Posted in situ gintung

Pak Pekeh


Sebagai pengemudi pada sebuah keluarga, pak Is ingat benar tatkala ia harus mengantar Pak Pakeh dari kawasan Jatinegara ke kawasan yang sekarang terkenal karena barusan mengalami bencana dadal waduk Situ Gintung pada Jumat dinihari 27 Maret 2009.  Maklum Supir baru, ia perlu petunjuk penumpang yang duduk dibelakangnya.  “Habis lampu merah ini, belok kanan. Dua ratus meter ambil ke kiri. Kalau sudah pintu kereta, putar arah, lalu ambil tikungan yang pertama ke kiri.” demikian yang pernah diingat pak Is alias Ismono atas penumpangnya ini.

Singkatnya perjalanan ke gang sempit jurusan sulitpun dengan mudah mereka tembus karena pak Pekeh hapal di luar kepala jalan tersingkat untuk mencapai ke rumahnya.

Ketika banjir bandang waduk dadal, ingatan kita sampai padanya.  Pemirsa…. (ikutan Thukul). 

Melihat kenyataan bahwa orang segar bugar saja habis digulung bandang, kita pikir pak Pekeh adalah salah satu korbannya. Ternyata sekalipun tertidur karena habis terkuras tenaganya sebagai pemijat, pak Pekeh masih memiliki naluri “survival” yang tinggi.

Dengan mengandalkan instink dan ketajaman telinganya ia mendeteksi bahwa ada pohon didepannya. Segera tangannya yang liat kuat meraih ranting pohon dan ia bertahan disana sampai bantuan tiba.

Ditilpun tidak diangkat, akhirnya di SMS. Baru tiba-tiba ia menjawab “hehe bapak ngeledek, orang buta kok di SMS. Saya selamat”

Cuma yang saya tak habis pikir adalah – saat ratusan orang kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, kehilangan keluarga yang dicintai. Pemuka agama kita menjadi seperti Wali Sakti turun dari langit dengan jumawa berbicara didepan kamera, menjadi Hakim Agung dunia “Situ Gintung jadi bencana sebab Azab akibat dosa penduduknya..” – Lantas bagaimana dengan terowongan Mina yang juga pernah roboh di tanah suci didana tidak ada pemancingan, tidak ada perjudian, tidak ada orang pacaran. Toh ratusan manusia tewas.

Eh para ibu pengajian di RawaBogo – Kodau menelisik lebih dalam (dan kacau) – “Situ Gintung gara-gara banyak suku (menyebut kawasan yang kena Tsunami), tinggal disana – jadi kena azab…” – saya sampai harus menegakkan telinga, inikah hasil bertahun-tahun mereka melakukan olah iman memasang telekop dimatanya melihat dengan jelas benda yang jauh, namun katarak akan derita sesama bangsa.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.