Posted in singapore, singapura

Di traktir the Best Crab Chili Sauce di Quay Singapore


Sebetulnya hari itu kaki kami sudah berjalan berjam-jam sehingga perlahan-lahan debu yang kecil menempel di betis rasanya seperti sebuah piano terikat pada kaki. Maka kami putuskan acara “cuma jalan-jalan dan lihat-lihat seputar Orchard” akan berakhir. Kuping rasanya apa masih “pengeng” – akibat di Marina mendengarkan suara mobil super cepat sedang adu balap.

Waktu menyeberang jalan di depan Takashimaya-Orchard, seseorang memanggil-manggil anak sulung dengan suara yang berat dan parau tetapi keras. Ternyata Oom, Tante dan Pricila anak satu-satunya.

Oomnya inilah yang dalam daftar “keluarga” orang yang ikut bertanggung jawab membesarkan Lia dan Satrio saat ia masih Narayana.

Kami ingat Satrio (anak kedua) masih bayi sudah diculik dari rumah dan dibawa kekediaman bapak Bustanul Arifin karana salah satu puteranya adalah teman main sang paman. Disana ternyata Satrio berak dan baru kelabakan sang Oom karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Setelah bersalaman sebentar kami pun berpisah dan hanya berselang beberapa menit, tilpun Lia berdering – “Kita makan di pinggir kali Singapura.. Ada Chili Crab Sauce van Singapura yang the best..” – lha ini entah nasib Lia- yang selalu saja dimanjakan oleh Oom dan Tantenya – tetapi saya juga ingat beberapa tahun lalu lia di ajak teman saya dari group mas BS makan ditempat yang sama.

Ya sudah dari Orchard Road kami ambil MRT untuk turun di Raffles City, ternyata mereka masih di MRT dan waktu kami gunakan duduk sambil memandang kegelapan malam.

Dimakan bersama mantou (roti kecil), disendokkan sausnya. Memang nama besar the best chili sauce bukan cuma macan ompong.
Apalagi sedang terjadi perang internet akibat ucapan lidah tajam menteri Turisme Malaysia yang mengklaim nyaris semua masakan dari Cina daratan menjadi masakan aseli Malaysia yang dibajak.

Diudara sana helikopter mengitari udara Singapura sambil berpatroli mengamati jalannya balap F1, didarat para pekerja yang umumnya orang Eropa menikmati masa keemasan beer botolan Buy One Get One.
.

Menunggu sang Tuan Rumah masih di MRT
Kalau foto ini seperti dalam cerita Harry Poter – ia bisa mengeluarkan suara raungan Ferari sedang adu cepat pada jumat malam hari 25/9/2009 di Singapura.
Sang treator (penyandang dana makan malam) sedang menceritakan bagaimana Kepiting Saus ala Singapura ini merupakan the best yang pernah ia coba sampai ke negeri China. Tapi dia menyarankan bahwa di Indonesia ada yang lebih ajib lagi
Disela aca makan biasanya kami berbincang, dan saat terjadi perbedaan akan sebuah nama tempat, sang putri yang terbiasa hidup dalam alam demokrasi langsung mengoreksi ayahnya. Dan cepret – momen ini saya abadikan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.