Posted in balap

Demam Reng..Reng di Singapura


schumaker_2004
Ban F1 yang terkelupas ini pernah dipakai oleh Michael Schumaker pada pertandingan F1 pada 2004

Jumat 25/9/2009 saya berada di Marina. Cuma herannya beberapa eskalator sudah ditutup dan dijaga oleh petugas berbaju biru. Lalu ada tentara berjaga dimana-mana.

Baru ngeh setelah kami sulit berkomunikasi satu sama lain lantaran suara meraung-raung yang diledakkan dari mobil Formula 1 yang hari ini memasuki hari pertama. Tetapi hanya itulah yang dapat kami kerjakan sebab pagar sekitar lap – semua ditutup oleh platik hijau sehingga cuma suara menggeram dan berisik sekali. Beberap orang mencoba mengintip dari balik pagar akan segera didekati oleh petugas keamanan.

Pagar ditutupi terpal hijau mencegah penonton gratis
Pagar ditutupi terpal hijau mencegah penonton gratis

Lalu beberapa mal memajang ubo rampe balap F1 yang diselenggarakan pada malam hari ini. Saya lihat orang berkerumun melihat sebuah benda terbuat karet dan keadaan fisiknya buruk karena bagian luar sudah terkelupas.

Ternyata setelah diamati, ban ini membawa Michael Schumaker menjadi juara pada pertandingan F1 di San Marino 2004. Saya jadi kepikiran berapa temperatur yang dihasilkan dari gesekan ban dengan aspal sampai nampak melepuh begitu.

F1 dari Fiat yang dipakai oleh Mubadala dari Abu Dhabi. Bannya licin mengkilat.
F1 dari Fiat yang dipakai oleh Mubadala dari Abu Dhabi. Bannya licin mengkilat.

Tak jauh dari ban Michael Schumaker, sebuah F1 dari Fiat yang pernah dipakai oleh groups Mubadala dari Abu Dhabi nampak dipajang komplit. Ban Bridgestone yangdipakai dalam pertandingan ini hanya nampak gundul namun tidak separah kondisi Schuimaker. Publik Singapura berlomba berfoto didepan mobil balap merah ini.

Lalu kaos beremblem sponsor dilepas dengan harga $149, sementara Topi $79. (1 Sin=6800 idr)

Penjual Hearing Protection sibuk menjajakan dagangannya
Penjual Hearing Protection sibuk menjajakan dagangannya

Yang cerdik adalah penjual HeadPhone. Semua tahu bahwa suara sekitar arena bukan main memekakkannya. Mereka lalu menjual alat penutup telinga yang dalam keadaan normal menjadi radio, namun saat menerima getaran memekakkan secara otomatis menutup telinga sang pemakai.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.