Posted in Jam

Jam disetel pakai gelombang Radio


1004976_rgb_mMendadak sebuah email dari kantor mengucapkan selamat bahwa saya telah menyelesaikan hubungan kerja selama lima tahun. Padahal lima tahun yang lalu saya bekerja pada perusahaan nyaris sama. Bahkan nyaris enam repelita. Tetapi namanya dunia pertambangan, mirip pelana kuda. Ada naik dan ada menurun.

Lalu sebuah link diberikan kepada saya, isinya, “silahkan pilih hadiah yang diinginkan?”

Agak bingung juga sebab dari puluhan hadiah yang ditawarkan oleh OCTANNER sang OE, semuanya bagus.

Kalau mau jam tangan, saya pikir buat apa sebab biasanya anak saya complin “jam jadul“, mau cincin emas dikira dari bekasan wakil rakyat kita.

Kalau pilih pulpen, saya sudah pernah punya beragam pen dari yang ditawarkan orang di airport dengan iming-iming selundupan pramugari dan pramugara dari luar negeri. Padahal aselinya di luar negeri sana harga barang juga tidak murah.

Akhirnya saya berkesimpulan pen yang pas di tangan kok cuma keluaran SHEAFER. Sementara pen dengan warna kondang hitam berpeci putih, cuma menang cantik kenes, tetapi sekali akan didaya gunakan persis Ratu Kecantikan ndak becus di dapur.

Akhirnya saya pilih jam meja sebab iklannya agak mengagetkan.

Pertama katanya sebaiknya menyetel dikerjakan pada malam hari. Begitu – baterei dipasang, dekatkan jam meja pada jendela agar bisa menerima gelombang radio yang dipancarkan dari sebuah setasiun radio di Amerika dapat menyesuaikan waktu secara “on air”.   Dengan pemancar gelombang panjang, maka jam di Jakarta langsung diracun agar menjadi pejah gesang nderek Amerika.

Setelah membaca manualnya, hup beegitu baterei dipasang, tangan menit langsung berputar cepat dan berhenti pada jam 16:00. Rupanya jam ini harus disetel apakah mau ikutan negara bagian Amerika yang mana. Masih ada setelan DST (Daylight Saving).

Tapi saya memilih menonaktipkan DST dan Waktu negara bagian, dan menyetelnya sesuai dengan Waktu Indonesia Barat.

Sekarang jam menjadi kesayangan saya. Tiap menit saya cocokkan. Mudah-mudahan jam yang sudah lebih tua dari umur anak saya tidak iri.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.