Posted in teluk betung

Sesaat bersama para penggali kubur di Lampung


bunga_1Tumpukan bunga Kamboja ini sedang dalam proses dikeringkan dengan memanfaatkan panas matahari. Konon menurut bang Husni, perkilonya dihargai 25 ribu rupiah. Sepintas angka yang besar tetapi bang Husni penduduk Kupang Teba, Teluk Betung – Lampung menyatakan bahwa mendapatkan satu kilogram bunga kamboja kering untuk bahan parfum, bukan barang yang mudah. “pemilahan yang ruwet,” katanya. Tapi dia menggunakan bahasa sederhana “pake dipilih-pilih ama yang beli..”

Husni dan kedua temannya adalah “teman” saya. Kami sama-sama bekerja sebagai penggali. Saya penggali sumur minyak, sementara Husni dan kedua temannya menjadi penggali kubur “Anugrah” – Teluk Betung. Kami hanya bersua setahun sekali sehingga kepada istri saya selalu bilang “siapkan salam tempel untuk mereka..

Seperti layaknya orang yang merasa memiliki tradisi setempat, menjelang bulan puasa saya menyempatkan diri berziarah ke makam bunda saya yang meninggal delapan tahun lalu.

Maka selama delapan tahun adik-adik saya tidak pernah berkesempatan meledek ibunda “kalau Mas Mim mau datang, leher ibu jadi panjang sebentar-sebentar melongok ke jalan.”- Adik-adik hapal, saat bunda bersama kami, begitu ada tilpun bahwa kami akan data ke Lampung, maka bergegas beli ikan Lele atau Cumi kesukaan cucu-cucunya terutama sulung saya Lia. Kadang dibelain sampai berhutang, kalau gajian belum datang.Teman-teman dikantor, sampai hapal bahwa kalau saya makan di warung, yang dicari adalah ikan lele goreng, dan tak pernah jemu, seperti hendak bertolak belakang dengan sekelompok orang yang merusak patung yang sama di Bekasi lantaran mahluk ciptaan Tuhan ini adalah satowan penuh kejorokan.

Begitu “jleg” kaki memasuki tanah pemakaman, mata saya biasanya terpaku kepada dua makam kembar, lebar dan diberi tembok sejengkal tingginya bertegel merah ati. Ahli kuburnya bernasib tragis, terlibat masalah keuangan, dimanfaatkan oleh “orang pintar,” berakhir suami istri dibunuh oleh pak dukun. Mudah-mudahan sang ahli kubur tidak marah saya selalu menceritakan kisah hidupnya. Sayapun tidak akan menyebut nama demi keluarga yang ditinggalkan. Pendek akata di kuburanlah kita belajar bahwa terlalu percaya kepada siapa saja tanpa pakai logika, kadang justru dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Kadang saya mendapatkan inspirasi hidup saat bermenung didepan pusara ibu.

Saat melompati nisan-nisan yang membentang menuju pemakaman ibu, teman-teman ini langsung mengendus kedatangan saya. Biasanya mereka langsung meninggalkan pekerjaannya sambil membawa pengki, sapu, golok untuk membersihkan makam ibunda dan embah yang cuma secuil.  Pernah sekali tempo saya tegur sebab mereka masih bertugas memakamkan jenazah yang baru diturunkan ke liang lahat, mereka sudah meninggalakan upacara memapaki kami. Juga sekali tempo mereka sedang berkumpul disebuah sekelompok makam yang dipagar besi. Salah satu ahli warisnya nampak ingin memperbaiki makam ini. Dan zonder bicara ini itu makam berpagar langsung mereka tinggalkan demi kami.

Seorang yang lebih tua biasanya mengingatkan saya untuk “menulis buku tamu..dulu GEH“. Geh adalah pengganti “dong” dalam bahasa Indonesia dialek Lampung.

Tetapi  buku tamu yang dimaksud adalah lembar batang kaktus yang tumbuh saling tumpuk menumpuk diatas pusara embah.

bunga_2Disitu saya mencari lidi, kayu atau apa saja untuk menulis tanggal kedatangan. Selesai menulis kami berdoa sebentar sementara teman penggali kubur mengumpulkan daun-daun kering untuk segera dibakar didekat makam. “Perbuatan Aneh?,” – kalau anda tahu dimasa hidupnya bunda suka sekali mengumpulkan “wuh” alias sampah untuk dibakar.bunga_4

Biasanya sambil mencari sampah, saya mewawancari mereka – siapa saja yang pernah berkunjung kesana, apakah ayah saya pernah mengunjungi pusara isterinya, atau adakah anak-anaknya yang dilahirkan dari rahim namun lebih afdol mengikuti perintah orang lain yang bergelar keagamaan yang mentereng ketimbang permintaan ibunda “sapa sing bezuk aku nek aku dikubur kelak..

Sesederhana amanahnya itu tetapi sayangnya tidak semua putra dan putrinya tergerak mendatanginya padahal lokasinya dipinggir jalan besar yang dilalui oleh kendaraan kecil angkutan kota.

bunga_3Usai ritual singkat, saya ajak Satrio dan Mamanya berfoto bersama ketiga penggali kubur yang setia. Semoga bang Husni dan teman-temannya yang hari itu baru saja dapat jenasah dua orang, bisa mengumpulkan bunga kemboja di kuburan lebih banyak dan bagus.

Oh iya kalau ada kembang kamboja abnormal seperti bertajuk empat atau enam, aku dikasih tahu ya..

Oh ya sehabis ke makam biasanya acara saya adalah jajan Bakmi Lampung yang bernama Bakmi KOGA atau makan empek-empek ikan Tengiri di toko “91.” – kalau ini sudah terlaksana, maka ritual ke Lampung sudah klop dan afdhol.

Jakarta 17 Juli 2009

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.