Posted in Uncategorized

Mesin Beranak


Sebuah biro iklan mencari ahli Reproduksi, ternyata pelamar yang  datang adalah para ibu yang punya anak minimal 6 orang.

Sabtu 12/9 saya sudah berada disebuah pertokoan Roxy Square – dulu namanya Tomang Plaza. Saat huru-hara 14  Mei 1998 bangunan ini hangus seluruhnya dan terbengkelai sampai akhirnya ada investor baru membuka nama Roxy Square.

Disini ada toko komputer – favorit anak saya, toko kacamata – favorit kami. Ada Hanamasa favorit Satrio. Toko-toko ini tidak besar, bahkan cenderung sepi sehingga saya lebih suka kemarai sekalipun harganya tak lebih murah dari Glodok, namun suasana lebih rileks dan nyaman.

Sebuah toko kacamata MingLi menjadi target operasi kami sianmg itu. Pertama sebagai kakak ipar (yang baik) dimintai mengantar adik ipar (di filem Bolywood – biasanya kakak iparselalu jahat) ketoko tersebut. Saya sarankan untuk mendatangi expertise di lembaga semacam RS Aini, namun ia lebih sreg langsung ke optician.

Tetapi sebelum menuju TKP – Andre sang pemilik kami hubungi. Pria bertubuh agak gemuk dengan rambut yang selalu di jelly ini sedang berada di kawasan Sudirman sehingga kami janjian di tokonya jam 15:00. Pria keturunan kulit terang ini mewarisi keahlian sang orang tua dari Semarang. Awal mulanya ia masih menggunakan HP Semarang. Di Jakarta ia menjualan kacamata secara bergerilya. Ketimbang melongo di tokonya, dia memasuki instansi pemerintah. Buka pameran kacamata, yang beli boleh dicicil 3-6 kali dan potong gaji. Habis bulan, dia tinggal kontak para bendahara masing-masing.

Jika ada pelanggan datang, baru tokonya dibuka. Melihat cara dan strateginya saya tinggal menyaksikan beberapa tahun kedepan dia akan berjaya. Kami sudah bersahabat, kendati hampir retak sebab istrinya pernah ikut campur. Ceritanya kacamata saya sudah selesai. Biasanya dia akan datang ke rumah, sambil menyetel sana sini. Namun sebelumnya konfirmasi keberadaan dilakukan melalui SMS. Rupanya sekali tempo ia ambil helm suaminya. SMS saya “apakah kacamata atas nama saya sudah selesai?” – Langsung dijawab “Sudah, tapi sudah bayar belum…” – Dan ketika  kami jawab “tanya pak Andre..- saya bayangkan bagaimana Andre akan salah tingkah akibat perbuatan seseorang. Bahkan sang Ibunda dari Semarang ikut nimbrung minta maaf. Persoalan selesai. Intinya – sebuah perusahaan dibangun susah payah – kadang dirusak oleh orang dalam sendiri yang tidak tahu bagaimana menghadapi pelanggan. Tetapi selama sang pengelola cepat memperbaikinya, hal buruk terhadap perusahaan tidak terjadi. 

Saat adik ipar mencobai kacamata sambil mukanya merah senang karena dikira usia remaja padahal di Pengacara kepala Empat, dibelakang saya terjadilah obrolan antara para pemilik toko di Roxy Square. Kalau bicara pengusaha handal dan cekatan silahkan menebak asal usul mereka.

“Guwa atur beranak beda empat tahun, biar waktu yang gede(k) udah SMP adiknya baru masuk ..” Sepertinya yang punya suara ini pemilik toko baju anak-anak.

“Kalau Guwa sih demen beda tujuh tahun.. jadi lucu tuh si koko sayang ama adiknya..” – kata lawan bicara pemilik toko komputer sambil menyuapi anak keduanya yang nampaknya kalau makan diemut, bukan dikunyah.

Rasanya kalau boleh kuping saya pelintir kebelakang agar penerimaan bisa signal empat bar – maklum dikeluarga saya mendapatkan anak susahnya sama dengan cari jalan pantura yang mulus saat mudik. Sampai sekarangpun Lia putri saya ngambek kalau ditanya “mana cucuku.”

Sementara para ibu ini memposisikan dirinya sekedar sebagai mesin beranak merek 3M yang bisa disetel kapan mereka bisa. 3 M maksudnya Memamah, Melumah, Manak (Makan, Terlentang, Melahirkan).

Saya ingat betapa tiga puluh tahun lalu setiap jam 10 malam saya harus minum obat dan jam 12 tengah malam obat yang sudah masuk kedarah dan saluran lainnya harus segera ditransfer sebelum kesaktian obat luntur. Semua demi mendapatkan keturunan lantas muncul Lia dan Satrio beda 7 tahun.

Dari soal beranak pinak mereka menggunjing bahwa petak-petak toko di Roxy Square banyak yang digratiskan oleh pemiliknya. Kewajiban pengguna adalah sewa bulanan berkisar dari 350-500 per bulan. Ada yang mau mencoba peruntungan di Roxy Square?

Roxy Square GROGOL
12 Sep 2009

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.