Posted in lebaran, liburan

Malu Bertanya- Malu Beneran


Pesawat bercat merah dari maatscapij Air Asia – Malaysia belum lagi terbuka di terminal 2D4. Padahal sebelumnya saya sudah nyasar ke terminal baru III – lantaran setiap jemput famili pakai Air Asia kok mendaratnya di terminal Haji. Lalu seperti layaknya logika main lempang dari bangsa ini saya berkesimpulan semua penerbangan Air Asia melalui terminal III, dan ternyata saya salah.

Sebetulnya ada anggota kafilah yang mengingatkan “abang supir (saya), kenapa tidak ke terminal dua sambil tanya terminal keberangkatan air asia jurusan Singapura..” – tetapi kadung dicekoki pendapat Super Gender bahwa saya adalah mahluk superior memiliki legitimasi sebagai Kilafah daripada Kalifah yang sedang berlalu, maka pendapat keluarga saya anggap gonggongan dan dengan pongah saya masuk terminal III.

Sambil bayar tiket masuk saya bertanya – dan dijawab petugas yang bernaung dibawah  tenda plastik mirip petugas PMI cari donasi “parkir dulu pak, nanti tanya di di informasi..” – maksudnya ya bayar dulu pendapatan – soal salah kemudian, yang baku, uang parkir masuk kocek.

Singkat cerita, sampailah saya di terminal II. Memasuki ruang cap di imigrasi, seorang ibu berkacamata menuntun dua anak bule – bersitegang dengan petugas. Singkatnya dia overstay – tetapi tidak mau bayar denda. Saya orang Indonesia dan anak ini anak Indonesia (apa bener? bu) mengapa saya harus bayar!

Saya tinggalkan ibu tadi. Saya bergerak sampai ke pintu D-4, dan dalam pemeriksaan kedua lotion anti matahari anak saya disita. Sebetulnya ia sudah diingatkan ibunya berulang-ulang tetapi diam-diam setengah liter cairan ia taruh dalam backpacknya.

Sambil menunggu boarding, saya memperhatikan seorang bocah berambut lurus, memakai sepatu keds sambil menarik troley kopornya. Usianya saya perkirakan sekitar 8tahunan. Ia trengginas menanyakan kepada petugas kapan pesawat ke Singapura datang. Sebentar ia bertanya kepada ibunya yang mendorong seorang bayi dalam kereta dorong.

Tak sabar ia menerobos pintu – untung ketahuan petugas sehingga dihalau kembali.

Anak-anak nampak seperti tidak mau sabar menunggu. Ke Singapura bagi mereka berarti belanja mainan, kaos Hang Ten, makanan enak, dan syukur kalau mereka juga belajar hidup terbiasa antri, tertib lalu lintas, tidak buang sampah sembarangan. Seorang teman bercerita di beberapa stasiun MRT setiap pagi nampak orang terutama para pensiunan <?> antri pada setumpuk koran gratis yang masih dibundel. Mereka baru mengambil koran yang tergeletak sejak pagi, sampai ada petugas yang membagikannya.

Saat booking tiket di website Air Asia saya memilih deretan kursi no 5 yang berarti Express Checkin, maksudnya tanpa katebelece aneh-aneh kita akan dipanggil masuk terlebih dahulu disamakan dengan anak-anak atau orang jompo. Dan ini menguntungkan bagi yang membawa segepok penganan kering dan basah dari tanah air ke Singapura. Yang mengesalkan beda sehari booking, harga tiket pesawat sudah melambung. Huh. Maklum ijin cuti belum turun sehingga perlu menunda booking.

Terjadi sedikit kegaduhan di deretan bangku belakang saat satu kursi diklaim oleh dua pemilik. Tidak lama kemudian sseorang eksecutive muda berbaju corak garis panjang menarik trolley cabin bagasi bergegas keluar pesawat. Mungkin bapak eksekutif muda ini sedang banyak pikiran sin tahu ekalipun saat masuk ruang tunggu ada petugas memeriksa pass boarding anda, memberikan arahan tempat duduk yang disediakan namun ia tidak menyimak. Tentu saja kepergiannya mengundang rasa ingin tahu para penumpang macam saya bak ingin melihat artis Maria Ozawa dari Jepang. Tetapi saya tidak akan berkomentar “Usaha Sistematis musuh-musuh untuk menghancurkan akhlak bangsa kita yang terkenal luhur, berbudi, sopan, peramah.” – Hari gini masih dininabobokkan slogan-slogan kosong.

Coba kalau mau sedikit bertanya kepada si penyobek karcis – mungkin kejadian yang bisa jadi fatal (ketinggalan pesawat) – bisa dihindari. Kadang kita belajar dari anak-anak yang sepintas ceriwis.

Nah bagaimana dengan saya sendiri yang begitu masuk pesawat mata cenanangan (lihat sana sini) mencari tulisan yang biasa tertera di penutup ruang bagasi atas kepala. Saya memang amit-amit belum pernah salah memasuki pesawat tetapi yang sering adalah kursi 17F, tetapi saya mantab duduk di 16F. Juga lantaran malu bertanya, malu beneran disuruh pindah kursi.

Cengkareng 15 Sep 2009

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.