Posted in kartu kredit

Diskriminasi Kartu Kredit


Kartu Kredit juga ada jalur khusus

Semalam antar keluarga belanja di ritel terbesar, terkenal di Jakarta Timur. Begitu besarnya tumbuh kembang mal ini sampai sampai terjadi protes lantaran monopolinya  dirasakan sudah kebangetan menggilas pedagang kecil tradisional.

Seperti biasa tugas saya adalah penarik trolley. Persis anjing pelacak. Giliran bayar, persis bergaya Oei Tiong Ham – Raja Gula dari Semarang.

Bosan melihat para ibu yang ancur-ancuran membandingkan harga semurah mungkin, memilih jeruk Shantang seperti mau cari bibit perkutut unggul diam-diam saya menghilang dari pandangan mereka. Biasanya ke pernik peralatan mobil.

Tapi jangan salah. Biarpun asik pada BLANJA BLANJI kalau sadar saya hilang barang sebentar akan dibel.

Kemana aja.. jangan pergi jauh-jauh…hampir selesai nih” – Tapi saya bisiki – bahwa kata –selesai- itu bisa berarti sejam dan dua jam kedepan.

Biasanya saya menghampiri mereka setengah berlari lalu mengetengahkan humor dengan menjewer kuping dan angkat kaki, persis kalau di strap guru. Dan tahu bakalan masih lama lagi.

Betul saja,  setengah jam nyaris dihabiskan dikonter ikan. Nampaknya acara penutupan belanja bulanan adalah membeli ikan bandeng, dan sekalian di multilasi ditempat.

Giliran pembayaran ternyata antrean cukup panjang. Pertama saya baru nyadar masuk di antrean yang khusus “belanja pakai keranjang”.

Terpaksa sambil mundur teratur kami mencari antrean baru yang pakai trolley. Saya lihat banyak pelanggan salah masuk. Tetapi mereka nampaknya terlatih mengakali “aturan baku” – sehingga cukup ambil beberapa keranjang untuk memindahkan isi trolley. Soal tidak masuk akal satu orang bawa 4 keranjang. Itulah yang dinamakan akal-akalan. Mereka tidak perlu pindah antrean.

Ada dua keluarga didepan saya nampaknya bermasalah dengan pembayaran kartu kredit. Mesin selalu menolak menggoalkan pembayaran sampai pelanggan Nampak bingung.

Eladhalah giliran saya datang – ternyata milik sayapun ditolak. Lho kartu ini sudah naik pangkat Brigjen Kartu Kredit sebab diberi symbol bintang emas satu.

Teruji dipakai pakai di Amerika, Inggris, Phillipine, Malaysia, Pakistan, Muangthai, Arab Saudi sampai Australia sekarang ditolak di Buaran – Jakarta Timur yang sedang sibuk dibuatkan Banjir Kanal.

Tidak kehilangan akal saya pakai kartu kredit pasangan saya yang lebih banyak jumlahnya dari saya.

Tobil anak kadal.. Masih bermasalah juga.

Sebentar-sebentar pramuniaga lelaki yang memang kerjanya sebat dan trampil bergumam “jaringan bank XXX ini sering Hang…” – Saya takut menyebut identitas lengkap maklum jaman sedang menuju era Semangga Berbuah Penjara.  Atau kalau tiru-tiru kata ibu Sri Mulyani yang cantik – adalah Character Assasination.

TAKE  IT OR LEAVE IT

Ada dua opsi bisa saya lakukan. Bayar pakai Cash, atau meninggalkan seabreg belanjaan. Pasalnya kalau memang tidak bisa pakai kartu kredit “biasa” mengapa harus repot. Jangan-jangan watak ewuh pakewuh alias malu diexploitasi disini.

Nyatanya saya masih ikut perasaan kadung malu. Apalagi diam-diam pasangan saya mengeluarkan kartu kredit yang memang dipromosikan besar-besaran dimal.

Begitu kartu kredit “Budi Belajar Membaca” dikeluarkan serentak wajah pramuniaga – sesumringah nyonya Michele Thomson – Dia bergumam “kalau pakai yang ini – mesin geseknya khusus pak” dan kali ini pelayanan seperti di pusat belanja Singapura. Cepat dan esrek-esrek kertas persetujuan tercetak dalam printer mini thermal.

Lain kali saya terpaksa menghindari mall yang rada berbau promosi dan diskriminasi beginian. Bisa bikin ketiak seperti di iklan, naik mobil balap warna kopi susu lupa oles Deodoran.

Posted in depth collector

Tak Selamanya Debt Collector itu kelabu


Ada plesetan mengatakan apa beda DEBT COLLECTOR (uang) dengan DEPTH COLLECTOR (mudlogger). Yang terakhir adalah pekerjaan kami di rig pengeboran yang kerjaannya memelototi laju pengeboran.

Setiap millimeter matabor masuk perut bumi, data kami rekam dalam database lalu dipresentasikan secara RTO (Real Time) – agar mudah dilihat dan diinterpretasikan.  Makin cepat tentu saja  kita akan segera mencapai target kandungan minyak dan gas bumi. Orang main senang. Mereka menyebutnya sebagai pengeboran berjalan secara optimum. Dari informasi laju pengeboran orang lalu mengira-ira – benda apa yang sedang ditembus oleh mata bor. Harap maklum pandangan kita tertutup lautan, bebatuan yang jaraknya ribuam meter di bawah sono.

Kalau pengeboran makin cepat dicari penyebabnya, bisa jadi tanahnya lunak. Tanah lunak biasanya batuan pasir. Batuan pasir biasanya potensi mengandung minyak atau gas. Kalau demikian harus berhati-hati agar kawasan emas hitam tidak rusak akibat ulah pengeboran semena-mena. Tetapi tempo-tempo, dikawasan lapisan berbatu kapur, pengeboran cepat karena masuk lobang yang memang biasa banyak terdapat pada batuan kapur. Mata borpun bisa terjepit kalau operator pengeboran tidak berhati-hati. Kalau terjadi eksalasi pengeboran yang melaju tanpa rem, padahal bebatuannya sama saja, maka ada kemungkinan mata bor memasuki kawasan temperamental. Mudah mengamuk. Rawan terjadi “blowout”.

Sebaliknya kalau pengeboran lambat apakah terjadi perubahan jenis batuan yang lebih keras. Atau mata bor yang perlu diganti.

DEPTH COLLECTOR TERTEMBUS DEBT COLLECTOR

Tetapi sebagaimana DEPTH COLLECTOR saya juga pernah kesandung dengan Debt Collector. Tidak tanggung-tanggung, preman Australia.

Tatkala menginjak kaki ke Australia di 2004-an, menilpun keluarga di tanah air adalah barang mewah.  Untuk keperluan itu kita harus beli SIM CARD, mendaftarkan “by phone” lalu tunggu 24 jam sebelum telephone bisa dipakai. Sayapun beli hal serupa, dan iuran perbulan adalah 50dollar.

Lama kelamaan, bermunculan tilpun murah dan saya lupa bahwa ada kewajiban membayar iuran setiap bulan. Maka tagihan-pun membengkak padahal tilun dan SimCard sudah entah dimana.

Peringatan-demi peringatan datang tiap bulan. Masih saya abaikan, mereka mendatangi kantor saya di Perth. Apalagi sejak 2008 saya sudah kembali mutasi ke Jakarta.

REKENING DITUTUP – HUTANG DIAMBIL ALIH DEBT COLLECTOR

Dari Jakarta saya mencoba  membayar via online. Celaka 12belas rekening “virtual” tidak bisa dibuka karena memang nomor saya sudah jadi fossil lima tahun lalu.

Lalu saya hubungi pihak ISP, pertanyaannya adalah hutang saya termasuk Internet atau Voice. Sekali lagi saya bingung. Saya mohon apakah bisa saya bayar sekarang (selama bertelpun ria). “Sorry mr Mimbar, we cannot do it for you..” – Istilahnya ada bagian lain yang lebih berhak.

Lalu saya bikin surat beneran (pakai amplop) menyatakan bahwa saya kepingin betul bayar hutang saya kalau tidak silap sekitar 270 dollar.

Sebulan kemudian datang jawaban bahwa hutang sudah dialihkan ke Robert and Dunn sebuah badan berfungsi sebagai Debt Collector.

“Twaaaanggg” seperti ada guruh ditelinga saya.  Kok gebleknya pikiran saya menerawang anggota Biker HD yang gondrong beranting, pakai jean kutung tato merebak disana sini, lalu sambil pegang baseball bat mereka bilang “Pay or sorry..” – kebanyakan nonton Walking Tall- kali ya.

Langsung saya belajar “jangan berlangganan apa-apa di Luar Negeri ketimbang jadi memolo (masalah).

Saya tidak bisa menemukan akses ke R&D sehingga sekali lagi menulis surat kepada mereka. Semua dokumentasi email dan bon hutang saya sertakan.

DIKORTING 200 DOLLAR

Kali ini jawabannya, saya boleh bayar melalui rekening yang khusus sudah dibuka. Dan bukanya kena hukuman hutang saya malahan dikorting 200 dollar. Maka saya cuima bayar 70dollar keriting..

Kuatir kena charge tetek bengek yang tidak menggairahkan, saya tambahkan saja 100 dollar gundul.

Ternyata dikembalikan sisanya. Lalu saya surati sekali lagi untuk mendonasikan sisa itu entah kemana.

Haaaah. Selesai juga urusan dengan Debt Collector ternyata tidak seseram yang saya imajinasikan.

Posted in gunung pancar

Bersihkan Aura Di Pemandian Gunung Pancar (bagian tiga)


No Kolam Renang

Kesan pertama saat mengunjungi taman Wisata Gunung Pancar dengan Pemandian Airpanasnya adalah “dimana kolam renangnya” – Anda pasti kecele sebab tidak ada kolam renang disini sehingga kalau membawa anak-anak sebagai sarana rekreasi mungkin kurang menggembirakan mereka..

Jarak  warung bu Ratman sebagai “posko” menuju tempat pemandian cukup terjal dan licin sehingga disikapi dengan membuat jalan melingkar dan diberi batu kali yang memang banyak tersedia dikawasan ini.

Begitu terjalnya sekalipun cuma jarak dekat membuat Senior saya ngos-ngosan. Asmanya kumat dan kambuh pula temperamentalnya.

Nyaris terjadi adegan walk-out kalau tidak dibujuk bahwa semua usaha kemari adalah demi kesehatannya.

Suam-suam Kuku

Karena airnya tak terlalu panas mudah bagi kita berendam tanpa harus nyengir lantaran kulit bak ditempel koyo cabe. Pengelola disini menggolongkan pelayanan bagi yang ingin menyendiri, bersama keluarga, atau rame-rame berendam.

Untuk menggambarkan luasnya sebuah baskom besar yang bisa memuat lima orang, saya potret seorang putri ayu disini. Dia memakai lulur lumpur yang tersedia disana.

Kebetulan saat pemotretan ala “spanyolan” dilakukan, hujan lumayan mengguyur kawasan GunungPancar, akibatnya beberapa buah sebesar kelereng dan bola bekel pada bercatuhan menimbulkan tetabuhan tersendiri.

Maksimum berendam di kobokan keluarga ini adalah dua jam. Kecuali kalau anda mau merogoh extra sewa tambahan berendam.

Lalu masih ada ruang berendam bersama-sama, masuknya bersama orang dari RT lain, Kelurahan lain sampai propinsi lain.

Kalau anda ingin yang lebih sendiri. Disediakan kamar pribadi dengan catatan hanya boleh sejenis dalam satu kamar. Pasangan suami istripun dilarang masuk kamar ini. jadi kepikiran kalau Riyan van Jombang pasti akan memanfaatkan kelemahan dari aturan ini.

Bilamana anda ingin lebih fokus berobat, maka disediakan seorang terapis yang bertugas menembakkan air hangat bertekanan tinggi sehingga diharapkan pori-pori tubuh terbuka dan anda merasa segar bugar.

Seperti juga urusan totok dan akupressure, sentakan air tadi akan berpengaruh bagi yang memang mengidap penyakit tertentu. Anda bisa meringis antara nyaman dan ngilu ketika “misalnya” telapak kaki ditembak air pancar panas.

Ternyata ditempat ini juga disediakan tarif rawat inap. Bagi penderita penyakit yang ingin lengkap satu “kir” mau tidak mau diinapkan agar lebih mudah bagi penderita menjalani terapinya.

Posted in Uncategorized

Bersihkan Aura Di Pemandian Gunung Pancar (bagian empat)


Di warung ibu S – Gunung Pancar, Jawa Barat leher saya seperti terbuat dari karet sebab berkali-kali saya melongok, melayangkan pandangan kesekitar warung dan sekaligus pemandian airpanas milik pak S sekedar mengajaknya ingin mengobrol dengan sang Tokoh merangkap Jagawana.

Apalagi dr Nury kerap menyebut nama Tukang Insinyur ini dalam FB-nya.

Menurut istrinya kebiasaan suaminya adalah naik turun gunung, mengawasi hutan dari kemungkinan longsor – serta tidak membiarkan sepotong bambupun dibabat bilamana hanya untuk tujuan keindahan.

Kadang ia menempelkan tangannya di pepohonan, atau tanah bak seorang dokter menempel stetoskop didada pasein, seakan hendak mendengarkan – keluhan atau pesan dari mereka bahwa ada tanah menjelang longsor atau pepohonan yang sudah tua dimakan usia.

Istilah dr. Nury – dengan menyelipkan sebilah golok di pinggang, pagi buta – tokoh ini sudah menjadi “orang hutan..”

Menjelang siang, sosok yang saya nantikanpun datang. Berambut perak dengan kulit legam lantaran akrab dengan matahari, rupanya bapak ini sedang di”pepet” oleh dua orang yang nampaknya ingin mengadakan “investasi. ”

Hilang sudah kesempatan mendekatinya. Terpaksa sambil membuka mulut menikmati singkong, saya panjangkan telinga agar bisa curi dengar percakapan mereka.

Selang beberapa lama sang suami yang juga jarinya selalu mengepulkan asap sigaret memanggil isterinya untuk bergabung dimeja perundingan “investasi”.

Sang istri yang sejak pagi “mruput” – alias pagi bener sudah bekerja sendirian, bolak balik ke kasir menghitung bon, mengecek uang kembalian, lalu kembali ke dapur mengecek pesanan pelanggan. Kelihatan jengkel ditahan.

Tugasnya yang lain adalah “menggiring” pendatang baru untuk mendatangi tempat pemandian dan sekaligus warungnya. Sebuah pekerjaan membutuhkan konsentrasi serta otak yang multi tasking. Cara menggiringnya persis kalau anda belanja di kawasan Glodok lalu masuk arena makan.

Begitu duduk disisi sang Investor dan mendengarkan penjelasan sang suami, mata belonya sedikit membelalak lalu dengan logat sunda yang kental “Saya -teh- bosan dengan kata proposal. Kasihan suami saya, dia mah percayaan wae sama kata-kata kerjasama. Kasian setiap kali buat proposal. Kenyataannya mana? Sekarang kalau mau kerjasama, ada pertanyaan, tanya saya langsung…”

“Kalau tidak percaya dengan kami, lihat saja di Internet.. Tempat ini sudah terkenal…” – imbuhnya lagi. Kelihatannya soal berbisnis perempuan cantik ini kalau mobil duduk di pojok kanan depan, alias pengemudi.

Eng..ing eng..- Saya juga akrab dengan kata-kata manis seperti ini. Kerjasama, investasi, berat sama ditanggung, ringan sama dijinjing. Dan ketika selingkuh investasi mulai dilakukan salah satu anggota tak pelak persahabatan, persaudaraan jadi bubar jalan.

Tetapi sang suami “keukeuh” malahan menghilang sebentar kebiliknya dan balik membawa beberapa lembar formulir yang diserahkan kepada sang calon investor. Ia sempat bergumam kepada tamu “mana kartu namanya dong?” – Oo rupanya investasi sampai terdengar ketelinga saya “setengah milyar lebih…” belum sepotong kartu nama muncul.

Dan nampaknya obrolan investasi berjalan makin gayeng apalagi ditingkahi goreng singkong APUUY dan segelas kopi. Sekalipun kerlingan tajam sang istri seperti menyiratkan gambaran. “Paling juga nanti nggak ada kelanjutannya…”

Lain kali kalau anda mau ajak kerjasama, hubungi suaminya saja ya.

Jakarta 5 Des 2009

Mimbar Saputro

Posted in Uncategorized

Bersihkan Aura Di Pemandian Gunung Pancar (bagian dua)


Begitu “reketek” rem tangan ditarik tanda kendaraan parkir dan aman untuk keluar saya memberi aba-aba bak seorang Pilot kepada penumpang dibelakang untuk keluar kendaraan tentunya setelah kunci otomatis pintu kami lepaskan.

Pasalnya Senior saya ini sudah mulai membahayakan karena mulai tipis kadar kesabarannya. Mau duduk dikiri atau dikanan, kendaraan belum berhenti benar sudah cabut sabuk pengaman dan tangan otomatis buka pintu zonder toleh kiri tengok kanan. Lha kalau ada motor atau mobil langsung menyerempet pintu kendaraan yang dibuka tiba-tiba. kami juga yang disalahkan.

Kepada penjaga parkir GunungPancar saya tanyakan dimana pemandian air panas. Jawabnya mau yang OEMOEM atau yang PRIVATE – Tidak perlu membuka atau belajar Pendulum, saya sudah langsung menjawab “Pak Ratman – dimana pondoknya.” Jangan heran Dokter Nury sudah kasih gambaran.

Oce… saya lihat beberapa bangunan dibawah sana. Maksud dibawah adalah sekitar 10 meter dari parkiran. Sementara OEMOEM masih harus berjalan menurun jalan licin dan bisa-bisa ratusan meter.

“Mari..mari, mau rendam bisa disini, mau terapi ada, mau ke toilet juga ada..” – suara seorang perempuan menyapa ramah.

GPS otak saya langsung menunjuk – inilah target operasi yang disebut-sebut dalam blog Dokter Nury.

Sayapun duduk di warungnya dan karena penganut mahzab “MAKANLAH SEBELUM BERENDAM SEBELUM KAMU Direndamkan orang lain ” – Maka langsung saya memesan Singkong Goreng APUUY ditemani wedang Bandrek.

Sementara belum menyentuh sederet menu ala masakan Sunda terpapar didepan saya.

Ketika saya menyebut sekali lagi Dr Nury, ibunda pemilik warung tertawa lebar sekali, oh ibu Nury itu istrinya.

Lalu pemilik warung merangkap pemandian air panas – sesosok perempuan berkulit cerah dan masih semlohei diusia senja ini dengan tenang melayani permintaan tamunya. Satu persatu dicatatnya dan dengan sabar menjelaskan segala sesuatu mengenai masakan yang akan dihidangkan.

Penampilannya nampaknya selalu terjaga, kombinasi waran baju atas putih bermotifkan kembang “beureum” ditambah gaun bawahan yang juga “bereum manyala” seperti menghidupkan suasana resto.

NASI MERAH – GORENG BALITA – TUMIS JAMUR

Saya lompati dahulu masalah berendam (bukan berenang lho disini TIDAK ADA KOLAM RENANG).

Habis berendam di pemandian alternatif dan semoga “al karomah” dan alfiat wal nikmat – maka perut mulai bervibrasi sampai jemari terasa bergeletar. Kami memesan nasi beras merah, sayur asem, tahu goreng, tumisan jamur, goreng wader “balita” , lalap berupa rebusan dengan sambal yang mantabs. Wah..wah, luar biasa sekali. Sudah begitu, tidak pakai lama .. masakan cepat terhidang.

Jangan tanya pepes disini – mereka tak menyediakannya. Sekalipun anda berfikiran sebagai makanan kebangsaan orang Sunda.

Lagi-lagi Senior dan Seniorita saya sedikit rewel – lagi. Mereka bilang makan saja dirumah, kan sudah masak. Saya tidak perduli (masak aku harus sabar terus).

Nasi merah yang digunduk seperti ukuran baskom RM Padang langsung saya cepol, tangan kiri kriuk-kriuk melahap bayi ikan mas, kadang ditingkahi cocolan rebusan daun singkong, godog labu siam. Tangan mencekam, mulut mengunyah. Mirip bermain klenengan. Eit jangan lupa masih ada asesories, Goreng Tahu Kuning yang panas.

Melihat saya dengan egois, krakus makan sendiri. Pancinganku mulai mengena, perlahan para pengambek parama arta – mulai mencicipi mas goreng balita, lalu ambil Mitu eh ambil lagi. Tempo mulai dipercepat dengan mencocolkan tahu plus sambal (ini rahasianya), dan tidak lama kemudian semua memesan makan siang.

Batin saya bersorak penuh glory “rasain eluh gue traktir makan siang..” – Gitu kok repot.

Warungnya sendiri cukup luas. Ada lincak (kursi) bambu, ada kursi malas bambu yang membuat kita serasa berada di dunia lain. Bisa mengakomodasi 20-an pengunjung. Kalau dipaksakan tentu bisa lebih banyak lagi.

Menjelang makan siang saya melihat setumpuk rantang plastik berisikan nasi putih, sambal dan setumpuk terayaki daging. Rupa-rupanya untuk para pekerja pemandian ini.

Ala maak jaman susah begini ada juragan masih mengirim makanan ransum daging terayaki sebegitu banyak.

“Hujan begini pak kalau kasihan kalau mereka dikasih lauk ikan, kudu daging.. ” Katanya sambil menyenduk sesendok besar daging kedalam rantang berikutnya. Mudah-mudahan Indonesia masih menyimpan stok orang macam beliau.

Balita= anak ikan mas (umur) bawah tiga bulan tak-ye (madura)

Mimbar Saputro
5 Des 2009

Posted in Uncategorized

Bersihkan Aura Di Pemandian Gunung Pancar (bagian satu)


Semua gara-gara getok tular ibu dokter Nury yang selalu obral info apa saja kepada kami. Kali ini racun obral saya telan mentah-mentah, yaitu berendam di airpanas, zonder bau welirang di gunung PANCAR.

Sengaja saya pakai kata racun sebagaimana simbul orang “medic” berupa ular melilit tongkat artinya tidak membedakan antara racun dan obat. Semua obat adalah racun dan semua racun adalah obat.

Konon ditengarai bahwa Prabu Siliwangi pernah berendam dikawasan gunung Pancar, ditambah sohibul hikayat kalau yang beruntung bisa melihat sinar pancaran ”ROH Halus ” dari gunung pada malam hari. Terus seabreg bujet cerita bahwa para spiritualis menjadikan tempat ini semacam tempuran suatu zone pertemuan antar pelbagai etnik tenaga gaib sehingga banyak yang bermeditasi disini.

Kalau semua cerita dianggap vrek – dinafikan, maka cerita Dokter yang punya hobi berendam disini kudu en musti dipertimbangkan.

Lantas mulailah saya baca informasi di Internet – ada yang mengutuk habis-habisan yang jalannya berbatu, makanan mahal, lalu menyesal datang kesana. Nanti kalau tiket murah, kita protes “Keterlaluan Harga Tiket Murah sekali..”

Namun tak kurang banyak yang menikmati suasana pemandian, terutama bagi yang perlu pengobatan alternatif. Lagian namanya internet, siapa suruh percaya semua cerita.

Ketimbang menjadi generasi penuh menggerutu seperti yang sekarang muncul di layar televisi, saya melihat alur cerita ibu Nury selalu melihat sesuatu dari segi “fun” – tak heran beliau menjadi wanita karier yang sukses.

Seperti Biasa Nyasar

Siyuuut jam 8 kurang seperampat kami sudah karet ban yang kiri belakang pernah disumpali karet sudah bergesekan dengan jalan raya Tol Jagorawi dari Jakarta menuju Sentul Selatan. Hari masih pagi, dengan suasana agak mendung maka jalanan masih sepi pengguna. GPS saya setel untuk melihat posisi Gunung Pancar.

Jam 8:25 kaca mobil harus diturunkan guna membayar tol dan mobil langsung dibuang kekiri dan tidak lama kemudian ada sebuah menuju sebuah pintu Gerbang yang dijaga satpam. Sayang makin menjorok kedalam tidak ada bau-baunya sebuah gunung. Rupanya saya lupa nasehat seorang satpam di SPBU saat isi Pertamax menjelang keluar Pintu Tol. Katanya didepan gerbang yang dijaga satpam harus belok kiri masuk jalan Babakan Madang. Pasalnya kawasan ini dikuasai perumahan mewah jadi sepi plang nama.

Terlanjur masuk ya sudah putar-putar sekali. Untung seorang tukang kerupuk pikulan sedang menunggu pembeli dan informasinya.

Fatwa pak kerupuk seharusnya saya tidak memasuki Gerbang Perumahan ini melainkan berbelok ke kiri masuk jalan bernama Babakan Madang. Sebuah nama yang menimbulkan rasa lapar.

Karena sulit mencari papan petunjuk ke Taman Wisata -garing/garis miring – Pemandian Airpanas Gunung Pancar, maka tukang Ojek dengan senang hati akan memberitahukan arah perjalanan anda. Oalah pegang GPS ternyata mubadzir belaka. Betul kata orang GPS adalah Gambar Peta Sendiri saja.

Tidak lama kemudian sebuah papan petunjuk nampak didepan mata. Terbaca ke Gunung Pancar… Jalanan beraspal kendati sempit namun nyaman untuk dilalui, apalagi hari masih terlalu pagi untuk aktivitas tamasya.

Beberapa menit kemudian tanjakan mulai terasa. Dikiri kanan banyak truk memuat pasir dan batu kali. Tak heran desa ini dinamakan SUMUR BATU.

Dengan beban truk bermuatan berat bisa diramalkan bahwa kedepan kami akan membentang jalan rusak sebab aspal kelas II harus senen kemis menerima beban kelas I.

Tapi ini Jawa Barat bung! – kalau cuma jalan berlubang dan berair dimusim hujan begini – tidak penting!.

Gunung Pancar dimata kami seperti bau Kambing Bandot yang dicium secara kejauhan oleh kambing perempuannya mak Kasih. Tambahan lagi 150 meter jalan masuk kerumah saya belum tersentuh aspal. Jadi soal jalan ya nggak ngaruh lah.

AMBUSH

Saat lepas dari telikungan (tikungan babaliut) dengan badan jalan kurang terawat, disebuah tanjakan yang sepi mucul dua orang berseragam hijau menghadang kendaraan kami.

Ditangannya diacungkan benda tipis- setipis uang kertas – yang bernama Retribusi Kendaraan.

Untuk pembangunan Daerah. Salah satu Limas, bernama pak Yahya melongok dari jendela kami. Jepret – saya ambil fotonya.

Cukai ini sama dengan dua kali cukai di Ramp Cikunir. So nggak pentinglah. Tetapi ada.. Kalau tidak salah desa setelah Sumur Batu adalah desa Karang Tengah.

Supaya kendaraan anda tidak ngeden ada baiknya menggunakan BBM kelas Pertamax. Pasalnya jalan cukup mendaki terjal dengan kondisi jalan sempit dan berliku, perlu konsentrasi tinggi. Padahal pokok pinus seperti membelai kita untuk bermain dibawahnya, menukar energi lelah dan kotor berganti energi segar dari tetumbuhan gunung.

Beberapa boulder (bongkah batu gunung sebesar gajah kena kali gajah) nampak disana sini. Juga jangan heran kalau diantara batu alami, sudah penuh dicorat-coret tangan iseng. Siapa bilang tradisi menulis tidak dimiliki oleh sebagian besar kita.

CUKAI JILID DUA

Menikmati siulan angin menggesek dedaunan pinus harus anda tunda sebentar sebab diujung jalan sebuah gerbang harus anda lewati untuk meneruskan perjalanan. Setiap kendaraan ditarik cukai, termasuk biaya perkepala.

CUKAI JILID TIGA

Ternyata cukai jalan hanya untuk urusan ijin melalui jalan di Taman Wisata ini. Kalau anda masih nekad ke airpanas maka mohon siapkan biaya tambahan. Sudah banyak yang membahas masalah biaya masuk sehingga saya lewatkan dan. Akhirnya sampai jua kami parkir di pemandian Gunung Pancar.

Untuk diingat bahwa ada pemandian UMUM dan pemandian PRIBADI.

Saya memilih pemandian pribadi. Seperti kata Ibu Nury.

Disini aku ketemu wanita cantik berambut keriting, dan seperti rata-rata perempuan Sunda selalu muncul daya pesonanya dari setiap sudut, ibu ini pandai melayani tetamu sehingga betah.

Tetapi karena perut saya yang mengaku diet sudah keburu lapar, ditambah anjuran “Berendamlah Kamu Sebelum Direndamkan Orang..” maka kami pesan sepiring goreng singkong APUUUY, sepiring Tahu panas, segelas Bandrek. Amboi saya seperti kesetanan Roh.

Apalagi tahu ini harus dicocolenak dengan sambal olahan ala Gunung Pancar yang begitu spesifik. Lalu kami berbicara penuh kehangatan. Maksud saya mengunyah disambi meniup tahu agar tak terlalu panas dalam mulut.

Tak heran disela pembicaraan diiringi suara mengerang mendesah antara aduh dan asoiy yang mungkin ditelinga orang Sunda seperti “Apuuuy” – Maka jadilah merek dagang Goreng Singkong Masak Dadakan “Apuuuy.” Dengan 3 huruf “U”.

Ah banyak nian yang akan saya paparkan. Tapi saya akan sambung nanti…

Mimbar

5 Desember 2009

Posted in Uncategorized

Saah ambil oleh-oleh


Salah satu nasehat di kantor saya kalau hendak bepergian adalah tidak pakai baju mencolok, tidak muncul di tempat yang terjadi keramaian massal, dan tidak menulis alamat yang terlalu jelas dan lengkap pada tas. Bahkan dianjurkan sebisanya hindari pakai taksi dadakan.

Tapi pada kenyataanya praktek ini sering menyulitkan saat bagasi kita hilang atau tertukar tempat. Apalagi nasehat ini biasanya dibuat detektif Barat.

Contoh saja Lita. Perempuan cantik, langsing, penganut mahzab tiada hari tanpa egal-egol senam. Perempuan muda berkulit cerah meriah ini berangkat ke Mekah dan Madinah sorangan wae berhubung sang suami baru saja pulang haji sehingga tidak bisa menyertainya. Padahal seumur-umur ini adalah kali pertama baginya keluar dari negara dengan berazaskan hukum isi baterai HP masuk bui.

Kami cuma bisa bilang untuk jangan belanja-belanji tanpa mengindahkan timbangan. Dan berhati-hati sebab di Tanah Sucipun pencopet tidak ambil perduli. Ia menurut. Sebuah dompet stagen melilit di pinggangnya.

Hanya pesan kami untuk hanya membawa sekedar rupiah tidak diindahkan. Bukan kurang cinta mata uang negeri, hanya lantaran jumlahnya sering banyak, besar dan tebal. Padahal ketika ditukar mata asing lain ngempos.

Saat perpisahan sulit menahan pelupuk mata yang berat dan perih melihatnya berpamitan lalu masuk kendaraan diiringi sedu sedan sanak keluarga yang ditinggalkan. Terseok saya dari kantor memacu kendaraan agar bisa bertemu sebelum berangkat yang rencananya bakda Magrib..

Mudah-mudahan perempuan beranak dua ini mampu menjadi haji yang Mabrur. Betapa tidak. Sebuah perjuangan berat, menabung rupiah demi rupiah (tahu kami, lha kalau menyetor sering menemaninya). Tak kurang satu kendaraan roda empat dibenamkan habis untuk pergi ke Padang Pasir.

Bulan Nopember lalu melengganglah ia tanpa masalah ke tanah Mekah (dan Madinah). SMS tak henti-hentinya berseru – doakan aku ya… Kadang melancarkan berita Aku sudah transit di Dubai.

OLEH-OLEH DIKARGOKAN TERLEBIH DULU

Menjelang akhir prosesi Haji ia mengirim SMS.

Aku kirim oleh-oleh dan sudah dikargokan secara kolektif. Jadi oleh-oleh akan mendahului kepulangannya ke tanah air. Sekarang siapa akan menjadi Oleh-oleh Kolektor di Tanah dengan penduduk doyan angkat junjung pemerintah seperti membangun dan merombak benteng-pasir.

Pasalnya dia tidak menyebut “minta bantuan” kami sehingga asumsinya urusan oleh-oleh kolektor diserahkan kepada keluarganya. Toh tinggal datang tunjukkan bukti diri dan barang kiriman dibawa melenggang pulang. Apalagi di rumahnya berjibun manusia dengan anak-anak mereka yang ikut menikmati rejeki di rumahnya.

Betul saja pas Minggu malam ada tilpun dari Biro Jasa mengatakan bahwa dua koli sudah tiba di gudang.

Suami Lita yang sedang enak-enak kondangan di-HP oleh keluarganya untuk segera mengambil kiriman malam ini juga, padahal pesta baru saja dimulai.

Sampai di sana satpam menanti di Gudang Biro Jasa yang overload oleh barang van Jamaah Saudi Arabia. Untunglah dengan keterbatasan tenaga barang berhasil diangkut pulang.

SALAH AMBIL

Sampai di rumah barang nyaris dibuka habis tetapi setelah dicek silang ada yang tidak match. SMS mengatakan dua koli dan barang dimata hanya satu koli. Lalu saat dilongok ada nama pemilik tertulis kecil yang asing di telinga mereka. Jelas salah ambil.

Setelah sempat tilpun sana sini, baru ketahuan koli yang diberikan adalah koli punya jamaah yang lain. Nasihat yang bisa diteguk, tulislah alamat kita kita sejelasnya sekalipun di luar negeri kita amat tidak dianjurkan membubuhkan nama dan alamat yang terlampau jelas. Kuatir disalahgunakan.

Malam ini Rabu 2/12/09 kalau tiada aral melintang ia akan kembali ke pelukan suami dan anak-anaknya. SMS-nya singkat, “tolong jangan getok tular kedatanganku ya. Capek nih. Mo istirahat dulu..” – Iya deh paham.