Posted in bandara

Kolaborasi


Sebuah Kolaborasi di Bandara Sukarno Hatta
Sebuah Kolaborasi di Bandara Sukarno Hatta

Sudah siang hari ketika saya kembali dari tugas di Balikpapan sambil menunggu jemputan. Begitu jleg kaki kanan (apa kiri ya) menginjak Bandara Cengkareng, langsung wajah seperti disemprot uap panas. Sekalipun lama sudah menjadi urban di Jakarta entoh setiap kali turun dari pesawat masih perlu beberapa jam wajah ini beradaptasi agar terbiasa dengan udara tempat tanah tumpah darah anak-anak saya.

Diantara hilir mudik para penumpang dan rasa panas yang menyiksa maklum dari pesawat berpendingin udara mendadak dipapar udara Jakarta yang seketika “mak nyoz” macam didepan knalpot angkot. Maka dari jarak 10 meter saya melihat seorang sekuriti muda menunggu di ruang angkat penumpang di pelataran parkir Bandara Sukarno Hatta, Jakarta.

Tugasnya adalah menggusah para “portir setengah maksa” – yang banyak berkeliaran dipelataran parkir. Melihat cara berdiri dan sikapnya sama sekali jauh dari kesan gagah padahal saya sering lihat para satpam terkadang lebih gagah dari militer itu sendiri.

Para portir ini memang sering memubuat gerah juga. Pasalnya seandai anda cuma membawa laptop maka bisa-bisanya dua pemuda membantu anda memasukkan tas berukuran kabin dengan imbalan uang rokok tentunya.

Lalu dengan kehadiran sekurity tadi memang laron-laron yang merubung penumpang baru tiba menjadi berkurang.Tentu untuk berapa lama kita bisa maklum.

Mendadak salah seorang dari portir jalanan yang semula duduk-duduk tadi mendekati sang keamanan. Tentu saja saya tidak tahu apa yang dibicarakan. Kecuali sang keamanan mendadak balik kanan dan pindah jaga di lokasi tempat mobil konsulat pada parkir di seberang sana.

Begitu sang keamanan balik kanan, maka para pemuda yang semula jongkok-jongkok mengambil posisi di pos – Setelah mendapat beberapa “pelanggan” sang keamanan datang sementara portir bayangan langsung pergi menghilang.

Namun tidak berapa lama dia datang dengan rokok terjepit dijarinya. Dari kejauhan saya melihat animasi bahwa pemuda ini berterimakasih kepada pak Keamanan yang sudah memberi waktu dan tempat untuk cari sekedar uang rokok.

Sebuah kolaborasi yang manis dengan feature “portir-portir di pelataran”

Lalu di jalan yang nyaris saya lewati setiap hari yaitu jalan Kodau, kawasan Pondok Gede. Cuma sepertiga jalan yang disemen. Sisanya ambur adhul.

Sayangnya sudah ada beberapa bulan ini jalan mempunyai “penunggu” – yaitu petugas “dishub” yang bertugas mengutip setiap angkot, truk atau kendaraan niaga yang lewat terhuyung-huyung melewati jalanan yang berlubang. Alasannya tidak masuk akal, “Untuk Perbaikan Jalan” dan dalih berbau mulia lainnya.

Biasanya jumlah pengutip berseragam abu-abu ini dua orang. Karena jumlah orang berseragam putih ini cukup banyak ditemui diujung jalan, maka kepikiran ada berapa kekuatan petugas pengutip uang jalan.

Lalu intel via radio dengkul saya melaporkan bahwa mereka ini sejatinya cuma versi ala Pasarular. Tetapi dibacking oleh petugas dinas perhubungan aseli.

Kalau anda ingin bukti, sekali-sekali melewati jalan Kodau dan pas didepan komplek KODAU, mereka buka praktek dari jam 7 sampai sore hari.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s