Posted in Uncategorized

Sukabumi


Sukabumi

Ayah harus mengikuti pendidikan Sekolah Polisi Negara di Sukabumi. Terpaksa kami harus pindah kontrakan dari Serang ke Sukabumi. Bayangan saya kota yang dingin dengan embun yang selalu menyapu para penghuninya.

Sebuah kontrakan kecil di rumah janda Nyai Belanda. Semula saya heran bagaimana seorang perempuan Sunda mempunyai anak yang kami panggil Sonya ternyata bule Belanda. Sekalipun sang suami sudah balik kenegerinya, namun tanah yang ditinggalkan di kawasan jalan Selabintana ini aduhai luasnya. Sangat berbeda udara Serang yang panas dibandingkan Sukabumi yang berhawa sejuk. Kadang bilamana ibu menyuruh saya ke warung untuk membeli minyak kelapa, betapa pemilik warung harus menghangatkan minyak kental yang membeku agar bisa mengalir ke dalam botol kami.

Kalau diajak ibu ke pasar, maka oleh-oleh berupa tape singkong “peuyeum” sudah sangat membesarkan hati kami. Kadang pulang dari pasar saya naik delman. Disinilah saat menegangkan terjadi lantaran rumah kontrakan kami berada di tanjakan jalan Selabintana, maka terkadang kuda beban yang menarik delman sering keberatan dan jalanan yang licin akibat sapuan hujan mengakibatkan kuda sering terpeleset. Waktu itu ada aturan bahwa binatang kuda bilamana kedapatan luka-luka akan mengakibatkan sang pemilik dikenai pasal penyiksaan binatang. Entah ilmu darimana, para sais sering menempelkan oli gemuk pada bagian kuda yang luka, terutama bagian dengkulnya.

Pada saat musim alpukat berbuah, kami tidak berani mengambil buah matang dari pohon sebab pemiliknya akan marah. Namun saat hujan lebat dan buah yang matang berguguran maka pemiliknya membiarkan kami mengambili buah jatuh tersebut.

Ulat Alpukat

Satu saat pohon alpukat terserang ulat bulu, dan yang menggelikan ulat ini sampai masuk ke dalam rumah saking banyaknya. Semula saya ketakutan dan geli namun seseorang mengajarkan bahwa dengan hati-hati ulat ini bisa dipegang dan ditaruh ditelapak tangan asal jangan sampai mematahkan bulunya. Sejak itu ular saya jadikan permainan untuk menakuti ibu dan adik-adik.

Suatu pagi saya melihat ulat berwarna kehitaman, timbul iseng saya dan betapa terkejutnya ketika ular dipegang, ia memiliki semacam sengat sehingga saya kesakitan. Baru saya diberitahu ini adalah jenis ulat matahari yang memang lebih agresif.

Pada umumnya perempuan geli akan ular, tetapi tangan ibu cekatan menyambar ekor bunglon yang sedang bersembunyi di pohon atau bergantung di pohon pare-pare didepan rumah.

A dog called Wanda

Tuan Markobah seorang Belanda perkebunan teh yang mahir berbahasa Indonesia mempunyai dua anak lelaki. Sebut saja Mikey dan Jessy. Mikey jauh lebih tua dari saya dan kurang berminat bermain kepada saya, mungkin selain tidak seusia dia lebih suka bermain dengan teman-temannya sesama Belanda yang tinggal di Sukabumi. Namun Jessy adiknya sangat suka bermain-main dengan saya. Untuk membujuk agar aku sudi main kerumahnya, kadang saya diajak makan bersama, bahkan kalau kedua orang tuanya tidak di rumah, saya diminta menemaninya. Ini yang merepotkan sebab selain tidur dengan saya, maka seekor anjing herder betina bernama Wanda juga ikut naik ranjang. Padahal anjing ini sudah lumayan tua, matanya agak rabun dan mengeluarkan bau tidak enak. Kalau cuaca cerah, Wanda bersedia tidur diluar kamar. Namun celakanya kalau masa penghujan disertai geledek, Wanda ketakutan sampai gemetaran. Pernah sekali kami paksa dia keluar kamar. Tidak lama kemudian pintu kamar dicakari sambil seperti menangis. Akhirnya ia kami ijinkan masuk kamar dengan bulu yang basah kuyup. Saat mengibaskan bulunya kami jadi ikutan basah dan bau bulu dan kulitnya makin menyengat.

Kalau saya menolak menemaninya tidur, Jessy dan bibik pengasuhnya tidak segan-segan datang ke rumah memohon kepada ibu saya agar saya diijinkan menginap di rumahnya. Tentu dengan janji bahwa esok harinya saya boleh memancing di kolamnya. Sebuah tawaran yang biasanya meluluhkan hati sebab di kolam itu kadang ada ikan emas yang besar, gurami, mujair dan lele liar. Saya pernah melihat para Belanda memancing dan ikan mas sebesar telapak tangan dengan mudah mereka pancing. Pada lain kesempatan, saya melakukan hal yang sama, namun tak seekor ikan emaspun kami dapatkan. Rupa-rupanya ikan emas tadi dibeli dari pasar lalu dibiarkan kelaparan sebelum dimasukkan kedalam kolam.

Seperti dikatakan bahwa selain ikan emas, kadang ikan Gurami sebesar kotak kaset saya dapatkan. Celakanya Mikey selalu memiliki peraturan bahwa ikan itu harus dikembalikan ke kolam karena masih kecil. Akibatnya saya hanya mendapatkan ikan mujair yang kecil-kecil saja. Sejak itu tawaran memancing tidak menarik perhatian saya.

Telur Paskah

Halaman samping tuan Markobah sangatlah luas. Ditanami nanas yang kalau sedang musim berbuah saya sering diberi beberapa buah. Di halaman ini Wanda sering dilatih dengan cara melemparkan bola kasti ke atas genting, dan Wanda sekalipun sudah tua sigap menangkap dengan mulutnya. Suatu siang, Jessi datang kerumah, katanya mereka merayakan paskah. Saya tidak ahu apa arti paskah sampai ketika masuk kehalaman rumahnya beberapa Belanda berkumpul dengan berpakaian indah, masing-masing membawa bungkusan “kado” – kecuali saya tentunya. Setekah bernyanyi bersama dans aling memberikan selamat, tiba-tiba para Belanda kecil bertemperasan keluar rumah menuju halaman luas. Mereka mengendap-endap seperti kehilangan sesuatu. Ternyata itulah acara mencari telur paskah yang berwarna warni dan terkadang dikelabuhi dengan kuit telur lain yang sudah kosong.

Listrik

Saat liburan Mikey mengajak saya menemaninya menginap di Villa milik perkebunan the Goalpara. Saat mikey bermain sepede menuruni pedesaan saya ditinggal sendiri. Lalu iseng saya lihat sebuah kotak dengan dua lubang menempel didinding.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.