Posted in Uncategorized

Burung Merak Tinggi Melayang


Pertanyaan publik ketika mbah Surip meninggalkan kita adalah kemana Rendra sang pemilik tanah “wakaf” makam. Ternyata publikasi Manohara dan Mbah Surip dianggap lebih yahuud dijual ketimbang sang burung merak. Tatkala Umar Khayam terbaring di rumah sakit menunggu “kwitansi terakhir yang disodorkan Izroil..” – maka majalah Tempo menulis bagaimana burung Merak Rendra mebacakan puisi Kemarin dan Esok Sama Saja Sedangkan kepada istri penyair Danarto ia meminta lagu Ave Maria. Namun saat terakhir Rendra ia hanya berbisik kepada Cak Nun bahwa sudah dua kali Narti alm mendatanginya. Ia merasa “kwitansi sudah habis..”

Bagi saya Rendra adalah tokoh ngeyel yang pertama saya kenal setelah dewasa. Proses ia berganti kepercayaan tidak lepas dari bagaimana ia mengeritik lantang kepada teman-temannya yang sedang menjalankan ibadah. Ada saja latar belakang kepercayaan yang saat itu dianutnya untuk dibenturkan kepada kepercayaan orang lain. Kalau saja temannya emosional lalu mengangkat kata Jihad dan membalas ejeken dengan ejekan, mungkin Rendra tidak pernah seperti yang kita kenal sekarang. dengan nama Wahyu Sulaiman Rendra.

Gelar Burung Merak diberikan kepadanya saat ia menikah kedua dengan Ken Zuraida. Di Kebon Binatang ia melihat seekor burung Merak jantan di ikuti oleh dua betina. Ia ngakak sambil berkata “itu Rendra..” – dan sejak itu ia sohor nama Sang Burung Merak. Sekalipun tak sedikit yang mencibir sinis dengan keputusannya itu. Rendra maju terus.

Ngeyel yang lain adalah komentar terhadap orang yang bersusah payah mencari gelar kebangsawanan dibelain sampai membeli, agar nampak dimata masyarakat sebagai darah biru. Rendra malahan mengangkat cerita Raja Jawa yang karena kalah dengan pengeyel lain, mengumpankan anaknya sampai diketahui semua rahasia kesaktian sang mantu.

Giliran mantu sungkem, kepalanya diinjak sampai tewas. Di koran lokal Yogya ia malahan mengatakan :”Raja itu sebetulnya preman alas. Dia membuat institusi dan aturan agar riwayat hidup yang kelam bisa ditutupi…” Padahal simbah saya selalu menganjurkan manakala Raja lewat harus berjongkok sambil menyusun sembah.

Lalu ia dengan Bengkel Teaternya membuat arena kamping di pasir Parang Tritis. Saya dan teman-teman ikut tiduran disana sambil menikmati pembacaan puisi dan mendengarkan deburan ombak Samudra Selatan. Nama yang masih ingat adalah “Sukmawati Sukarno” dan Azwar AN.

Sampai sekarang belum sepenggal puisi saya buat.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.