Posted in Uncategorized

Bersihkan Aura Di Pemandian Gunung Pancar (bagian satu)


Semua gara-gara getok tular ibu dokter Nury yang selalu obral info apa saja kepada kami. Kali ini racun obral saya telan mentah-mentah, yaitu berendam di airpanas, zonder bau welirang di gunung PANCAR.

Sengaja saya pakai kata racun sebagaimana simbul orang “medic” berupa ular melilit tongkat artinya tidak membedakan antara racun dan obat. Semua obat adalah racun dan semua racun adalah obat.

Konon ditengarai bahwa Prabu Siliwangi pernah berendam dikawasan gunung Pancar, ditambah sohibul hikayat kalau yang beruntung bisa melihat sinar pancaran ”ROH Halus ” dari gunung pada malam hari. Terus seabreg bujet cerita bahwa para spiritualis menjadikan tempat ini semacam tempuran suatu zone pertemuan antar pelbagai etnik tenaga gaib sehingga banyak yang bermeditasi disini.

Kalau semua cerita dianggap vrek – dinafikan, maka cerita Dokter yang punya hobi berendam disini kudu en musti dipertimbangkan.

Lantas mulailah saya baca informasi di Internet – ada yang mengutuk habis-habisan yang jalannya berbatu, makanan mahal, lalu menyesal datang kesana. Nanti kalau tiket murah, kita protes “Keterlaluan Harga Tiket Murah sekali..”

Namun tak kurang banyak yang menikmati suasana pemandian, terutama bagi yang perlu pengobatan alternatif. Lagian namanya internet, siapa suruh percaya semua cerita.

Ketimbang menjadi generasi penuh menggerutu seperti yang sekarang muncul di layar televisi, saya melihat alur cerita ibu Nury selalu melihat sesuatu dari segi “fun” – tak heran beliau menjadi wanita karier yang sukses.

Seperti Biasa Nyasar

Siyuuut jam 8 kurang seperampat kami sudah karet ban yang kiri belakang pernah disumpali karet sudah bergesekan dengan jalan raya Tol Jagorawi dari Jakarta menuju Sentul Selatan. Hari masih pagi, dengan suasana agak mendung maka jalanan masih sepi pengguna. GPS saya setel untuk melihat posisi Gunung Pancar.

Jam 8:25 kaca mobil harus diturunkan guna membayar tol dan mobil langsung dibuang kekiri dan tidak lama kemudian ada sebuah menuju sebuah pintu Gerbang yang dijaga satpam. Sayang makin menjorok kedalam tidak ada bau-baunya sebuah gunung. Rupanya saya lupa nasehat seorang satpam di SPBU saat isi Pertamax menjelang keluar Pintu Tol. Katanya didepan gerbang yang dijaga satpam harus belok kiri masuk jalan Babakan Madang. Pasalnya kawasan ini dikuasai perumahan mewah jadi sepi plang nama.

Terlanjur masuk ya sudah putar-putar sekali. Untung seorang tukang kerupuk pikulan sedang menunggu pembeli dan informasinya.

Fatwa pak kerupuk seharusnya saya tidak memasuki Gerbang Perumahan ini melainkan berbelok ke kiri masuk jalan bernama Babakan Madang. Sebuah nama yang menimbulkan rasa lapar.

Karena sulit mencari papan petunjuk ke Taman Wisata -garing/garis miring – Pemandian Airpanas Gunung Pancar, maka tukang Ojek dengan senang hati akan memberitahukan arah perjalanan anda. Oalah pegang GPS ternyata mubadzir belaka. Betul kata orang GPS adalah Gambar Peta Sendiri saja.

Tidak lama kemudian sebuah papan petunjuk nampak didepan mata. Terbaca ke Gunung Pancar… Jalanan beraspal kendati sempit namun nyaman untuk dilalui, apalagi hari masih terlalu pagi untuk aktivitas tamasya.

Beberapa menit kemudian tanjakan mulai terasa. Dikiri kanan banyak truk memuat pasir dan batu kali. Tak heran desa ini dinamakan SUMUR BATU.

Dengan beban truk bermuatan berat bisa diramalkan bahwa kedepan kami akan membentang jalan rusak sebab aspal kelas II harus senen kemis menerima beban kelas I.

Tapi ini Jawa Barat bung! – kalau cuma jalan berlubang dan berair dimusim hujan begini – tidak penting!.

Gunung Pancar dimata kami seperti bau Kambing Bandot yang dicium secara kejauhan oleh kambing perempuannya mak Kasih. Tambahan lagi 150 meter jalan masuk kerumah saya belum tersentuh aspal. Jadi soal jalan ya nggak ngaruh lah.

AMBUSH

Saat lepas dari telikungan (tikungan babaliut) dengan badan jalan kurang terawat, disebuah tanjakan yang sepi mucul dua orang berseragam hijau menghadang kendaraan kami.

Ditangannya diacungkan benda tipis- setipis uang kertas – yang bernama Retribusi Kendaraan.

Untuk pembangunan Daerah. Salah satu Limas, bernama pak Yahya melongok dari jendela kami. Jepret – saya ambil fotonya.

Cukai ini sama dengan dua kali cukai di Ramp Cikunir. So nggak pentinglah. Tetapi ada.. Kalau tidak salah desa setelah Sumur Batu adalah desa Karang Tengah.

Supaya kendaraan anda tidak ngeden ada baiknya menggunakan BBM kelas Pertamax. Pasalnya jalan cukup mendaki terjal dengan kondisi jalan sempit dan berliku, perlu konsentrasi tinggi. Padahal pokok pinus seperti membelai kita untuk bermain dibawahnya, menukar energi lelah dan kotor berganti energi segar dari tetumbuhan gunung.

Beberapa boulder (bongkah batu gunung sebesar gajah kena kali gajah) nampak disana sini. Juga jangan heran kalau diantara batu alami, sudah penuh dicorat-coret tangan iseng. Siapa bilang tradisi menulis tidak dimiliki oleh sebagian besar kita.

CUKAI JILID DUA

Menikmati siulan angin menggesek dedaunan pinus harus anda tunda sebentar sebab diujung jalan sebuah gerbang harus anda lewati untuk meneruskan perjalanan. Setiap kendaraan ditarik cukai, termasuk biaya perkepala.

CUKAI JILID TIGA

Ternyata cukai jalan hanya untuk urusan ijin melalui jalan di Taman Wisata ini. Kalau anda masih nekad ke airpanas maka mohon siapkan biaya tambahan. Sudah banyak yang membahas masalah biaya masuk sehingga saya lewatkan dan. Akhirnya sampai jua kami parkir di pemandian Gunung Pancar.

Untuk diingat bahwa ada pemandian UMUM dan pemandian PRIBADI.

Saya memilih pemandian pribadi. Seperti kata Ibu Nury.

Disini aku ketemu wanita cantik berambut keriting, dan seperti rata-rata perempuan Sunda selalu muncul daya pesonanya dari setiap sudut, ibu ini pandai melayani tetamu sehingga betah.

Tetapi karena perut saya yang mengaku diet sudah keburu lapar, ditambah anjuran “Berendamlah Kamu Sebelum Direndamkan Orang..” maka kami pesan sepiring goreng singkong APUUUY, sepiring Tahu panas, segelas Bandrek. Amboi saya seperti kesetanan Roh.

Apalagi tahu ini harus dicocolenak dengan sambal olahan ala Gunung Pancar yang begitu spesifik. Lalu kami berbicara penuh kehangatan. Maksud saya mengunyah disambi meniup tahu agar tak terlalu panas dalam mulut.

Tak heran disela pembicaraan diiringi suara mengerang mendesah antara aduh dan asoiy yang mungkin ditelinga orang Sunda seperti “Apuuuy” – Maka jadilah merek dagang Goreng Singkong Masak Dadakan “Apuuuy.” Dengan 3 huruf “U”.

Ah banyak nian yang akan saya paparkan. Tapi saya akan sambung nanti…

Mimbar

5 Desember 2009

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.