Posted in Uncategorized

Rumah Sakit Mirip Warung Teh Manis


Isi perut laboratorium kini tembus pandang bisa dilihat oleh pengunjung rumah sakit yang lalu lalng, bahkan menjadi pemandangan buat pengunjung warung di rumah sakit
Isi perut laboratorium kini tembus pandang bisa dilihat oleh pengunjung rumah sakit yang lalu lalng, bahkan menjadi pemandangan buat pengunjung warung di rumah sakit

Tujuan kami mengunjungi kerabat yang mendapatkan cucu pertamanya di sebuah rumah sakit bertaraf Internasional di kawasan Margonda.

Memang kentara sekali pesatnya kemajuan di jalan Margonda dari semula tak nampak di peta Jakarta sampai kini tak nampak ruang atau lahan tersisa.

Saya sempat bingung mencari titik sasaran rumah sakit yang dituju.

Karena takut kesasar, ketika sebuah bangunan besar dengan nama depan mirip nama rumah sakit, mobil segera saya belokkan ternyata saya masuk pusat perniagaan bahan bangunan. Sementara itu pengacara ayu yang seharusnya menjadi penunjuk jalan saya sedang menjawab tilpun dari klien yang ingin menceraikan isterinya. Sebentar-sebentar jam di pergelangan tangannya dilirik. Hm sudah setengah jam klien ini berbicara, tinggal dikalikan dengan tarif per menitnya.

Sebetulnya waktu besuk sudah habis, sehingga kami bertemu dengan sang kakek dan kakek muda di depan ruang bayi. Ternyata bayinya “kuning” sehingga harus dirawat di rumah sakit sementara sang ibu sudah diperbolehkan pulang. Dewasa ini banyak sekali bayi yang dilahirkan berbalut aura kuning. Termasuk anak-anak saya.

Capek berdiri, “tuan rumah” mempersilakan kami turun dari lantai dua ke kafetaria di lantai pertama. Jam 14:00 siang ngenthang-ngenthang (panas banget), jalanan macet, maka ajakan ayuk kita ke kafetaris seperti memicu sarap peristaltik perut. Kriuk-kriuk Kukuruyuk. Ketika keluarga tuan rumah memsan makan dan minum, kami harus tahu diri bahwa tidak sedikit biaya dikeluarkan saat ada keluarga masuk rumah sakit. Tidak enak didesak terus, saya pesan “Teh Botol yang dingin..”

Maka sambil menunggu minuman yang konon bisa dipakai dalam segala acar dan segala rupa makanan pokoknya “masuk dan cocok” maka saya perhatikan ruang laboratorium (darah) yang begitu tembus pandang.

Sederet mesin yang mirip lab foto berwarna 30 menit jadi, ada yang mirip seperangkat mesin fotocopy (tapi bukan), ada timbangan digital seperti di mal-mal.

Nampaknya “paradigma” rumah sakit sudah mulai berubah. Saya yang dari sononya selalu saja membayangkan bahwa rumah sakit adalah bangunan angker, dengan jalan yang sempit namun memanjang, sebut saja di RS Ciptomangunkusumo. Jadi kecele

Lalu dasar orang kuno, layar otak saya selalu memainkan bangku panjang terbuat dari kayu, di cat putih. Kalaupun ada ambulan warnanya putih, disertai perawat berbaju putih.

Padahal dulu kita tahunya rumah sakit adalah tempat dimana kita mendaftar, bau alkoho menyengat, lalu saat nama dipanggil untuk masuk ruang pemeriksaan. Lalu ada instruksi, Kembali besok pagi untuk menerima sepucuk surat yang berisikan rincian kesehatan kita.

Keasikan melihat pemandangan “aneh” dan mulai menulis di kepala, baru sadar bahwa “tuan rumah dan keluarganya” sudah “ngethekut” menikmati sup buntut dan nasi tim sementara pesanan saya yang ditulis dalam satu bon (habis ditawari minum apa?) telah dianulir.

Kali ini saya bangkit dari duduk dan memesan ulang teh botol. Supaya jangan dianulir lagi, saya bayar sekalian 3500 rupiah. Ternyata saya masih GR dot Com. Salahnya mengharap ditraktir. Emang kalau sudah datang bezoek bayi dan bawa kado termasuk titipan kerabat paling tidak ada 4 bungkus bukan berarti akan disuguhi minum. Soal tawaran ya tawaran, kalau mau bayar sendiri. Kalau tidak ya di anulir.

Kecian deh saya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.