Posted in foto, situ gintung

Potret dan Foto


Ketika mendapat order memotret Menara Kembar, Joel sudah “aras-arasen” – malas. Tapi apanya yang menarik dari bangunan beku yang dikritik sebagai pengejawantahan Arogansi Gigantisme Amerika. Lagian diabadikan sekarang atau besok apa bedanya, toh menara berlantai 110 dengan kapasitas 50000 orang ini ini besok masih ada berdiri tegak disana?. Orang Betawi bilang “Belanda masih jauh..

Alasan lain cukup dengan melongok dari studionya di 19th street ia sudah bisa menyaksikan sosok menara kembar yang dibangun 1966 dan diresmikan 1973. Sekalipun perasaan  Joel,68, warga New York, menolak untuk memotret menara kembar WTC di komplek Manhattan, Amerika Serikat sebagai bahan buku maupun pamerannya. Namun ada desakan untuk yang tak mampu ditolaknya.

Diangkatnya kamera dan jebrat-jebret memoto. Sudah puas ia menorehkan tulisan di buku lognya WTC 7.30 maksudnya obyek World Trade Centre diambil jam 7:30 tanggal (5 Sep 2001).

Sebagai photographer terbiasa mengadakan pameran foto kota besar, ia sadar hasilnya kurang greget, apalah artinya bangunan kaku, langit New York yang bersih, tidak ada drama.

Maka bagaimana ia tak terperanjat ketika ia berada di Chatham, Massachusetts, isterinya dengan gemetar emosional menilpun memberitahukan bahwa menara kembar sudah hancur ditabrak pesawat. Di TV, ia melihat menara angkuh sudah loyo mengeluarkan asap tebal.

Dengkulnya seperti tak bertulang. Bahkan trauma membayangi warga Amerika setiap melihat pesawat seperti mendekat suatu bangunan tinggi. Lalu ia ingat kata-katanya sendiri “Oh well I ll be come back next week. They ll always be there,” Ternyata ia silap. Hari esok tidak akan pernah sama dengan hari ini dengan kehilangan momentum untuk diabadikan.

Sekarang sekalipun ia “mbebeki atau mbanyaki” itu kata cangkokan saya ambil dari orang Gancahan-Yogya untuk orang yang panik lari kesana kesini. Tidak akan menyelesaikan masalah. Ia berada di luar kota, sementara lima hari penerbangan dalam Amerika ditutup.

Maka kegetunannya makin bertambah.

Hari yang ditunggu tiba, sesampainya dilokasi, langsung mengeker dibalik kamera ketika sebuah tepukan keras dibahunya :”ini kejadian kriminal dilarang memotret..”, ternyata suara seorang polwan.

Dia berkelit, sambil berkata “Saya Wartawan” – lalu ibu polisi mengocok-ocok jempolnya kesuatu arah dimana para reporter dibelenggu oleh Police Line agar tidak mendekati lokasi Ground Zero.

“Kapan press akan diijinkan mendekat?(ground zero)” tanyanya lagi

“Never!” – tukas polisi.

Iapun berfikiran, kalau saja selalu mengiyakan perintah polisi, kapan sejarah ini akan tercatat. Hidup ini perlu ngeyel.

Sebentar lagi puing akan dibersihkan,menara akan ditegakkan, hilang sudah saksi sejarah. Kali ini nekad dengan membawa peralatan ia memasuki reruntuhan yang sudah diberi tanda police line. Sia-sia, polisi malahan mengancam akan menyita kameranya kalau ia keukeuh memotret.

Terpaksa ia mencoba menulis proposal sebanyak 5 halaman kepada Walikota New York, yang sudah bisa diduga lebih suka berbicara dengan para reporter ketimbang menggubris urusan potret, ya sekedar “potret” – padahal benda mati inilah yang akan bercerita dari generasi ke generasi. Akal lain dipakai dengan mendekati seorang kenalan sebagai pekerja bangunan. Maka ia menyamar menjadi kuli bangunan dan mencoba memotret.

Tidak gampang, karena polisi selalu berada didekatnya mengusir dengan mantra berulang “maap saya hanya menjalankan tugas..” – agak sulit menyembunyikan peralatan foto salon seberat 11 kilogram rupanya.

Tanggal 23 September usahanya tidak sia-sia ia berhasil ke lokasi Ground Zero yang kalau kita bilang Lepel Satuk. Ada 7 polisi lusuh berseragam ala pasukan DALMAS anti huru hara, sedang duduk mengaso di kursi berantakan. Ia sudah menduga bakal digusah. Namun almarhum ayahnya seorang salesman bilang ia selalu mendekati orang dengan membuat mereka terkejut lalu ketawa dengan sulapan kecilnya. Ia membelakangi polisi tersebut, sampai akhirnya “mak bedengus” seakan sudah duduk di pangkuan pak polisi sambil bilang “hei anda ada di kamera..”

Terjadi ketegangan, orang sudah capek, marah kepada pemerintah Amerika yang tidak bisa melindungi warganya, harusnya Presidennya diganti saja, walaupun memang akhirnya kejadian, cuma yang ketiban sial Presiden negara lain. Namun entah mukjizat apa, ketujuh “polisi” itu malahan tertawa, dan berkata “untuk dokumentasi anak cucu..” –

Celakanya mereka malahan jadi penghalang dengan sok tahu dengan memberi tahu “sudut potret sana lebih bagus, sudut potret sini lebih mencekam dst..” Dan ini halangan bagi seorang jurupotret kalau sudah mulai diatur posisi oleh pihak lain. Ternyata mereka adalah anggota Jihandak Amerika. Mereka masih ingat bahwa tahun 1993, seberat 700kilogram bom meledak di garasi menara utara, 7 tewas dan ratusan luka-luka, tujuh dari anggota kelompok radikal yang diduga berasal dari kelompok yang sama berhasil dirangket ke bui.

Sembilan bulan Joel bekerja hari demi hari di lokasi Ground Zero dan hasilnya adalah sebuah buku berhias foto “Aftermath” – cuma harganya nggak putus AUS$120.

Dan kalau ia melihat logbook bertuliskan WTC 7.30 dan foto yang biasa-biasa saja, ternyata sudah menjadi barang antik yang tiada tara nilainya.

Atau seperti pengalaman teman saya Tri Haryanto. Hobinya memotret membawanya mengabadikan sebuah rakit penumpang terapung tenang di danau Situ Gintung. Lalu komentarnya di facebook, ia menulis jangan datang memotret setelah bencana datang.

Seperti kata orang, Intuisi kadang perlu diperhitungkan. Dan sekalipun saya bukan Joel atau sehebat rekan saya Tri Haryanto, dipinggang gendut saya selalu terselip kamera digital kecil. Bahkan kepada awak mudlogging saya anjurkan selalu membawa kamera. Pasalnya dalam memberi laporan kebudayaan VISI masih lebih disukai ketimbang tulisan.

21Mei2009
MimbarSaputro,wordpress.com

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.