Posted in Uncategorized

Malas


Di sebuah apartemen yang dikontrak anak saya adalah milik orang Singapore keturunan Malaysia, keturunan Jawa maka saat hari pertama kami memasuki apartemen ini, sang pemilik rumahpun masih belum sepenuhnya memindahkan barang-barang milik mereka.

Sambil menunggu pemilik rumah mengosongkan kamar saya duduk didekat jendela sambil mengambil sebuah majalah berbahasa Malaya dengan tajuk Manja. Langsung perhatian saya tertuju pada sebuah artikel bahwa tak selamanya malas itu kelabu – alias selalu buruk.

Dari banyak alasan yang dikemukakan, salah satu yang membuat saya mesem kecut ketika penulis mengatakan: “kalau bangsa kita tidak malas, tak akan orang Indon, Phillipine datang mengais rejeki disini..” – ya kalau soal menyetrika pembantu, istri dokter di Jakarta Barat sudah dua kali membunuh pembantunya, lolos dari jeratan hukum setelah dinyatakan “sakit ingatan…”- Jadi bukanMalaysia saja.

Kalau Malaysia bisa ber”GR” lantaran malas maka orang berdatangan ke negerinya, sementara negerinya tetap kaya. maka malangnya kalau kita tidak bisa mengatakan “bangsa kita malas lalu Belanda datang kemari..” Bedanya yang datang menyiksa dan menjajah dan ketika mereka pergi kemiskinan yang disisakan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.