Posted in bogem, pkp, sunat, supit

Bong Supit Bogem-2


Bong supit Sunat

Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya Gilang menikmati nikmatnya disunat.

Pertama tentunya selamatan saat ibunya heboh pesan nasi Begono dan sambil makan Gilang diberi hadiah “angpauw” – tetapi amplopnya berwarna putih mulus.

Sambil menyerahkan amplop, seorang tantenya menanyakan “sakit tidak di sunat..” – dijawab tangkas: “Angpauw yang saya terima menghilangkan semua rasa sakit. Saya mau kok di sunat ke dua kalinya.”

Beberapa kerabat Gilang yang tinggal di luar negeri, “titip angauw” melalui kami dalam ujud IDR.

Ketika titipan diberikan kepadanya dan kami selalu berpesan agar ia menyebut angka jumlah yang diterima serta ucapan terimakasih (mencegah fitnah, apalagi diantara keluarga) dan , enteng dia mengetik SMS “Bapak-bapak, ibu-ibu, oom dan tante, saya Gilang menerima angpauw dalam bentuk mata uang asing, jadi jangan repot ke money changer.”

Ada seorang tantenya menanyakan “kamu dari tadi angpauw saja yang dibicarakan, emang butuh uang berapa? – bagaimana kalau kami sumbang sebesar angpo ulang tahun..

Anak gemuk ini menjawab balik, “ulang tahun bisa datang setiap tahun. Tapi potong kulup, cuma sekali seumur hidup. Jadi Tante harus mempertimbangkan.”

Untuk orang lain, mungkin kesannya Gilang mengomersilkan potongan tubuhnya. Namun bagi kami – justru lucu.

Lalu saya ingat 43tahun lalu, uang saweran sebesar Rp25 hanya cukup membeli kemeja warna merah jambu lengan panjang dengan sertifikat “tetoron 65% cotton35%” – Jaman itu sudah digolongkan baju elit.

Maklum kami baru pindah dari berbaju kelas “berkolin, drill dan cita biasa dan tepung kanji” ke kelas Tetoron, Dacron import dari Jepang gak perlu disetrika terlalu panas, zonder kanji, tidak perlu dikucek terlalu lama. Sekalipun serakahku muncul mengapa cuma 65% tetoron kenapa tidak 100% sekalian. Belakangan baru tahu kalau 100% bakalan panas dipakai dan tidak menyerap keringat.

Jadi berhayal kalau saja pak Harto masih hidup lalu pura-pura katarak “inflasi” dan ikut kampanye pasti akan bilang “jaman saya baju elite selembar 25 perak… Jaman sekarang 250 ribu.”

Kembali ke Gilang. Lama kelamaan, jenuh juga Gilang dihujani pertanyaan yang mirip dan kembar dan basi seperti “sunat dimana, kenapa bukan dokter, kenapa baru disunat sekarang, sakit tidak, kalau pakai celana geli?, gimana cerita dari awal sampai selesai kulit di cres, dapat angpauw berapa?, mau dibelikan apa?…

Rupanya dia tidak kalah akal. Semua pertanyaan dijawab melalui SMS begini:

“Ketik saja REG (spasi) TANYA PAKDE MIMBAR lalu kirimkan ke nomor HP pakde.”

Kurang asem, dia yang terima angpauw pakdenya dijadikan juru bicara.

KOMENTAR MBAK IIN – Nuwun sewu Pak mimbar, mau nyuwun petunyuk soalnya masih pemula nih…. saya punya 2 jagoan sudah masuk masa dikhitan, tinggal nunggu keberanian saja untuk melaksanaken tugas tersebut, makanya saya harus siap-siap… Mau nanya klo mau ke Bogem ini harus pake acara ngedate ngambil nomer dulu apa langsung datang aja? Kenapa kok tindaknya malam-malam? Jam 3? apa menghindari antrian atau bagaimana? Matur nuwun infonya…

Jawab saya; Jam 03:00 itu sudah antri.. Apalagi waktu liburan  sekolah. Soal pagi sebab anak belum banyak beraktivitas, jadi kemungkinan perdarahan diperkecil.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.