Posted in Uncategorized

Jok Bodol


Sarung Jok belum setahun sudah botak
Sarung Jok belum setahun sudah botak

Kalau rumah anda hanya dihuni dua orang lebih dari separuh baya usianya, lalu dalam seminggu mungkin hanya lima hari kami tinggal di rumah.

Masih ditambah pemiliknya lebih suka duduk “nggeloso” alias duduk beralaskan bantal kecil dilantai, maka tugas kursi kayu jati yang usianya melebihi 6 pelita ini cukup enteng. Sementara kulit joknya kerap diganti manakala sang pemilik bosan warna yang itu-itu saja.

Padahal tindakan ini cenderung mubadzir, mengingat tugas kursipun sekedar untuk bersender saat menonton sinetron cengeng tak masuk akal tetapi “I love sinetron too much.”

Maka bagaimana tidak menyebut “sontoloyo” ketika belum satu tahun jok ini diganti sudah memperlihatkan tanda membotak berguguran.

Hari Sabtu diakhir Juni, kamipun bergegas menuju toko di kawasan Senin sebab selama enam repelita toko yang berpangkal kawasan Balai Pustaka ini tidak pernah mengecewakan dalam pelayanan dan kualitas barang. Tidak ada maksud untuk protes.

Begitu “jleg” kami parkir didepan toko yang sudah nampak ramai, kami diajak masuk ke sebuah ruang yang lebar dan berpendingin udara.  Sang pemilik sudah mulai renta dan memilih duduk dipojok memperhatikan aktivitas toko, sementara regenerasi sudah berlangsung.

Pertama kami utarakan maksud kedatangan kami untuk membeli alas jok. Setelah transaksi terjadi, baru komplin diusung. Berikut transkrip pembicaraan.

Oh iya, bukan bapak dan ibu saja yang komplin, tetapi banyak…

Sekarang barang tersebut kami kembalikan ke pabrik, sebab kulitnya mudah rontok..

Harusnya itu bahan untuk tas, tetapi oleh salesman diaku sebagai bahan untuk jok, ya begini jadinya..

Inilah kehebatannya tinggal di negara Kesatuan ini. Tanpa tedeng aling-aling, ATAU RASA DOSA  mereka mengakui keteledorannya, dan sebagai pelanggan saya harus puas menerima penjelasan tersebut dan mengorek kocek untuk membeli bahan yang “mungkin lebih baik..

Tidak ada rasa marah, kapok, selama mereka jujur memberikan penjelasan. Pikir-pikir, saya kok memiliki perilaku menyimpang dari yang digariskan pakar semacam Mario, Rhenald, Herman dsb. Sudah “jeblok” beli barang cukup mahal masih rujuk juga.

Malahan kami sempat membeli tikar plastik dan beberapa lembar karpet anti slip. Luar biasanya, saat meninggalkan lokasi, pak parkir, pakai mengingatkan, jangan lupa pakai safety belt, dan hati-hati dijalan ya.

Mudah-mudahan kali ini saya mendapatkan barang sesuai keinginan dan mutu setara dengan biaya yang saya keluarkan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.