Posted in Uncategorized

Suatu Hari di RS Mata Aini


rumah_sakit_ainiTak disangka kacamata baca yang sudah setahun saya pakai mulai kelihatan tanda ketuaannya. Lapisan coatingnya mulai tergores. Kok kebetulan gara-gara sering mendatangi client yang berlokasi sekitar Kuningan saya sering kepentok tulisan RS Aini. Tanpa persiapan apa-apa saya membelokkan kendaraan ke halaman parkir RS.

Pertama tentunya harus mengisi formulir. Tidak banyak data yang diisikan, cuma kertas seukuran kartupos. Hanya jangan sampai lupa mengisi misalnya “agama” – anda akan dipanggil oleh petugas dan dia akan mbegegek (bersikeras) kepada anda untuk mengisikan kolom yang sebetulnya kurang berkaitan dengan masalah mata. Mumpung masih sistem contreng, kenapa kolom ini tidak dicetak terlebih dahulu lalu pendaftar tinggal melingkari jawaban yang benar.

Tentu ada beda misalnya cara pengisian formulir kesehatan di luar negeri yang menitik beratkan kepada riwayat kesehatan pasien.

Selesai mendaftar saya harus membayar biaya periksa sebelum dipersilahkan menunggu di depan kamar refraksi.

Hanya menunggu sekitar sepuluh menit- pintu terbuka dan seorang perawat menunjukkanb suatu mesin.

Begitu dagu ditaruh, layar teropong memunculkan gambar mirip balon gas berwarna. Lho kok seperti iklan Adobe Acrobat.

Dari melihat tontonan balon gas, saya pindah ke alat lain. Hampir mirip, namun yang keluar bukan balon melainkan tiupan angin cukup keras yang mengagetkan sekalipun saya sudah diberi tahu sebelumnya. Ini to bedanya RS spesialis mata dengan pemeriksaan di toko kacamata biasa seperti yang selama ini saya lakukan. Kursi ketiga saya duduki adalah mencoba lensa dari yang mulai mbelereng (samar, rabun) sampai ke yang lensa yang dioptrinya kuat. Beberapa kali hurup “s” kecil mulai sulit saya lihat sampai bebrapa kali kombinasi lensa dilakukan.

Ketika saya mulai bisa membaca, perawat, berjalan mundur di depan saya sambil mengacungkan jari-jarinya.

Selesai berurusan dengan kamar refraksi saya sudah harus menunggu di ruang praktek dr. FS.

Ada keluhan apa pak?,” tanya dokter senior ini.

Keluhan sih tidak ada dok, cuma mau ganti kacamata!” – yang tidak saya utarakan kepada dokter adalah pasalnya asuransi kesehatan berakhir bulan Maret. Ketimbang hangus, tidak ada salahnya dimanfaatkan setahun sekali ganti kacamata. Lalu dokter menyorotkan senter sambil melihat biji mata saya dengan teliti.

Oho, ternyata saya tidak sia-sia kemari, mata kanan saya terlukis -3.00 Sp, -0.50 Cyl dengan Axis 15 sementara mata kiri tertulis -3,00

Sementara rabun baca saya adalah +2,75 kanan dan kiri +2,75

Malu juga pada diriku berani klaim tidak ada keluhan. Dokter mata kok dilawan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s