Posted in kedai

Bakmi Ayam (kampung) Acang van Grogol


Hanya pelang kecil menunjukkan jam praktek. Setengah tujuh buka, jam dia siang tutup. hari Senin libur.
Hanya pelang kecil menunjukkan jam praktek. Setengah tujuh buka, jam dia siang tutup. hari Senin libur.

Di minggu pagi yang cerah, seorang istri pernah kehilangan suami tercintanya sehingga jauh-jauh dari bilangan Kelapa Gading ia menilpun mertuanya – maksudnya hendak mengadu perilaku sang suami yang ngeloyor pergi tanpa pesan.

Padahal orang yang dicari sedang makan Bakmi Acang kesukaannya di Grogol.

Semula kedua kakak beradik Acang dan Alok hanya ingin sekedar keluar dari garis kemiskinan. Apalagi dari kecil sudah ditinggal orang tuanya. Rasanya hidup merih mereka lakoni . Tekad mereka berdua sudah bulat. Maklum sudah konotasi Cina Benteng sering diidentikkan Cina Miskin. Merih artinya prihatin. Yang mengatakan ini adalah istri Acang dalam suatu kesempatan bicara ringan.

Dari semula hanya tukang keliling ider bakmi pada era 1969-an, lalu mulai berani mengontrak untuk membuka kedainya. Dalam perjalanan waktu Alok membuka kedai bakmi sendiri dan berkembang meroket sedangkan Acang sekalipun tidak mengembangkan sayapnya secara besar-besaran namun ia sudah membuka cabang di luar Grogol tumpah darah Bakmi Acang.

Semangkuk Bakmi, boleh p0ilih mie keras atau mie lunak tergantu selera.
Semangkuk Bakmi, boleh p0ilih mie keras atau mie lunak tergantu selera.

Semangkuk Mie Ayam (kampung) dengan helai bakmi bergaris tengah lebih jumbo ketimbang bakmi biasa dan cukup “melawan” kala digigit adalah hasil tangan Acang memang sudah dikenal lebih dari tiga dekade. Nampaknya singgasana raja Bakmi Grogol belum ada tanda-tanda akan dilengserkan baik secara terhormat ataupun dijungkir balikkan.

Maklum Acang sangat teliti menjaga mutu bakminya. Tangannya sudah seperti sensor super sensitif. Cukup dengan “ngebejek” campuran tepung terigunya ia sudah tahu apakah bakminya sudah siap hidang atau belum.

Satu hari saja dia menghabiskan “satu Bal” tepung terigu. Saya tidak akan bertanya lebih jauh tentang resepnya sebab mereka akan mengatakan “rahasia perusahaan” – atau cukup dengan kata “dibejek-dirasain”

Kalau belum puas dengan semangkuk bakmi, anda bisa memesan satu mangkuk daging ayam (kampung) yang dihidangkan dengan kuah panas, jangan lupa tambahan sambalnya sekalipun saya sejatinya tidak suka sambal. Kuah panasnya, kalau dicampur bubuk merica, sedikit sambal. Rasanya kalau cuma masuk masuk angin atau pilek bakalan larut bersama keringat yang mengocor di kedai berpendingin udara Grogol.

Hanya seratus meter di belakang Terminal Bis Legendaris GROGOL.

Di papan namanya ditulis bahwa jam dua tutup, sebetulnya belum sampai jam dua siang dagangannya sudah ludes. Itulah kelebihan bakmi Acang yang sekarang sudah memiliki tiga tingkat ruko sehingga tidak perlu harus kontrak disana sini. Acang tidak banyak melakukan inovasi. Paling banter ia suguhkan bakmi buatan sendiri yang kenyal atau yang lembut. Itu saja.

Sekali waktu saya dekati waktu tangannya cekatan merajang daun bawang, “masih bisa potong bawang?,” dia terkekeh. Sukses, kaya, tidak mengubah penampilan maupun sikapnya. Senyum dan senyum. Sekali tempo saya menyaksikannya adu sabar dengan seorang pelanggan. Wanita ini sehari-hari berjualan “susu kacang,” dan kata orang semenjak ditinggal kabur suaminya, ia agak terganggu. Sambil memesan mie mulutnya tak henti berceloteh.

Di tempat lain, ia biasanya diusir pemilik sebab mengganggu kenyamanan pelanggan lain. Tapi melihat cuma kami yang makan disana, intruder ini dibiarkan tak berlalu. Saya hanya lihat setelah semangkuk mie nyaris ludes, enci tua ini enak saya berkomentar “masakan eluh kebanting dengan masakan sono..” – Sudah diberi gratis, masih mencela.

Tidak ada yang bereaksi, sementara saya seperti melihat sebuah tontonan dan tuntunan mengatasi emosi. Ibu Acang berhasil mengatasi dengan baik insiden kecil ini.

Pemilik Bakmi yang kadang sudah mulai lupa menghitung uang
Pemilik Bakmi yang kadang sudah mulai lupa menghitung uang

Kedai ini digawangi oleh sang istri yang sekarang mengaku suka keder kalau menghitung uang. Jangan tersinggung kalau Mak Acang berkali-kali bertanya makan bakmi berapa mangkok, lalu menulis harga dan menjumlahkannya diatas kertas buram dengan bantuan kalkulator.

Setelah “rapih” alias selesai menjumlah, seperti bu Guru memeriksa ulangan anak-anak yang bengal dan slordig tulisan tangannya dicoret-coret sendiri dan lantas memulai menghitung ulang sambil bertanya “makan bakmi berapa mangkuk ya, tambahannya apa?, ada minum susu kacang..” – kendati susu kacang sudah beberapa jam lalu ludes terjual.

Kalau sudah begini anak perempuannya yang kalau diledek “kok mirip- mama” akan menjawab “takut nggak diakui anak oom” atau bahkan para pembeli yang rata-rata langganan lama, ikut membantu membuatkan bon makan mereka sendiri. Ia memang mengaku mudah lupa.

Merasa usia merambat senja, sepasang anaknya diterjunkan membantu bahkan sekarang mereka rela melepas pekerjaan kantornya dan hidup dari berdagang bakmi.

Sukses tidak membuat Acang lengah lalu berlagak bos, main tunjuk sana sini. Ia memang seringkali berkipas-kipas, namun manakala kegerahan berada terlalu lama dekat kompor menyala mulak-mulak (api menjilat tinggi). Buktinya baru sebentar menemani kami, ia sudah cabut lantaran kompor barunya ternyata selain sering bumpet pada saluran gasnya, juga lebih boros gas. Padahal kompor yang lama, bentuk dan selangnya lebih jumbo tetapi irit energi.

Kalau anda kebetulan berada di jalan Nurdin Grogol- Jakarta Barat, dan lupa sarapan pagi bakmi ini boleh untuk diadu dengan bakmi lain. Strukturnya sedikit ulet namun gurih. Apalagi dia juga menyediakan kue-kue kecil, roti Soes, Nagasari, yang konon alasan sang mak Acang untuk “curi-curi ngemil” – maklum anak-anaknya kuatir penyakit bocor madu ibu tercinta bisa makin menjadi apabila tidak diawasi ketat.

mimbarsaputro.wordpress.com

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.