke lapak Hendi, dia sudah selesai dengan mengcopy balik contact saya. Voilla HP saya kembali normal. Tapi Hendi keburu menyerang “Indonesia belum punya lisensi Blackberry pak! kalau mereka bilang bergaransi, artinya garansi toko. Semua yang dijual disini adalah BM alias pasar gelap..” – Mungkin bapak masih ingat cerita Launching Iphone yang sebetulnya belum siap disini.  Astaga bocah ini selain makan nasi pasti memamah biak tabloid komputer tiga kali sehari. Dia hanya ingin menasihatkan “tunggu tanggal mainnya..

Tapi kalau soal “push mail” saya bisa pasangkan software bisa terima email dari Yaho, Gmail atau apa saja. Terima email 24jam tidak bayar. Kalau bapak kirim balasan, baru kena charge dari provider. Lho kok nyimut. Apa salahnya saya ikuti sarannya, dan dalam sebentar saja 60 email dari yahoo sudah saya kantongin. Rupanya dia mendownload dari situs Seven masih dalam rangka versi Beta. Pantesan gratis.

Begitu melihat senyum saya terkembang merekah. Dia menyerang lagi. “GPS yang di HP bapak cuma sekedar main-mainan.  Saya punya yang bisa menjelaskan detail sampai gang-gang di Jakarta” . Lalu dia menyebut merek dagang perusahaan Top Markotop dibidang GPS. Lalu dia mendemokan versi GPS “beneran.”  Untuk mengujinya dia bawa HP keluar Roxy Mas. Udara di luar masih mendung dengan Gerimis. Layar monitor perlahan muncul “penampakan” – ini gang Subur, ini gang Kober, Ini RS Taruma. Hanya di kawasan Bekasi, jalan Pendidikan saya selalu kalah mencorong dengan jalan “Kemesraan.”

Satrio yang dari semula diam saja ternyata ikutan kepincut dia minta pasangkan PDF distiller di HP-nya. Dan sebentar saja software sudah mengalir ke memory stik Satrio. Tak terasa sudah satu jam lebih saya duduk disini. Rasa haus mulai menyiksa, untung berseliweran penjuall minuman dalam gelas plastik (sudah gelas tapi plastik), mulai dari Teh Oepet, jus alpukat, jus jerus – tinggal comot. Hanya ketika isinya tuntas membuang sampah tidak semudah saat membeli minuman. Saya harus masuk ke resto ikan goreng wara laba yang kebetulan ada tong sampahnya. Bagi penganut “short cut” ada semacam legitimasi untuk lempar sampah dimana saja.

Lho kok mendadak Hendi  dipeluk seorang warga nampak asing dari belakang. Bahasa Indonesianya terpatah-patah menanyakan kapan ada waktu check laptopnya.  Ternyata Hendi juga melayani urusan bongkar pasang software.

Yang saya kadang kepingin malu. Mereka memanfaatkan teknologi jadul, dengan peralatan seadanya tetapi mampu memberikan pelayanan yang prima. Sementara kita selalu mau laptop atau paling mutakhir, volume hardisk sebesar samudra. Cuma buat email dan main Soliter.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Ketika mendadak harus menghitung mundur dari Sepuluh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s