Posted in belanja, shopingsaurus

Balpoint Pendek Berujung Panjang


Sabtu sore saya menjadi supir empat ibu-ibu ke Mal Taman Anggrek- Grogol Jakarta Barat.

Ibu ibu ini selalu minta ijin kepada suaminya setelah membaca mantera-mantera sakti – cuma lihat-lihat ketimbang BeTe dirumah melulu.. Padahal diujung cerita mereka selalu pulang dengan kedua tangan penuh tas kertas bertali dengan merek MATAHARI atau Bulan atau Bintang.

Sampai di rumah. Mantera yang dibaca adalah habis barang bagus dan sedang dikonto, sayang untuk dilewatkan.

Lucunya lagi, para mahluk SHOPPINGSAURUS dari genus keluarga saya ini fasih kalau bicara ketidak beresan pemerintah, ketidak adilan dimana-mana sehingga banyak orang kena Busung Lapar, orang miskin karena belitan Gurita. Tetapi semua dasarnya dalil “katanya Koran…

Di lantai dasar, sekelompok anak muda berbaju lengan panjang biru BENHUR nampak mengawasi pada pengunjung. Begitu dianggapnya masuk “prospek” langsung didekati untuk dibagikan sebuah balpoin pendek. “Untuk bapak, gratis..”Lalu kalau kita menerimanya, pertama ditarik ke sebuah pojok untuk sekedar membubuhkan tanda tangan dan uci materi apakah pen yang diberikan berfungsi atau tidak. Kalau anda baca buku hipnotis, teknik ini sebagai penjajagan apakah responder memperlihatkan niat berkomunikasi atau tidak.

Saya lihat beberapa alat masak terpajang disekitar sana dengan merek dagang mirip-mirip plesetan nama sebuah perusahaan Jepang pembuat sound system.

Karena saya menolak, satu persatu perempuan ini digiliri (maksud saya di tawari Balpoin gratis).

Hanya satu yang amat suka cita menerima pemberian para SINTERKLAS berbaju pegawai kantoran yaitu senior saya – yang dari dulu kalau sudah punya mau, apapun yang terjadi bakalan diterjang.

Mungkin ada hubungannya dengan tahun kelahirannya MACAN- Macan tidak pernah menghindar bahaya, macan selalu mencari marabahaya.

Dalam hidup, beliau manusia yang duduk dikursi pengemudi.Sekalipun dalam kehidupannya beliau tidak pernah diperbolehkan menyetir kendaraan. Satu-satunya kendaraan yang pernah dikemudikan adalah Scooter. Benda ini ia kuasai tatkala beliau masih “Narayana Wadon” – di desa Gancahan – Kulonprogo – Yogyakarta.

Sia-sia diingatkan “ibu di mal ini, biting (potongan lidi pendek untuk penguat bungkus daun pisang), tidak gratis. Pasti ada maunya dibalik pemberian itu..”. Betul saja, senior saya ditarik ke suatu pojok, dan dikerumuni ada 4 pemuda. Saya lihat dari kejauhan, ibu menuliskan namanya dan sang salesman menawarkan sebuah bungkusan yang belakangan saya ketahu adalah sebuah kompor listrik.

Anak perempuannya yang pengacara, saya kirim untuk menjemput sang ibu.. Lho kok perempuan yang dua bulan lagi berpisah karena akan meneruskan program master di Eropa ini ikutan mengiyakan tindakan ibunya: “Mas – ibu mau dikasih kompor listrik, masak tidak boleh, kan lumayan…”

Perkara seandai (mengandai) memiliki alat masak listrik – terus bagaimana memasok kebutuhan energy yang umumnya WATWATAN nya kedodoran, yang penting (barangkali) punya dulu, bersakit kemudian.

Lalu ia menunjuk gambar seorang tokoh agama sedang menawarkan produk pabrik tersebut. Maksudnya kalau tokoh agama sampai ikutan iklan, niat baiknya dipertaruhkan. Di kepala kita sudah tertanam bahwa tokoh agama, selalu lurus kedepan hidupnya, tidak berani melanggar peraturan ketatanegaraan ataupun peraturan agama yang dianutnya.

Dua perempuan cantik lainnya seperti memberikan isyarat – sudah maunya Ibu, mau diapain lagi – dia kalau belum kepentok akan ngotot luar biasa.

Habis sudah upaya saya menghalangi mereka mendekati tempat itu. Lalu saya menggamit mereka dan perlahan melakukan tur seperti niat ingsun semula “liat-liat ajah..”

Lanjutan cerita anda mestinya sudah tahu, hadiah akan diberikan kalau kita membeli peralatan lain seperti kulkas, micro oven dengan harga jual diatas rata-rata pasar.

Akhirnya ibu dan bungsunya datang menemui kami tanpa membawa hadiah apapun, bahkan balpoint yang semula akan diberikanpun tidak diambilnya.

Saya bilang sudah ratusan kasus serupa saya baca dimedia, mereka tidak menipu walaupun caranya agak akal-akalan. Kalau nama perusahaan ini disebut, langsung pengacaranya menuntut balik dengan alasan pencemaran nama baik.

Kalau saja Senior Lelaki saya ada ditempat, saya yakin dukungan saya mirip Ruhut Sitompul kepada Polri.

Kejadiannya mungkin 15tahun lalu. Ia menerima sepucuk surat (kertas) dengan bahasa membuai menghipnotis – Anda menjadi orang terpilih…Untuk menerima hadiah dari kami. Beberapa kali yang tercetak dibacanya, mungkin beliau tersanjung. Usianya 65-an saat itu mendadak turun seperti anak balita disuapi makan pembantu dengan kata-kata hipnotis “waduh pinter, memang anak hebat, coba satu suap lagi ya pasti lebih hebat..”

Pikir-pikir, apakah pendidikan “suapi makan” yang diberikan oleh pembantu, ibu, tante dimasa kecil terserap begitu dahsyat sehingga begitu kita disanjung, mulutpun akan menganga.

Setengah jengkel saya antarkan bapak ke sebuah Mal di Cileduk. Tetapi kali ini saya langsung pasang badan. Betul saja, setelah otot-ototan, sebuah ASBAK kelas abal-abal diberikan. Bapak merasa dipermainkan.

Tetapi di Mal Taman Anggrek Grogol saya juga belajar, bahwa mereka para pedagang ini sangat memperhatikan faktor kejiwaan calon pembelinya. Mulai melakukan pengamatan dengan mata setajam elang, dipuji-puji lalu “jreng” mereka muncul sebagai “SINTERKLAS” – setelah semua masuk jarak bidikan, “dor” peluru dagang melesat.

Jakarta 9 Januari 1010

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.