Posted in Uncategorized

ILER Mar 1953


Saya lahir 1953 di Pandegelang Banten – Dari seorang ayah bernama R. Soeratman seorang polisi baru lulus sekolah bintara, dengan Rr Soedjirahajoe anak Demang Wonosari bernama Hardjodinomo..

Tidak banyak yang diceritakan disini kecuali sebuah foto saya naik sepeda roda tiga dengan baju tebal disana sini, dengan seekor anjing warna coklat yang katanya mati diracun lantaran orang Pandegelang tidak suka melihat anjing berkeliaran. Soal baju tebal ini, lantaran bapak memang paling alergi terkena angin kencang, perutnya kembung dan bawaannya bersin melulu.

Bapak seorang bintara polisi sekarang setara Ajun Inspektur, waktu itu. Usianya masih terbilang muda (21) tahun ketika memperoleh anak saya. Ibu sering mengatakan bahwa masa kecil saya adalah anak dengan rambut lebat, begitu juga air liur saya sehingga harus dibei oto lantaran keseringan baju saya diganti akibat cairan ludah yang berleleran.

Mendekati usia mulai belajar berbicara, nampaknya terpatah-patah dan cadel. Bahkan menyebut nama sendiripun saya hanya terpatah-patah “pek bang” – sejak itulah orang asrama polisi Banten memanggil saya sebagai pekbang.

Masa kecil saya boleh dibilang kurang bahagia, maklum sebagai polisi baru kami kontrak disebuah rumah di Serang – Banten. Ayah mendapat tugas sebagai intel untuk menangkapi pemberontakan DI-TII di kawasan Banten sampai ke Lampung. Kadang ia membawa sitaan yang belum sempat dilaporkannya ke kantor. Sitaan ini bisa berupa besi, batu azimat yang dipakai para pemberontak. Ibu pernah bertanya mengapa agama yang dianut para pemberontak sebagai anti dengan kepercayaan animisme justru mengeramatkan besi, batu permata dan pelbagai jimat. Ayah biasanya hanya mengatakan bahwa sulit membedakan seseorang berontak karena kepercayaannya atau berontak karena hanya ingin merampok.

Pernah semalaman saya tidak bisa tidur lantaran ayah pulang membawa segepok foto hitam putih skala 3 R, sekeluarga tertambus sampai menjadi arang ketika rumah mereka diserang gerombolan pemberontak. Mayat dijajarkan diluar dari bapak, istri sampai ke anak-anak mereka. Rupanya mereka memberikan informasi keberadaan pemberontak kepada pihak berwajib. Dan beberapa hari kemudian pemberontak melepaskan dendamnya dengan membakar seluruh angota keuarga.

Suatu ketika ayah datang dengan membawa sebilah pisau katanya disita dari penodong. Rasa ingin tahu saya timbul, ketika ayah lengah pisau saya hunus dari sarug kulitnya dan terpampang logo garpu terbalik dan tulisan kecil “Solingen” – dan saya terjemahkan Garpu adalah Solingen, tanpa mengetahui bahwa itu adalah nama kota Industri di Jerman. Bukan main bungahnya ketika solingen ini memang tajam sekali. Lalu layaknya anak kecil pisau ikut-ikutan saya gesek ke batu asahan sambil sebentar-sebentar mengecek ketajamannya. Rupanya pisau tajam dan bahan berkualitet tinggi tidak mudah untuk ditajamkan, apalagi oleh bocah berusia 5 tahun yang belum tahu teknik mengasah yang baik Lalu pisau saya gosok dengan memberi tekanan ke mata pisau lebih keras lagi. Tiba-tiba mata pisau bergeser dan menyayat jempol kanan saya yang dari semula saya pakai untuk menahan batu asahan agar tidak bergeser. Daah muncrat kemana-mana membasahi kamar mandi. Setelah mendapat pertolongan ibu, saya mendapat omelan karena sudah lancang mengambil pisau yang memang bukan mainan anak-anak. Pelajaran yang saya peroleh, jangan pernah “underestimate” anak-anak. Mereka penuh rasa ingin tahu.

Ayah juga sangat rational. Ia paling marah kalau mendengar bik Icot, pembantu kami menakut-nakuti saya dengan Kalong Wewe, Kuntianak dan segala macam memedi. Itulah pendidikan moral yang dikemudian hari membuat saya kadang akrab dengan dunia lelembut ini. Celakanya, di sekolah justru kepercayaan demikian tumbuh subur. Di halaman sekolah kami (saya masuk sekolah usia 4 tahun) di Serang ada pohon banyan yang lebat. Tak jarang orang menaruh sesaji disana berupa tampah bambu diisi ketan, potongan ayam goreng, dan kemenyan karena katanya disitu ada kalong wewe mahluk sejenis wanita yang berbuah dada besar dan sangat gemar menculik anak kecil yang bermain-main dikala magrib tiba. Sebuah perilaku penanaman moral agar anak-anak saat magrib sudah berada di rumah, belajar, namun dengan cara tradisional.

Suatu hari teman sebangku saya tidak masuk sekolah. Keesokan harinya saat masuk ia masih dalam keadaan pucat dan tidak mau bicara, oleh teman-teman ia dikerubungi, dan gurupun tercetus bahwa ia semalam tidak pulang karena diculik oleh perempuan cantik, dibawa ke pohon untuk dimanja-manja dan setelah puas dikembalikan ke dunia manusia. Teman tadi memang tampak shok, namun saya tidak pernah tahu duduk perkara sebenarnya.

Teman lain yang berdekatan dengan saya adalah seorang wanita. Yang saya ingat giginya besar, tubuhnya besar. Tiba-tiba ditengah pelajaran ia menggelepar-gelepar sehingga pak guru sibuk memberi sumpal pada mulutnya. Itulah pertama kali saya mendengar kata-kata epilepsi. Celakanya tema-teman jadi menjauhinya sebab mereka kuatir ketularan. Akibatnya penderita makin merasa terasing.

Rumah kontrakan kami berdekatan dengan kali Serang, tidak jauh dari situ ada pol mobil Damri. Saat memanjat bagian belakang bus damri yang diparkir tanpa sengaja tangan saya teriris plat nomor sehingga darah bercucuran. Tidak saya rasakan sampai saat seorang teman yang bermain layang-layang dilapangan Damri meminta saya menggulungkan benangnya dan dia terkejut ketika benag gelasannya basah oleh darah saya.

Seperti saya katakan bahwa perkawinan usia muda membuat rumah tangga kami gonjang-ganjing. Ayah dengan sepeda motor besar merek Fuch kerapkali bertugas dan menginap di luar kota. Dan karena dasarnya ia tampan, pandai bermain musik serta piawai berbicara, banyak gadis tergoda. Salah satu namanya Titien.

Titien begitu yakin bahwa bapak adalah seorang bujangan sehingga suatu hari ibu mendapatkan surat-surat cintanya dan sekaligus alamat rumahnya. Tidak lama kemudian saya diajak mendatangi rumah Titien. Dengan lemah lembut dikatakan bahwa Mimbar adalah anak pertamanya. Rupanya Titien mengerti, bahkan kami sempat mendatangi rumah foto untuk berfoto bersama. Saya masih ingat duduk ditengah sementara ibu dan “hampir ibu” berfoto disisi kami. Foto hitam putih itu masih tersimpan, namun ibu seperti ingin menutup kenangan itu dan tak mau membicarakannya.

Urusan kesandung perempuan nampaknya belum terhenti. Satu saat ibu nampak cemberut. Ketika ayah datang dengan membawa perangkat bat pingpong dan bolanya, entah mengapa bola direbut oleh ibu yang sedang menyapu halaman lalu bola tadi diinjak sampai gepeng. Ayah merasa berbuat tak jujur kepada ibu dan hanya diam saja. Pasti dipikirnya ia bakalan reda amarahnya setelah itu. Lalu ayah berjongkok menemani saya memperhatikan tanaman pepaya yang tumbuh di belakang rumah. Nampaknya tnaman remaja ini diserang hama sehingga perlu disemprot dengan menggunakan semproan DDT (waktu itu) untuk membunuh kutu pada pohon yang diserang. Saat itulah iu mengendap dari belakang sambil mengacungkan pistol yang diambil dari lemari. Semula pistol sudah teracung ke kepala ayah. Nampaknya ia sudah putus asa akan kelakuan suaminya yang doyan perempuan. Namun melihat saya ada disamping Ayah, kesadarannya timbul. Pistol yang teracung tadi diarahkan ke atas dan satu letusan terdengar. Tetangga keruan berdatangan mendengar insiden tersebut.

Suatu saat ia pulang dengan kendaraan dan berbalut perban disana sini rupanya mengalami kecelakaan motornya bertabrakan dengan sebuah jeep. Tulang belikatnya patah. Ada sebulan ibu merawatnya untuk memulihkan patahnya tulang. Tidak dinyana ada yang membocorkan rahasia bahwa ayah sebetulnya berboncengan dengan seorang gadis. Dan gadis itupun sebetulnya mengalami kecelakaan. Walaupun jengkel, ibu tetap setia meladeni ayah.

Serumah dengan kami ada pengontrak kamar belakang. Suami istri sangat taat salat. Mereka sangat ketat mendidik anak sehingga bocah yang seusia saya harusnya bermain, sudh ditempa hidup seperti santri. Dasar bocah, kadang timbul sifat aslinya dan kedua orang tuanya kewalahan sampai mereka membawa buah hatinya agar tidak senakal Mimbar. Percaya atau tidak saat pulang dari “orang pintar” bocah tadi seperti robot. Sekali diberi mainan, dia akan main mainan itu saja sampai oleh orang tuanya digani mainan lain.

Oleh pak Dana, demikian nama orang tuanya saya dianggap hama. Setiap kali saya mengajak anaknya bermain selalu pintu ditutup dengan mengatakan Dana harus mengaji, atau Dana harus tidur siang, dana harus makan siang. Singkatnya saya tidak diijinkan bermain.

Suatu hari kami kehilangan marmut. Satu demi satu marmut menghilang. Konon kata ibu dijebak dan dibunuh oleh keluarga Dana, namun bukti memang tidak pernah ada. Hanya dugaan kuat mengingat keluarga ini pernah menyatakan bahwa marmut haram dipelihara sementara saya sebagai bocah melihatnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang perlu disayangi.

Kadang kami kedatangan orang Badui. Mereka datang berdua atau bertiga dan biasanya membawa barang dagangan. Ibu membawanya ke rumah dan diberi makan. Nampaknya persahabatan ini berjalan sekalipun kata ibu, makannya banyak dan mereka adalah orang jujur didunia.

Di halaman belakang ada tanah kosong. Sebuah barbel bekas lori kereta api sering diangkat oleh ayah, dan itu pula membekas sampai sekarang saya menyukai olah raga pingpong dan angkat besi. Dinding tembok pembatas antara rumah satu dengan lainnya nampak sudah mengelupas. Diantara kelupasan tembok, saya sering melihat burung gereja dan gelatik mematuk-matuk pinggiran tembok membuat lubang semakin besar.

Menempati kontrakan di bagian depan kami panggil pak Baru seorang atasan ayah. Sikapnya sangat dominan, teratur. Hal yang yang menonjol orang ini lebih menyerupai “agnostic” yaitu percaya kepada Tuhan namun tidak menjalani perintahnya.

Saat melihat ayah yang selalu dipanggilnya “adik Ratman” sembahyang dia memberikan komentar “Apa dik Ratman sedang mengalami problema hidup ? orang sembahyang biasanya karena seang mengalami kegundahan hati..”

Ia mendidik anak lelakinya dengan keras Bambang dan Emot. Anak pertamanya adalah bintang dirumahnya, walaupun namanya sama dengan saya namun ia sekolahnya cerdas. Tidak ada waktu untuk bermain kecuali belajar.

Suatu malam ibu memasak ketupat untuk lebaran mengingat lamanya waktu memasak maka kompor dipindahkan dari dapur ke luar. Melihat api kompor minyak yang berwarna biru mula-mula saya hanya mendekat, lalu mulai menarik sebatang lidi yang ada didekatku dan measukkan lidi sampai membara. Di kegelapan malam lidi saya acung-acungkan sehongga membentuk goresan diudara yang indah. Lalu bambang dan emot adiknya atang melakukan hal yang serupa. Bedanya ketika lidi sudah mulai habis ia menyoba menakuti saya dengan menusukkan bara dan sayangnya potongan bara lidi tersebut menempel di paha kiri saya sampai sekarang menyisakan sebuah parut melintang dengan titik kecil disampingnya. Sakitnya luar biasa sebab ternyata dulu orang terbakar api justru diolesi mentega. Bukannya diperciki air agar terjadi pendinginan sehingga tidak merusak jaringan kulit.

Lalu suatu saat kami diajak tetangga yang terbilang kaya waktu itu, namanya pak Rustam. Pria berpenampilan Dendy ini dirumahnya terdapat plang partai politik PNI. Mereka mengajak kami berlibur ke Bogor. Dengan menunggang Fiat Morris maka itulah saya diajak ke Puncak, Bogor. Namun disebuah tanjakan tajam mobil yang tua ini nampaknya takmampu menghela beban yang berat sehingga perlahan-lahan mobil mundur sementara penghuni didalamnya maklum hanya ibu-ibu bisanya berteriak ketakutan. Untunglah seorang keponakannya keluar mengambil batu untuk mengganjal ban kendaraan. Akhirnya niat untuk bersenang-senang hilang karena masih kaget.

Sekalipun saya masih usia 4 tahun, namun koran selalu menarik perhatian saya. Sebuah koran bernama Suluh Indonesia selalu menjadi incaran saya terutama komik strip Rip Kirby, Desmond tokohnya. Kegemaran membaca saya entah mengapa muncul sekalipun bapak dan ibu tidak suka membaca.

Suatu saat ibu berniat menjamu tamu. Saat itu merupakan pesta besar kalau sampai menyembelih ayam. Seekor jago dipilih untuk disembelih. Saya minta tolong tetangga untuk menyembelihnya, namun sekalipun urat tenggorokannya sudah putus ayam jago ini masih berjalan bahkan mengais makanan. Baik sang jagal jadi ketakutan. Lalu ayam yang masih mampu berjalan ini saya bawa ketempat penjagal lainnya dan kejadian sama berulang. Baru usaha ketiga ayam jago yang kehabisan darah ini mati. Bukan main ketakutan saya bahkan ketika daging dihidangkan saya tidak menyentuhnya lantaran terbayang bagaimana ayam ini menemui kematiannya.

Di halaman kami ada sebatang pohon beringin yang cukup rimbun. Suatu siang angin kemarau berhembus dengan kencangnya dan karena kepanasan dirumah saya berangin-angin dibawah beringin. Tiba-tiba dengkul kanansaya seperti dijalari benda dingin. Lalu saya menoleh dan seekor ular sebesar cacing tanah nampak bergelung sambil mematuk-matukkan kepalanya kearah dengkul saya. Sekalipun ular kecil dan tidak melukai kulit kecuali sensasi dingin, saya dinasehati bahwa ular ini binatang berbahaya Saya mencoba berlari namun sang ular seperti melayang mengikuti saya, saya tengok ke atas siapa tahu ada bocah iseng menarik benang pada tubuh ular, namun bocah mana mampu membuat ular bergelung dengan kepala tegak lalu menggerakkan diatas bumi.

Cukup, jelas ini bukan main-main. Dengan lari sifat kuping saya masuk rumah memberitahu kejadian tersebut kepada ibu yang berakhir dengan “kamu kok pintar berfantasi. Ular binatang melata, ular tidak bisa terbang dan ular menggigit akan menimbulkan luka…” – apalah daya seorang bocah usai kelas 1SR bila sudah menghadapi dunia bocah yang kadang tembus alam lain dengan pendekatan dunia nyata yang maunya serba ilmiah.

Lagu Haryati

Seorang pegawai yang yang kos disebelah rumah bersuara merdu nampak kalau waktu mandi sore maupun pagi. Lagunya itu itu saja, bak penyanyi mempersiapkan pertandingan sebuah ciptaan yang kemudian saya tahu kemudian “Aryati” dari Komponis Ismail Marzuki. Lama lama terusik rasa ingin tahu saya dan saya tanyakan kepada ibu mengapa oom Simon selalu meyanyikan lagu yang itu-itu saja. “Dia sedang putus cinta dengan pacarnya yang menikah dengan orang lain, nampaknya lagu itu membawa kenangan duka baginya…” Itulah konsep patah hati yang pertama dikenalkan dalam hidup saya.

Thursday March 2, 2006 – 06:22am (ICT) Permanent Link

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.