Posted in Uncategorized

Salah Satu Korban Bom adalah sahabat pena saya


Majalah mingguan yang bertajuk “Cicak melawan Buaya” belum klaar saya baca. Ini bukan fabel melainkan perseteruan antara institusi Polri dengan KPK. Lalu mengutip komentar pejabat yang mengidentifikasikan institutnya sebagai BUAYA dan lawannya sebagai Cicak. Buaya adalah mahluk yang besar, berasal dari alam purba, tetap selamat sekalipun teman-temannya sudah musnah. Giginya mampu mencabik mangsa berserpih-serpih dalam sebentar saja. Mudah-mudahan identifikasi sebagai buaya akan menggambarkan mahluk yang kalau sudah kenyang akan berjemur dan membagi rejeki kepada mahluk yang lain.

Lho sekarang Buaya yang tak mempan di sadap tilpunnya rupanya kecolongan mahluk “salamander” yang mampu masuk keluar hotel untuk merakit bom C4 tanpa seorangpun mencurigainya. Atau kita masih terobsesi pepatah “Postman Never Strike Twice?.”

Mudah-mudahan media tidak menulis tajuk berita sebagai “Buaya yang digembosi oleh Salamander” – lantaran sibuk perang menggembosi Cicak dan lalai tugas lainnya. Salamander banyak dipakai sebagai inspirasi manusia yang pandai menyamar.

Sambil menghela napas dalam saya membaca peristiwa tragedi Bom Jumat 17 Juli 2009. Nama perusahaan Holcim selalu dikenang sebab perusahaan ini pernah mengundang kami menyaksikan fasilitas pabrik semennya di Cibinong.

Tiba-tiba saja saya terpaku pada sosok bule sedang didorong pakai kursi roda.

Keterangan gambar mengatakan bahwa pemilik nama Scott Merriless ini penulis buku sejarah Batavia in Nineteenth Century Photograph, juga pengajar pada beberapa Universitas di Indonesia.

Saya ingat 8 November 2008 ada nama yang mirip dan mengaku suka akan tulisan saya mengenai “Ber-tram-way dahulu, busway kemudian” – juga saya tulis di Wikimu. Spontan saya malu akan kemampuan copycat saya yang nggegirisi.

Pasalnya hanya membaca sepotong cerita tram di Betawi kok sudah berani mengembangkan cerita seakan-akan penulis buku lagak penuh riset. Kali ini aku kena batunya.

Saya lalu meminta maaf kepada Scott bahwa saya kadang menulis liar berdasarkan potongan koran yang saya temukan dimana saja. Jelas kalau dicari mana buku referensinya, saya akan tersipu minder.

Saya memang tidak bisa membantunya dalam memberikan data sejarah yang ia butuhkan. Pak Scott semoga cepat sembuh ya dan tidak kapok menulis sejarah Batavia.

Terlampir email pak Scott Merrilees. Dear Bapak Bambang, I was searching the internet and I came across a very interesting article you wrote dated 12 January 2004, entitled “Ber-tram-way dahulu, bus way kemudian” which I greatly enjoyed reading. I am the author of a book called “BATAVIA in Nineteenth Century Photographs” which was published in 2000 and looks at Jakarta in the nineteenth century through the window of some of the earliest photographs ever taken of Jakarta.

I am continually researching Jakarta in the nineteenth century and hope to one day publish a revised edition of my book. I was very interested to see that you had detailed information about Mr. Martinus Petrus Pels and his development of the horse tramway in Batavia in the late 1860s.

I would like to learn more about this subject and therefore may I please ask you what source material or book did you use to find that information on Martinus Petrus Pels and his horse tramway? I would also like to find the same book or source material that you used if possible and study it further. Thank you very much for your help with this. I see on one webpage that you live in Bekasi but that on another webpage you live in Perth.

Where are you living now? I live in Melbourne but spent almost 17 years living in Jakarta between 1989 and 2006. Kind regards, Scott Merrillees

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.