Posted in pelamar, pelayanan

Indahnya berurusan dengan Polisi


Benda seukuran kartu kredit menyiratkan usia lima kalender telah berganti. Gambar wajah saya cuma samar, begitupun tulisan dalam kartu tersebut. Yang masih jelas adalah bagaimana usaha mendapatkan selembar kartu plastik ini lima tahun lalu.

Terbayang suasana kawasan Jakarta Barat saat kita disambut ramah oleh aparat berpakaian seragam bertajuk “ada yang bisa kita tolong Pak!.”Lalu kita coba melakukan negosiasi sambil bisik-bisik. Pertanyaan yang klise adalah apakah benda sudah kadaluwarsa, atau alamat dalam kartu sama dengan alamat KTP. Kalau semua sudah sepakat, tinggal mengikuti instruksi mereka sambil memasuki ruang perpanjangan atau pembuatan SIM.

Cara memasuki ruangan yang harus tertib antre, tidak boleh mengenakan sandal sebab orang berbudaya (mudah-mudahan jujur) tidak boleh sandalan dan harus berpakaian rapi. Di beberapa BUMN mengandung minyak malahan menyarankan pakai dasi apalagi jas serta mengharamkan celana “kuli tambang” alias Jean dipakai. Tidak perduli muasal industri minyakbumi  tak lepas dari kebudayaan menggunakan celana denim. Kita memang terlanjur ahli melarang, memfatwa dalam segala hal tanpa melihat sisi sejarah.

Jreng… begitu memasuki ruangan. Perlahan suasana berubah. Kosmetika berpakaian rapi langsung luntur seketika oleh strategi dan permainan para petugas urusan SIM atau STNK yang secara halus atau setengah halus mulai menekan para pelamar.

Tentu bukan pemandangan aneh kita melihat sekelompok manusia sipil bisa bebas keluar masuk ruangan dan menyapa dengan akrap nama masing-masing petugas. Kadang terdengar bentakan maupun ketus petugas karena mengulang-ulang jawaban atas pertanyaan yang sama.

Paling parah di ruang ujian SIM. Anda bisa mendengarkan kata-kata berbau teror sampai kadang-kadang kami bertanya : kami ini nasabah atau calon prajurit yang sedang dipelonco.

Anak saya semula di gadang-gadang jadi salah satu aparat, langsung balik kanan begitu melihat kejadian secara real time sekalipun menjadi aparatpun belum tentu lulus.

Namun beberapa teman meyakinkan saya bahwa “hari gini, jaman itu sudah berlalu..” – mereka menunjuk sebuah mal di kawasan Kelapa Gading. “Ada ruko disana, petugasnya ramah, tidak ada uang semir..” – Oala saya sudah gebyah uyah – menyamaratakan ucapan teman seperti ucapan caleg saat pemilu atau para Jendral berbicara untuk konsumsi TV dan media cetak. Serba manis dan mengayomi.

Tetapi tidak ada salahnya mencoba. Pertama meluncur ke mal Pondok Indah setelah mendengar informasi “katanya” disana ada pos SIM keliling mangkal di mal. Lha rak tenan, setengah berlari saya dari Padang Mal I ke Padang Mal II di tengah gurun pasir bernama AirCon.

Para satpam, pengemudi di halaman PI I dan PI II semua tertawa penuh arti, yang lebih keras malahan bilang “Mobil SIM keliling cuma pameran aja Pak!” – Sial bener.

Lalu ada pesan singkat masuk, menurut Radio Swasta ini hari sistem computer pada Mobil SIM sedang ngadat. Coba cari kantor SAMSAT di Mal Artha Gading lantai 1.

Buru-buru saya meluncur kesana. Sayang jam 12:30 kantor tersebut kok tutup.

Saya nekad masuk kok aneh tidak ada bentakan lantaran saya masuk ruang yang sudah dinyatakan tertutup. “Kami istirahat sampai jam 13:00” – kata seorang polwan dan polki (polisi lelaki) – ramah.

Mendekati pukul 13:00 orang mulai berbaris sehingga memancing saya ikutan antrean. Giliran didepan loket ternyata saya antre diloket yang salah. Ini loket perpanjangan STNK. Entoh yang berperilaku seperti saya juga lumayan banyak.

Hanya membutuhkan waktu satu jam, SIM saya sudah diperpanjang sampai 4 Maret 2014. Hasilnya lebih jelas dan foto lebih mencorong ketimbang yang saya dapatkan lima tahun lalu. Kalau saja segala lini dinegeri ini bisa seperti yang saya alami. Alangkah indahnya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s