Posted in Uncategorized

Teh OBENG dan Omelet


Tatkala sebuah perusahaan teh semacam Sosro – memperkenalkan produksi teh yang sohor  sebagai Teh Botol maka dengan jargon-jargon dagang seperti “makannya boleh apa saja, asal tehnya ….” – maka tak kurang muncul produk serupa seperti teh Tang, teh Tjatoet yang siap menggigit calon pembeli.

Dan ketika kesempatan mengunjungi NAGOYA – Batam  saya langsung main tuding Teh OBENG. Tidak perlu risau untuk mencoba hal yang baru, apalagi soal makanan dan minuman. Katanya di Batam, Es Teh Manis namanya Teh Obeng.

Tak lama kemudian jreng. Datang pesanan kami berupa cairan teh dalam botol yang selama ini kami sebut sebagai “Teh Botol Sosro..”

Saya sekarang risau mencari penjelasannya padahal selama ini prop teh tersebut dibuka dengan alat khusus, dan hanya botol kecap dilubangi pakai Obeng.

Memotret dari meja kosong sebelum berburu "OMELET"
Memotret dari meja kosong sebelum berburu "OMELET"

Di kesempatan sarapan pagi, disebuah hotel yang mbludak akan penghuni asal Singapura, saya mencoba memesan “omelet” – ini memang lagu wajib saya setelah nasi goreng yang hari itu menunya digantikan oleh Nasi Uduk. Kepada seorang sepertinya juru masak karena mengenakan topi koki, saya bilang saya boleh order “omelet”. Pandangan matanya susah saya artikan. Lalu ia berjalan menuju tumpukan makanan yang masih tertutup tudung stainless steel. Ia ambil penjepit, ditunjukkan kepada saya “ini omelet”

Seperti tidak percaya mata, malahan tepatnya seperti  tidak percaya mata dan pendengaran akan berita di TV bahwa ketua KPK kita terlibat sangat kental dengan aroma pembunuhan berencana, saya tanya sekali lagi “ini omelet..?”

Sekali lagi ia mengangguk dan meninggalkan saya yang memandangi gorengan telur dadar nyaris dingin senyap.. Saya lirik arloji dipergelangan tangan jam 07:45pagi tanggal 2 Mei 2009. Hotel boleh apa saja, tetapi omeletnya harus ada.

Mungkin hanya jurumasak hotel besar ini yang berani mendeklarasikan Telor Dadar sebagai Omelet.
Mungkin hanya jurumasak hotel besar ini yang berani mendeklarasikan Telor Dadar sebagai Omelet.

mimbarsaputro.wordpress.com

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.