Posted in adam air, bandara, gaya hidup

Suatu siang di Terminal 3


Sabtu, habis menghadiri pernikahan salah satu anggota SLS di masjid Akbar, saya bergegas ke terminal 3 menjemput keluarga yang baru pulang dari Yogyakarta. Baru ngeh kalau penjemput sekarang boleh masuk kedalam ruang tunggu. Ada bakmi GM, Circle K, JCO setidaknya itulah yang saya lihat sekalipun kecewa mengapa warung franchise macam Circle K tidak menyediakan koran atau majalah. Baru saja bokong menapak di bangku kayu dan perut yang mengganjal diatur agar duduk confortable seorang bapak menegur saya “mau kemana?” Pasti bukan orang Jakarta, sebab masyarakat Batavia begitu didekati orang tak dikenal langsung mengasah kuku.  Saya jawab menjemput keluarga. Ternyata bapak ini mengantarkan anaknya kuliah di UNPAD, mencarikan koskosan seputar jalan Dipati Ukur yang sekarang setengah juga perbulan untuk seorang pegawai negeri macam dia. Lumayan menggigit kantong.

Maka kami mengobrol dan inilah kelemahan saya kadang keterusan seperti Bandung kondang dengan recruitment anak-anak menjadi militan. Sebetulnya pendapat pribadi saja. Dulu mendengar anak-anak muda menjadi militan ya sah-sah saja. Tetapi serentak mendengar anak anak mudah sekali dicuci otak dari anak lucu, penurut dimata orang tuanya mendadak menjadi orang Berani Mati dan (takut hidup). Apalagi baru saja menonton drama JatiAsih dan Temanggung di TV beberapa waktu berselang. Pikiran jadi banyak takutnya.

Lalu saya tanya jadwal penerbangan pesawat Mandala ke Padang – wajahnya kontan seperti handuk kernet kopaja tersiram air panas. Ia menekuk wajah lesu sebab pesawat baru berangkat jam 18. Padahal Harlogie saya manteng di angka 12:00. Ibu sebelah saya “melu payu” – alias ikutan ngedumel – saya ke Semarang delay hanya sejam, lalu sejam lagi sampai sekarang sudah 3 jam terdampar.

Kapan yah punya pelayanan tiket murah, aman dan bebas delay.

Tidak lama kemudian ada pengumuman pesawat sudah mendarat. Saya bergegas mendekati pintu keluar pertama dengan segelas capuchino dan bonus donut JCO. Seorang Satpam berseragam nampak menjadi didepan pintu.

Seorang lelaki berperawakan tinggi besar, baju lengan putih, celana biru dan sepatu ala tentara – mencoba masuk. Petugas tegas, tidak boleh, sebab ini pintu keluar. Terjadi nego, namun sekalipun ada tanda pengenal sesama bandara Petugas tetap bergeming.

Tiba-tiba di belakang saya terdengar detikan sepatu. Dari tarikan suaranya decibel ini cuma bisa dihasilkan dari beradunya stilleto dengan lantai semen. Belum muncul manusianya – wangi sudah sampai. Aha perempuan berpostur langsing 170-an, rambut sebahu, model wajah latina, bergaun merah ketat menyeret kopor kabin.

Petugas mencoba menghentikannya, eh yang disodorkan adalah lengan kuning berkilat dan masih nampak bulu halus, dengan jam keemasan sambil bilang ”untuk hari ini saja deh mas, saya sudah amat telat bertugas...” – suaranya mengisyaratkan bahwa di rumah dia biasa kasih order ”bik ambilkan minum, bibik ambilkan baju dan tas…” didunia nyata dia harus melayani orang lain. Sekarang gadis sexy yang lelet bangun kesiangan ini enak saja menyampingkan soal keamanan. Padahal urusan bom masih teramat hangat dikepala berupa sosok tubuh menarik tas, berjalan penuh percaya diri lalu bum..

Begitu gadis lelet mungkur alias menghilang dibalik pintu otomatis buka tutup. ”Jreng” pintu kedatangan terbuka, serombongan penumpang diantar satpam nampak keluar. Tetapi wajah kecewaan luar biasa dan melihat bungkusan JCO yang ditenteng, jelas dia bukan dari luar Jakarta. Alhasil beritanya – pesawat ke Pangkal Pinang dibatalkan.

Kapan yah punya pelayanan tiket murah, aman dan bebas delay apalagi kansel.

Dari jauh saya melihat tiga sosok saya saya kenal. Istri dan dua adik perempuannya. Langsung saya terperanjat, mereka berangkat dengan bawaan tak lebih dari sepuluh kilogram, sekarang masing-masing menarik trolley. Ibarat pepatah pergi tak nampak bagasi, pulang nampak trolley – isinya bisa diterka, oleh-oleh dari pasar Beringharjo dan Bakpya Pathok. Ada beberapa bungkus gudeg Yogya dan yang luar biasa ”Tempe Yogya” – sebuah produk tanah tumpah darah gudeg yang kurang moncer diceritakan orang luar. Padahal tempe Yogya kalau sudah digarit (coret pakai pisau agar bumbu masuk) lalu digoreng sreng-sreng, aroma wangi bawang putih muncul diikuti aroma kedelai PB dan saat digigit kita bertemu dengan ujung tempe yang sedikit mengeras. Wis tho pokoke mantab-surantab. Yang lain ketinggalan(G). Pakai g biar mirip cadelnya Rossi.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.