Posted in Hotel

Hujan di Malam Hari


Secara keseluruhan hotel ini memang wah, ada ParaSailing, Kolam Renang Olimpik, Jet Ski dan bernuansa Bali- herannya
Secara keseluruhan hotel ini memang wah, ada ParaSailing, Kolam Renang Olimpik, Jet Ski dan bernuansa Bali- herannya

Masih pagi buta pada sebuah  hotel di Batam tempat kami menginap.Uniknya bangunan, dekorasi semua bernuansa “Bali” – pernah saya tanya kepada pak Poniran – nama Jawa tetapi besar di perkebunan Karet Sumatera Utara.

Mungkin kalau bernuansa Hang Tuah, Hang Jebat, bakalan di klaim oleh Malaysia sebagai – ini hiro kami lah-.

Lantaran berada di pinggir laut maka ketika mendengar gemuruh sudara Guntur dan Guruh yang bukan putra mantan presiden pertama RI, pikiran saya boleh jadi bakalan hujan atau lebih buruk lagi Tsunami. Buka suara.

Lantaran kami menginap di tepi laut, maka sekalipun “kecil” kansnya, saya tidak mau ambil resiko tetap turun dari ranjang melihat ke arah laut, “siapa tahu ada tsunami..” – sekalipun kansnya kecil tetapi negeri kita yang kaya akan drama bencana dari alam danbencana yang dibuat manusia seharusnya membuat kita tetap waspada.

Ternyata kilat sambar menyambar namun sepertinya tidak ada pohon kenari.  Sudah menjadi kebiasaan saya kalau melihat kilat selalu tak habisnya mengagumi kehebatan sang pencipta, dan diam-diam melakukan afirmasi “meminjam energi geledek” untuk menyembuhkan luka bathin maupun lahir. Sisa pelajaran Reiki dulu. Maka saya beranjak keluar kamar dan duduk di teras yang menghadap laut. Anehnya sekelompok lebah berkerumun mengelilingi lampu penerangan luar.

Batu menonjol indah saat air surut. Melatar belakangi rumah atap rumbia tempat pondokan kami
Batu menonjol indah saat air surut. Melatar belakangi rumah atap rumbia tempat pondokan kami

Begitu hujan tiba, udara Batam yang membuat kit harus mandi lebih dari 3 kali sehari mendadak turun dingin.  Sayang kedahsyatan alam ini tidak lama saya nikmati ketika kepala saya rasanya dialiri oleh curahan hujan.

Ampun atap rumbia hotel yang maunya berdesign tradisional nampaknya mulai diterobos air dari langit.

Saya masuk kedalam, dan ada keboccoran lain. Salah satunya dirusuk depan, meleleh dan berusaha masuk kantung kartu magnit piranti mengaktipkan sistem penerangan.

Pertama aliran air masih mencang-mencong tipis. Namun begitu hujan makin lebat, tetesan air mulai memasuki gua garba kartu magnet, dan mendadak “BLEP” lampu padam semua.

Semestinya saya tilpun petugas, namun jam 04:00 pagi saya lebih baik menikmati gulita. Memang seru rasanya mendengar air menggedor sekeliling kita.

Jam 6 pagi hujan mereda, Lia anak saya menilpun, dan bercerita pengalaman yang sama. Dua temannya yang  ia bawa dari Singapura, juga mengeluhkan yang sama. Ia yang dasarnya bertemperamental sumbu cepat habis, langsung mengomel dan menilpun petugas.

Akhirnya petugas listrik datang. Dengan berbekal payung dan celana plastik, dia langsung mengaku dosa “saya hanya shift malam” entah apa maksudnya. Lima menit ia berusaha, ia menilpun temannya dan keputusannya kerusakan tidak bisa diperbaiki.

Sepasang Kampret bergelantungan di teras hotel
Sepasang Kampret bergelantungan di teras hotel

Tidak lama kemudian – pihak hotel menilpun dan siang itu kami diminta pindah ke kamar SUPER tanpa tambahan biaya sepeserpun. Hanya karena weekend – penghuni  membeludak – terpaksa menunggu setelah makan siang. seperti yang dijanjikan, lepas lohor, datanglah kendaraan jemputan. Kami pindah ke kamar yang lebih beton dan dingin (dan lebih mahal-tapi free).

Selamat tinggal teman sepasang kelelawar. Silahkan diteruskan dinner-nya. Kami okey-okey saja melihatmu membuang biji jambu, daun jambu, lepehan jambu. Tapi kebocoran dan lampu “konslet” terpaksa kami berfikiran lain.

Kalau orang “bule” mungkin tinggal di lantai gedek, beratapkan daun rumbia merupakan sebuah “sensasi” – tapi saya yang kecilnya tinggal di rumah serupa – ya ajaib jadinya.

Pikir-pikir kadang musibah sering merupakan berkah tersembunyi. Cuma cara mendapatkannya sering berliku.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.