Posted in gegana, robot

Petok-petok-dar-der-dor Robot Lokal menekuk mesin pembunuh dari Malaysia


PETOK-PETOK – DER

Biasanya dalam filem action ataupun horror, unttuk menambah ketegangan sutradara menambahkan suara organ atau detak jantung, duk, duk. Namun pada 8 Agustus2009, suasana kebun tembakau dan sawah di desa Beji di Temanggung JawaTengah dalam siaran langsung TV One ditingkahi suara ayam berkotek petok petok, lalu tidak lama kemudian terlihat serentetan tembakan dan asap mengepul rumah yang digempur peluru dan bom.

Soal petak-petok, saya pernah menjadi petani ayam. Ayam betina berkotek kalau ia bertelur atau ada sesuatu yang mengganggunya. Soal latihan menembak, sejak kecil terbiasa melihat Brimob berlatih menembak. Sekalipun sampai sekarang tidak bisa menembak tepat.

Lantaran berkantor di Lantai 6, bersebelahan dengan lapangan tembak Marinir di Jalan KKO – seperti menganggap hanya latihan menembak para prajurit Marinir. Padahal yang dilakukan kali ini taruhannya nyawa. Karena peristiwa ini sungguhan, apalagi ada keponakan yang “tak gendong” dari kecil menjadi salah satu anggota detasemen88, maka ada emosi yang terlibat sekalipun mungkin saja dia bertugas di kota lain. Hari itu saya mengenakan batik untuk mendatangi resepsi pernikahan salah satu mudlogger. Tetapi sejak jam 07:00 sampai jam 10 lebih, bolak balik urusan mandi tidak selesai-selesai. Laporan langsung TVone, menyihir saya untuk terpaku didepan tv.

ROBOT LUCU MUNCUL

Drama maut yang begitu kental ini seperti dicairkan ketika dari sudut kanan lokasi penggerebekan, muncul mahluk kerdil dengan kaki beroda rantai dan capit berputar kesana kesini. gerakannya terpatah-patah, kadang berhenti sejenak, kadang berjalan cepat. Kadang saya malahan seperti melihat kera dalam topeng monyet yang sedang mengikuti perintah tuannya.

Robot ini bukanlah mainan robot keponakan saya Bagus yang berulang tahun ke-9 pada hari yang sama 8 Agustus 2009.

Beberapa tahun lalu saya berkesempatan menonton saat awal Tim Penjinak Bom mengoperasikan Robot pengintai yang konon diberi nama pleh pembuatnya dari LIPI sebagai MOROLIPI1.0 alias Mobil Robot Penjinak Bom Lipi versi 1.0. Roda penggeraknya menggunakan suku cadang Vespa. Penggeraknya adalah aki mobil 24Volt.

Estiko Rijanto

adalah perancang Morolipi yang telah menghabiskan waktu selama 14 tahun di Jepang untuk memperdalam ilmu mekatronik di Tokyo University of Agriculture and Technology. Pendidikan S-3-nya mengambil jurusan teknik kendali dan diselesaikannya sembilan tahun lalu. Saking terobsesinya dalam bidang mekatronik, ia telah menciptakan sejumlah robot sederhana layaknya mainan anak-anak yang dapat diaplikasikan dalam kebutuhan lain. Bila dilengkapi X-ray, maka robot mampu melihat tembus pandang. Ini yang menyebabkan setiap operasi anti teror selalu disertakan robot.

Saya berkesempatan menonton sebuah filem saat tim penjinak bom mengoperasikan alat tersebut. Sebuah potongan logam mirip bom dipasang disudut ruangan. Lalu operator Robot menggerakkan lengan robot sambil mengamati citra yang dikirimkan oleh mata robot. Suasanya menjadi hening ketika citra yang diinginkan tak kunjung nampak di layar monitor.

Ketegangan dipecahkan oleh suara dalam bahasa Jawa “fileme kuwalik =filemnya terbalik” – lalu Robot didekati dan selembar filem hitam segera dibalik pemasangannya. Narasi suara bule mengatakan “nampaknya masih ada learning-curve bagi kepolisian Indonesia untuk mengoperasikan robot pengintai…“

Untunglah sekalipun deg-degan kekuatiran saya bahwa robot akan terpeleset saat naik tangga atau tanjakan tak terbukti. Robot mampu melakukan tugasnya dengan baik. Petugas menyelesaikan masa pelatihan mereka dengan baik.

Petok-petok- dar der dor.

Terimakasih Polisi Indonesia. Begitu dikabarkan kalian melakukan tos-tosan, lalu garispolisi ditarik, helm dilepas dan beberapa “crek-crek” menyalakan rokoknya. Itu pertanda operasi selesai. Sayapun menarik napas lega dan air panas di ember sudah mendingin kembali. Tidak mengapa.

Yang hampir terserang stroke – boleh kembali ke rumah sakit sebab keluarga sudah diabaikan selama beberapa hari. Yang terkena tipes, hati hati dengan makan dan balik ke rumah sakit untuk di infus.

Pekerjaan anti teror adalah kerja tim. Seperti juga main bola, harus sudah saling mengenal tabiat masing-masing anggota. Mungkin itu yang menyebabkan dua personel DenSus kabur dari rumah sakit untuk meneruskan tugas yang tertunda.

Di jalan baru sadar “angpau” buat pengantin malahan tertinggal. Undangan terbawa. Waduh sudah tua bener aku.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.