Posted in Uncategorized

Sedot Air dari Jantung


Serem betul kedengarannya, menyedot air dari Jantung. Pasti menggunakan suntikan raksasa dicubleskan kedalam tubuh. Sakitnya melebihi sang jagoan digadang-gadang jadi minimal Cawapres, tahu-tahu tidak direken.

Paling tidak demikianlah yang digambarkan keluarga kami manakala ayah mertua (80– tahun), yang sering mengeluh napasnya tersengal-sengal yang ternyata mengandung air dalam jantungnya.

Untung Dokter “L” yang lembut mengatakan bahwa cairan dikeluarkan melalui air seni pasien. Mula-mula pasien di infus dan sedikit semi sedikit obat “lasik” – lalu air seni ditampung dan diukur. Kalau infus masuk 1 liter diharapkan air seni yang keluar lebih dari itu. Ternyata cara ini mujarobat bin mujarab. Perlahan kaki ayah mertua yang semula membengkak sekarang nampak mengempis. Gangguan datang saat pasien mengeluh kakinya kram. Rupanya karena ekses cairan mulai dibuang kaki beliau mengalami kejang-kejang kecil.

Hari kedua ayah sudah bisa ke kamar mandi sendiri dan nampak gembira. Apalagi kedua cucu lelakinya datang menghibur. Satu saat ayah minta ranjangnya sedikit dinaikkan agar ia bisa melihat “cinta untuk Marvel” kesayangannya. Cuma kali ini kami bisikkan untuk tidak “ngepol” setelan volume TV agar tidak mengganggu pasien lain. Sayangnya tidak ada pengunjung yang tahu bagaimana caranya mengoperasikan ranjang elektrik ini. Sampai akhirnya Dito (kelas 3SD), sambil tetap penuh perhatian kepada mainan Sonynya, tangannya seperti acuh tak acuh menekan tombol.

Dan jreng, perlahan ranjang menyesuaikan diri. Ayah ketawa lebar sambil menciumi cucunya. Itulah obat paling mujarab. Tertawa.

Tapi yang paling mencengangkan adalah selama puluhan tahun di meja mudlogging, saya selalu melihat suntikan “syringe” berukuran jumbo 50cc, padahal umumnya suntikan adalah 5cc. Baru di rumah sakit harapan kita pertanyaan tersebut dijawab, seperti pada gambar. Obat disuntikkan perlahan selama 24jam. Agar penyuntikan berjalan stabil dan susternya tidak pegal, maka fungsi manusia digantikan mesin.

Dan satu lagi, hampir peralatan mudlogging yang kami jalankan umumnya berasal dari teknologi kedokteran.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.