Posted in stress

Caleg Luput Di Contreng


Kalau para Opa dan Oma didikan Belanda jaman tahun Jebot saat berada di rumah dengan berpakaian piyama yang terbuat dari bahan katun dengan warna lembut, maka Opa Mimbar (aku) belakangan ini menggunakan baju santai berjudul “Caleg Stress.”

Cara mengenakannya tentu sangat sederhana. Begitu pulang dari kantor perlahan baju luar ditanggalkan tinggal CD dan Singlet. Ditambah perawakan saya yang gemuk dan perut membunting maka kalau saya jalan-jalan hilir mudik dalam rumah, istri saya langsung komentar “seperti Caleg Stress kalah dalam coblosan..” – tentunya zonder lari-lari dihalaman sambil diikuti sanak keluarga dan masuk liputan media.

Apa sih pantes saya di rumah berpakaian demikian. Hawa Pondok Gede belakangan ini semangkin gerah, maka “Hing atau Crocodile, GT atau Swan atau Dua Cabe” sudah cukup nyaman. Apalagi di rumah kami hanya berdua, dengan pagar tertutup rapat sehingga bebas mau melakukan apa saja.

Hanya kalau ada bel berbunyi, saya panik (gedabigan) buru-buru cari pakaian “Mudlogger Ambil Gaji.” Sebuah model baju ala safari yang kantongnya banyak tetapi isinya sedikit.

Dulu waktu masih menjadi anak kos-kosan saya adalah kaum sarungan. Keberatanku akan sarung sekalipun menawarkan rasa “full isis” (isis=adem) namun bahannya terlalu lebar dan umumnya hanya bertahan sehari. Kalau nekad juga dipertahankan dipakai terus baunya perlahan tengik dan akhirnya “prengus.”

Kalau setiap hari mencuci sarung, bisa bangkrut kantong anak kos. Apalagi ibu kos saya saat itu seorang janda dengan pendengaran berkurang banyak namun indera penciuman meningkat kepekaannya. Barang tiga hari sarung cuma diangin-anginkan, cuping hidungnya akan bergerak seperti icon TV sedang mencari gelombang pemancar. Lalu kebiasaan tersebut terbawa sampai sekarang.

Mohon maaf, sekalian cerewet kadang banyak juga kaum ibu-ibu yang menggunakan penutup kepala. Sayangnya beberapa tidak memperhatikan kebersihan tidak jarang kalau saya berada dibelakang mereka mereka atau kebetulan berpapasan sering tercium aroma mirip topi baret ayah saya yang lama dipakai (tapi jarang dicuci). Sekali tempo, begitu masuk rumah hape sudah meraung. Keasikan menjawab tilpun sambil mulai melolosi kancing baju satu persatu, saya baru sadar kalau dirumah ada seorang ibu muda sedang bertamu.

Untunglah baru baju yang melorot dan itupun buru-buru saya kancingkan kembali. Kalau ada keponakan saya pasti dituding Porno Aksi.

Tapi pasca pemilu Caleg nanti, pakaian model saya akan banyak yang menggunakannya lho. Maklum duit sudah dihamburkan, harapan kembali modal kalau dicontreng, ternyata malah di silang.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s