Posted in Uncategorized

Mengintip Tentara Melakukan Operasi Militer


Wartawan Alfian Hamzah pernah dua bulan hidup bersama Tentara yang beroperasi di Aceh 7 tahun lalu (Juni 2002). Sebagai orang sipil yang terobsesi menjadi wartawan perang ala filem Amerika hatinya deg-deg plas manakala pasukan yang sudah banyak makan garam di medan tempur Ambon dan Timor Timur ini mengatakan bahwa kalau dilihat sekala satu sampai sepuluh, maka TimTim masuk sekala dua sementara Aceh sekala Tujuh.

Kekuatan pasukan ini adalah empat truk mercy, sebuah ambulan dan Jeep komandan.

Disini satu jengkal tanah Aceh tidak ada yang aman…” – Kata kepala rombongan sebelum mereka bertolak menuju Sigli.  Di kantor Koramil Geulumpang Minyeuk, komanda setempat mengatakan keadaan aman sehingga kendaran truk yangdilapisi baja 3milimeterbergerak maju.

Serombongan sapi melintas jalan, lalu serombongan anak sekolah melintas. Di sebuah setasiun pompa minyak mereka melihat mobil penumpang dan sepeda motor dari arah berlawanan. Prajurit Rokhim yang sudah banyak makan asam garam pertempuran mencium gelagat tak sehat. Kepalanya menolah kesana kemari mencari-cari kalau ada hal yang mencurigakan. Tapi info tentara Koramil mengatakan “aman dan terkendali..

Tidak lama kemudian  “tretetete, Tang, Tang..,” suara AK menyalak. Baja penutup ban mobil jebol dihantam peluru.

Baru sehari di tanah Aceh, sudah diberondong peluru, semetara Prajurit yang berada di Jip komandan yang bertugas melayani senjata berat sejenak harus mengatasi kekagetannya dan membuka picu mesin otomatis buatan Belgia, cuma sentakan gas mobil yang berusaha kabur dari penghadangan membuatnya terpental duduk.

Tidak ada waktu untuk melawan, kabur adalah satu-satunya cara membela diri. Setelah lolos penghadangan, mereka menyumpah-nyumpah, baru berapa menit dibilang Koramil, “aman terkendali” mereka sudah dihadang. Padahal konvoi belum lagi bergerak 500m. “Orang dan tanah disini memang tidak bisa dipercaya…,” serapah seorang Letnan. Tentunya ia geram terhadap petugas Koramil yang asbun, tadi.

Lalu Alfian mulai mendapat pendidikan militer, seperti teknik melompat dari truk. Pelatihnya merangkap pelindungnyawanya adalah Rokhim… “Kalau lompat dari truk tumit jangan duluan, bisa cedera, syaraf bisa rusak. Gunakan gaya seperti jinjit sambil badan dicondongkan kedepan..”

“Kalau ada tembakan, jangan panik, kepala ditanam, cari perlindungan di batu, pohon, atau apa saja. Tapi jangan sekali-kali berlindung dibalik pohon kelapa atau karet. Makanan empuk peluru AK, itu bisa tembus.”

Kalau digigit lintah, biarkan saja jangan buru-buru dicabut, nanti juga lepas sendiri. Kalau dipaksa nanti giginya tertinggal dan gatal sekali. Kalau ada waktu perciki tembakau, lintah bakal lepas.

Jangan banyak mengeluh, menghambat gerak pasukan..

Kalau jalan malam, jangan berisik. harus senyap. Kaki jangan diseret. Setiap melangkah tumit menjejak tanah duluan.

Jangan jalan paling belakang.

Sebaiknya pakai lars sebab sepatu gunung bakalan hilang kalau masuk rawa. Nanti saya pinjami.

Kalau berjalan jauh jangan sesekali minum, nanti airnya pindah ke betis. Rasanya seperti di gandoli air. Kalau terpaksa, basahi tenggorokan sekedarnya. Jangan takut minum air mentah, nanti dimasak dalam perut.

Karena mas orang sipil nanti kalau melihat sesuatu yang kurang “sreg” – jangan perlihatkan perasaan didepan pasukan.

Lama-lama prajurit Rokhim jengkel juga melihat wartawan yang modal dengkul kopong ikutan militer, “mas nggak tahu medan mending nggak usah ikut. Kalau ketinggalan pasukan bagaimana?

Janji untuk diam saja ternyata tidak ditepati ketika ia melihat mayat kaku ditembus tiga peluru. Seperti alasan di tayangan kriminal ala BUSER, serdadu beralasan pesakitan ini sudah pernah mencoba peruntungan untuk kabur. Namun kali ini terpaksa di “laron merah” kan – sebuah istilah mengeksekusi.

“Kalau salah sasaran bagaimana?”

Rokhim ini karakter yang dihidupkan oleh Alfian. Termasuk pertanyaan seperti “Munir itu anaknya PKI ya?” atau “Cut Keke itu apanya Abdullah Sjafiie ya..” – Tentara bertanya kepadanya disela istirahat, dasar pertanyaan tabloid “kuning” yang banyak tersebar di barak peristirahatan serdadu.

Kalau anda tertarik akan gaya jurnalisme bertutur, maka yang saya ceritakan adalah salah satu dari kumpulan “ANTOLOGI” Liputan Mendalam dan Memikat.

Selanjutnya bisa dibaca di Jurnalisme Sastrawi : penyunting A. Harsono dan B Setiyono.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.