Posted in Uncategorized

Pejabat Kita Tertangkap di Stavanger


Harap ingat, saat memasuki wilayah pabean di negeri lain, lemparkan pandangan sesaat, barang apa yang tidak boleh dibawa masuk negeri mereka. Lutuna (lucunya gaya Benny dan Mice), di negeri kita biasa – di negeri orang badan binasa.

Kebiasaan mengantongi rokok dari Jakarta, misalnya, bisa menjadi bencana di Singapura lantaran negeri ini membuat rokok putih yang sedemikian rupa sehingga kalau sampeyan merokok Marlboro buatan Kediri akan beda dengan keluaran negeri Singa. Akibat dari jarak jauhpun petugas pabean bisa memindai mana rokok haram dan mana yang rokok cuma merusak badan.

Atau cerita seorang teman membawa apel sisa makan di kapal terbang – masuk ke Australia, sudah bisa bikin perkara.

Berapa bulan lalu saya baca seorang pejabat perminyakan kita ditahan di Stavanger-Norwegia lantaran kedapatan membawa uang sebesar 54 ribu dollar.

Peristiwa tersebut terjadi pada 24-25 Juni 2009. Peraturan setempat barangsiapa membawa uang dalam jumlah lebih daripada lima ribu dollar harus melapor. Sialnya entah kurang paham atau tidak, pejabat kita cicing wae sehingga drama menginap semalam di kantor polisipun terjadi.

Di Philipina tahun 85-an saya sempat nyaris ditahan petugas Bandara Aquino. Ia menggeledah dompet saya dan menemukan uang sebesar 80 ribu. Ketika saya mau diverbal, saya bilang uang sebanyak dan setebal ini hanya cukup untuk naik Taksi dari Halim Perdana Kusuma ke Grogol.

Kami sering bercanda – membawa duit satu truk dapatnya ya satu truk (mobil). Ada yang bercanda kalian di Indonesia orang kaya semua, sebab ngomongnya selalu jut-jut.

Yang mengherankan dan menguatirkan saya sampai sekarang adalah manakala teman-teman membawa uang gaji mereka bekerja di luar negeri dari ATM lalu “kresek” dimasukkan ke dalam kantong celana. Ada penghasilan yang baru 3 bulan sekali diambil, dan tanpa ba-bi-bu teman-teman ini keluar masuk bandara Australia dengan tenangnya.

Saya kadang menjadi tidak nyaman jika berjalan bersama mereka apalagi tinggal dalam satu atap hotel. Sebab bisa saja saya masuk ke hotelnya – makan Supermie dan kopi 3in1, begitu saya cabut ada uangnya yang hilang selembar saja kan sudah bisa bikin perkara.

Padahal dengan BCA kita dalam sejam sudah berhasil mentransfer dari Australia ke Rawa Bogo – misalnya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.