Posted in Uncategorized

Presenter atau Dispenser


Di awal acara santai, misalnya minggu pagi tak jarang dihadirkan dua presenter lelaki dan perempuan. Biasanya mereka membuka acara dengan joke kecil. Misalnya “pemirsa suasana di sini sejuk, mungkin karena saya orangnya “cool” – lalu ditimpali presenter yang lain, kalau saya merasa kepanasan mungkin karena saya orangnya hot. Akhirnya mereka bergumam, kita ini presenter atau dispenser. Joke yang cerdas menurut saya.

Namun tak jarang – terutama pada acara wawancara presenter ngotot seakan ingin menggiring nara sumber kedalam “jebakan” yang mereka buat. Misalnya terjadi musibah pesawat. Sudah sejak awal dikatakan bahwa tim SAR belum bisa mendekati sasaran karena cuaca tidak bersahabat. Entoh mbak presenter kita kadang dengan suara tinggi mendekati tidak nyaman didengar, nyaris berteriak, bertanya – jadi menurut tim SAR adakah korban yang selamat.

Di kesempatan lain seorang Ustad yang diperkenalkan sebagai bekas anggota JI.  “Ustad, apakah menurut ustad – nama tokoh yang kami sebut tadi ada hubungannya dengan Nurdin Top?”

Ustad : “saya tidak tahu, sebab dalam daftar alumni nama tokoh Mr. X ini tidak pernah ada kenapa sekarang muncul? – saya tidak kenal”

Presenter : “kalau begitu menurut ustad, benarkan dia masuk petinggi JI atau cuma relawan bunuh diri…”

Ustad: “ya kalau ditanya begitu saya tidak tahu…”

Tentu terlalu gegabah kalau saya sampai bilang “stupid question got stupid answer

Atau kasus yang masih hangat saat presenter mewawancarai pk RT mengenai catatan pribadi pemilik rumah yang dipakai kelompok Nurdin Top di Kampung Beji Temanggung. Berkali-kali pertanyaannya adalah “apakah anda tahu bahwa rumah kediaman Haji S digunakan kelompok teroris ” – berkali-kali pak RT menjawab tidak tahu, namun pertanyaan serupa mencecar juga. Sampai pak RT tertawa kecil “lha wong saya memang ndak tahu.. Harus bagaimana”

Lebih aneh saat anda membandingkan gara reportasi dua media TV. Satu presenter membawa “drama” dengan mengatakan ada anak kecil, ada nenek yang disandra oleh Nurdin Top. Lalu bagaimana tindakan DenSus menyelamatkan sandera. Sementara saluran lain mengatakan bahwa hanya satu orang didalam bangunan tersebut yang diduga NurdinM Top.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.