Posted in blackberry

Blackberry – antara Benci dan Cinta


Ciri khas hape blackberry yang dikenal adalah hampir semua kontrol dilakukan dari roller ball. Disamping bentuknya yang tidak kenes. Tak heran para penjual HP di kawasan Roxy Mas selalu membujuk saya dengan “kalau seumuran bapak memang sebaiknya hp ceper ini..” – ini bahasa lain dari “blackberry cocok untuk orang tua.”

Lantaran merasa sudah tua dan dibujuk terus menerus, apalagi dasarnya saya lemah iman terhadap godaan benda pipih tetapi lebar dan hitam ini. Jadilah aku merogoh kocek untuk membeli barang yang dari bungkusnya saja sudah tidak artistik sama sekali kecuali didominasi warna hitam.

Sebetulnya kalau minta dari kantor sih (mungkin) bisa. Namun melihat gelagat setiap pengeluaran dijadikan Komoditas Isue perampingan anggaran, maka saya memilih menyampingkan option tersebut.

Segera mesin saya bawa ke salah satu bagian kota dengan gedung asri di kawasan Kuningan. Saya daftarkan ala pre-paid. Biayanya Lima ribu rupiah per hari. Selang lima menit e-mail Yahoo, Gmail sudah didorong kedalam kotak ceper. FaceBook sudah seperti bersenyawa dengan mesin dari RIM ini.

Namun Yahoo Messenger di tolak kehadirannya dengan alasan melanggar Policy IT untuk mendownload software dari pihak luar. Lalu saya mencoba mentransfer Address Book dari Nokia ke BB – tidak berjalan mulus sebab anda harus bermain copy and paste. Mengaktipkan Bluetooth untuk transfer address juga gagal.

Setelah ada beberapa hari mengenal system perkakas tersebut, saya mulai merambah mem-push email kantor yang bekerja berdasarkan microsoft exchange. Bukan pekerjaan gampang sebab saya harus menandatangani pernyataan tidak menggunakan peralatan ini untuk beremail dengan negara yang diemohi oleh AS.  Dan harus mendapatkan persetujuan dari petinggi IT di Houston sampai Dubai.

Berapa kali mesin saya re-format (wipe out). Namun saat melakukan Aktivasi Enterprise saya selalu gagal. Akhirnya dapat informasi dari IT kantorku bahwa kartu prabayarku tidak mendukung Corporate Email. Kalau sudah begini saya berpaling ke para CSO. Herannya saya terkesan akan pertanyaan para CSO mengapa saya tidak berpuas diri ” dengan Gmail atau Yahoo.”Padahal saya sudah “omong” bahwa kepemilikan BB adalah untuk membantu pekerjaan saya yang tidak mengenal libur ataupun malam hari.

Lagian kalau cuma push-mail semacam itu sudah disikat oleh pihak “SEVEN” yang mampu menyulap GSM menjadi BlackBerry.

Sekalipun rasa berat, langganan BB dengan provider ini saya putus.

Lalu setelah merelease PIN dan IMEI pada BB agar bisa dipakai oleh provider lain, saya mendaftarkan diri kartu yang ditanggung oleh kantor ini kesebuah kawasan di Gatot Subroto.

Berkali-kali CSO bertubuh tinggi semampai ini menuliskan data saya sebagai pelanggan BIS artinya BlackBerry Internet Services, sementara saya tidak berkenan.Saya keukuh minta pelayanan BES (BlackBerry Enterprise Server). BIS hanya mendukung sistem dengan POP3 sampai IMAP sementara BES sudah mendukung Microsoft Exchanger. Begitu kesan yang saya dapat. Lho kok jadi ribet begini.

CSO sedikit melihatkan kegusaran dengan menulis BES (Blackberry Enterprise Services) secara besar-besar di formulir pendaftaran saya. Tetapi fotocopy yang diberikan kepada saya tetap saja keukeuh petunjuk menggunakan layanan BIS. O alah…

Urusan dengan CSO sudah beres. Saya diminta sabar menunggu 24 jam sebelum BB diaktipkan.

Saat menilpun pengemudi untuk mengambil saya di lobby, ternyata nomor HPnya tidak bisa dihubungi. Satpam melihat saya sudah setengah jam berdiri di lobby lalu mendekati saya dan berbisik “Selain nomor provider ini, maka nomor provider lain diacak pak.” – Lalu saya menggunakan jasa “car call” untuk memanggil supir yang setelah dikonfirmasi memang saat parkir HPnya menunjukkan “emergency call.” – Saya harus mengingatnya baik-baik agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Ternyata usaha ke dua inipun tidak berhasil setidaknya sampai sekarang.

Padahal tidak kurang dua IT di kantor, termasuk seorang Kepala Rumah Tangga yang memang biasa berhubungan dengan pihak provider sudah ikut membantu saya.

Sekarang saya kembali menimang Nokia (harus saya sebutkan dong mereknya), karena dengan alat ini toh basik keperluan saya ber Yahoo sudah bisa dipenuhi.

Paman Berry, ternyata anda baru dekat dimata, jauh di email.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s