Posted in Uncategorized

Mengurus Pindah Anak – 1


Jogging Track also available- dipertahankan untuk tidak serakah mengambil tanah resapan
Jogging Track also available- dipertahankan untuk tidak serakah mengambil tanah resapan

Putri sulungku Lia memang kadang seenaknya saja. Liburan kemarin ke Batam, enteng saja meng “undang” kami ke Batam. Cukup SMS lalu bilang “soal kamar, beres..” – sebuah pesan singkat yang artinya cuma  kamar dibayari tetapi ticket, makan, transportasi di atur dari kocek kami.

Saya memang dari dulu wanti-wanti bahwa anak mempunyai persoalan moneter sendiri sehingga sebisanya jangan diganggu dengan istiadat kita “pasok bulu bekti” alias “upeti” kepada orang tua. Sekarang putri yang mengambil postur tubuh saya ini minta ditemani pindahan rumah. Terutama saat packing, lalu mengawal transportasi dari rumah lama ke rumah baru, maksud saya dari kontrakan lama ke kontrakan baru.

Sepertinya bulan Juli 2008 lalu saya ke Sembawang Hill Drive Singapore untuk mengantarkan pasangan muda yang belum dikarunia anak (ihik) ini sewa rumah, kok Mei 2009 sudah harus jadi kontraktor lagi.

Rupanya masalah lidah tak bertulang. Semula pemilik rumah lama bilang bahwa dia punya rumah tak terurus (karena banyak), dan beli rumah di kawasan Sembawang hanya agar cucunya bisa masuk rayonisasi disebuah sekolah favorit. Belum berjalan beberapa lama mengontrak, penghuni sudah mulai digusah-gusah alasannya rumah mau dijual. Semula penghuni mau ngotot sebab aturannya minimal 6bulan harus sewa, tetapi bagaimana dengan tingkah laku pemilik yang kontrakan baru seumur jagung sudah bising akan menjual rumahnya.  Tetapi ketimbang ribut akhirnya diam-diam penghuni mencari rumah kontrakan lainnya. Dan mendekati hari H seperti biasa Lia minta support bapa dan ibunya.

Baru mencoba berhitung, maklum saya pegawai, gajihan sebulan sekali, SMS sudah nderodot menyerbu “Kapan kalau punya NPWP ndak perlu bayar fiskal yang 2,5 juta. Asal jangan lupa tunjukkan kartu NPWP, Kartu Keluarga (yang baru), Kartu Nikah, dan foto copy KTP .”

Coba hubungi tante Yuni, kan bisa tuh Value Air yang paling murah..” – Yuni adalah Travel Biro keluarga, jadi kalau mau bepergian, lajang ini menjadi penasihat cara bepergian paling murah.

Saya masih bergeming… Sayang gedoran selanjutnya meruntuhkan pertahanan moral “durian” saya.

Nanti papa aku sediakan Durian D-24 (Sultan), dan masih ada durian kampiun lain yaitu “AAA – ini generasi lanjutan dari D-28, buahnya besar rasanya manis-manis pahit Topi Miring,“- Sekalipun kalau di Jakarta D-24 berkonotasi kode angkutan umum dan tiga AAA mirip baterei remot tv maka akhirnya sore itu juga saya “hooh” – mengeluarkan disposisi untuk bepergian..

Reaksinya berantai….

Memasuki rumah susun ala Singapore, sesekali melihat anak kecila keluar rumah hanya saat berangkat sekolah, pulang sekolah, pulang les atau keluar makan malam di hari libur.
Memasuki rumah susun ala Singapore, sesekali melihat anak kecila keluar rumah hanya saat berangkat sekolah, pulang sekolah, pulang les atau keluar makan malam di hari libur.

Langsung saja tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan berhenti dimuka pagar. Datang utusan dari Tante “Lin” Kelapa Gading. Rupanya langsung beli selusin Bakmi GajahMada yang kami tahu sesampainya di Singapur bakalan mulai berubah rasa. Kalau kita tidak segera bilang tidak, perempuan setengah baya dan beranak satu ini bakalan membawa lagi dan lagi oleh-oleh untuk keponakannya.

Sahabat di Bekasi bikin brownies Kukus entah berapa loyang sudah menunggu di rumah. Neneknya malah lebih sibuk mau membawakan tahu, tempe, bumbu masak. Kepada neneknya saya malahan bercanda “pisang kepok satu tandan masih bisa masuk tas laptop saya..” – Jatah bagasi penerbangan hanya 40 kilogram.

CAT TEMBOK DISITA PETUGAS

Cuma ada permintaan anak yang saya tahu tidak boleh dipenuhi… dia minta dibawakan satu liter cat tembok warna putih.

Cat ini nantinya menimbulkan masalah sebab pemindai di Bandara Sukarno Hatta pada langsung menjerit, dan kopor saya dibuka. Saya bukan tidak ngeh dengan peraturan keselamatan, namun tanpa contoh gamblang “disita” maka pihak keluarga selalu berdebat bahwa ini bubuk tembok yang di campura air. Sementara sekurity punya dalil sahih rawinya yaitu “barang cairan, namanya cat,cat,dan cat, dimasukkan kaleng adalah berbahaya….” – Lalu ingat membawa Mangga Mateng dari Jakarta juga “melanggar peraturan keselamatan..”

Good bye satu liter cat tembok (dan baru ngeh ternyata dua liter)… Dulu mereka pernah ngotot membawa rokok dan suliiiit sekali diberitahu. Setelah kena denda sampai ratusan dollar, pelajaran tersebut diingat.

Caranya – Lia mengatakan bahwa dia sudah beli rokok di Singapore. Lebih murah satu bungkus 12 dollar ketimbang satu bungkus 1200 dollnar.

Pelajaran kedua yang agak murah ya kehilangan dua liter “cat dalam kaleng.” – hanya watak bangsa ini biasanya mudah pelupa, sementara yang taqwa, sholeh, dan mujahid akan peraturan negara mudah dibilang “banci eluh.”

Yang menyenangkan adalah tanpa banyak cing cong cangkeling – permintaan saya akan bebas fiskal langsung di acc, petugas di Bandara. Nyaris terkaget kodok ketika pas pelabuhan sudah naik menjadi 150 ribu rupiah.

TOILET BANDARA MEMANG YAHUUD

Bersih, kering, lampunya terang terus, bahunya harum semerbak. Paling tidak gerbang D4 bandara memang yahud. Rasanya tidak sia-sia menunggu sekian lama agar toilet Bandara setidaknya nyaman dan cukup terang untuk baca buku.

BLACKBERRY – tiarap

Ini kali keduanya. Sewaktu di Batam, saya heran email kantor yang biasanya puluhan sampai-sampai tiap minggu outlook mengingatkan bahwa jatah 100mb sudah pol sehingga perlu saya tarik ke folder di hardisk, kenapa selama dua hari sepi-sepi saja. Tetapi saya masih bisa terima SMS dan tilpun.Ternyata BB tidak suka dibawa keluar daerah.

Sementara di Bandara Singapura, Blackberry saya langsung tiarap rapat tanah. Bahkan hanya muncul pesan SOS, dan keyboard seperti terkunci. Baru bisa dipakai setelah kedua sim ditukar tempatnya alias tidak mengakses blackberry. Teknologi ini yang tidak pernah dibuka dimuka umum. Satu hari diperlukan membuka rahasianya. Ternyata password yang diminta adalah password angka kalau anda menyalakan HP dan password kedua adalah password untuk membuka blackberry. Saya keburu panik membaca signal SOS.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.