Posted in singapore, singapura

Es Krim Turki Vs Es Potong


Bulan Mei 2009 saya kesepian di tengah kedamaian kawasan rumah susun Choa Chu Kang Avenue 3, Singapura. Mendadak saya mendengar suara lonceng mirip dengan suara lonceng kambing kacang.

Lalu saya panggil pedagang es potong bermotor. Beli sepotong 1 dollar es di sandwich pakai wafer. Dengan berakhirnya nasib tetes terakhir aroma durian sang es cream maka afdolah kepergian saya ke Singapura.

Perkaranya simple. Sampai anak terbesar saya mendekati 30tahun usianya, ndilalah harga Es Potong mantheng sombong di angka SIN$ 1.

Sementara 30tahun lalu saya harus mengubah konversi satu dolar dari 250 rupiah, beranjak 450 rupiah, 900 rupiah, seribu rupiah  sampai sekarang nyaris 7000 rupiah. Lalu kita bilang di Singapura – semua mahal… (ikuti iklan mahal sambil sedikit menjulurkan lidah ala iklan obat serangga)

Lia melihat bapaknya beli sepotong, langsung srebat-srebet beli 1 kilo, “biar papa betah..” – tapi ada resikonya.

Ternyata tidak mungkinlah saya menghabiskan 1 kilo es krim. Dan hukuman ini datang ketika September 2009, saya datang ke rumah susun yang sama, saya dapati dibagian kotak beku ada es krim masih tergeletak beku dengan tambahan ada bau anyir ayam, ikan pari sampai ikan bilis. Sebotol minuman “lime” peninggalan saya juga masih teronggok disana.

Merasa bersalah saya makan juga penganan seumur penjajahan Jepang sebab “pantang” bagi saya membuang makanan yang tidak busuk.

Memang es krim sangat keras daya tariknya.

Sebuah pusat jajan es cream kendati saya belum mencobanya sebab “ndak sudi dimain-mainkan” oleh pedagangnya adalah Es Cream Turki.

Lokasinya di Clarke Quay, harga es cream sekitar Sin 5 per cone. Sebelah menyebelah dengan restoran “Hooter” – sebuah resto yang dilayani wanita muda langsing dan harus pakaian tanktop dan hotpants.

Penjual es cream Truki ini sering iseng dengan main adu cekatan. Jadi bisa jadi dia pura-pura memberikan es krim kepada anda, lalu mendadak dia tarik kembali sambil berpura-pura menambahkan sedikit es cream. Atau saat conthong penuh es diberikan kepada anda sebetulnya conthongya ada dua, anda hanya diberi yang kosong. Penonton biasanya tergelak.

Saya pikir lantaran orangnya pendek, dia menggunakan tongkat untuk memegang conthong (cone). Tetapi kaleng es creamnya sendiri memang dalam sehingga dibutuhkan alat bantu untuk mengambil dan mengaduk es cream. Kadang lonceng diatasnya ditabuh untuk menarik perhatian penonton

Sambil menikmati es cream, anda bisa naik perahu, tour sejauh 9kilometer merunduk dibawah jembatan yang sedang dilintasi F1, atau melihat keindahan bangunan ESPLANADE atau gedung durian. Saat ini ada 3 gedung mencakar langit sedang dalam pembangunan kasino.

Sebentar saja Singapura sudah multi Gelar. Bandara terbaik, kota belanja, kota F1 malam hari, kota festival rock, kini kota Kasino.

Apa gara-gara harga Espotongnya stabil dalam 3 dekade.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.