Posted in bioskop, Uncategorized

Hari Untuk Amanda


Kalau tidak silap, kami terakhir menonton Beskop (bioskop), saat anak kami Lia berusia 2 tahun(sekarang lima repelita lebih).

Filmnya berjudul Kabut Sutra Ungu – pemainnya Yenny Rahman dan Roy Martin. Sejak itu – sehebat apapun filmnya, mamanya Lia memilih menonton sinetron di rumah yang dipenuhi tabok-tabokan, tangis gegedrukan, teriakan melengking, amnesia, anak kembar beda sifat, dan penyelesaian masalah dengan kanker atau ditabrak mobil. Pernah sih kami ke PIM karena dia kesemsem dengan Laskar Pelangi – untuk kuciwa berat sebab tiket selalu terjual habis.

Maka bukan alang kepalang senangnya saya ketika dia menilpun saya, katanya nyidam-ngeces, pingin nonton “Hari Untuk Amanda” – nonton paling malam pun tidak jadi mengapa.

Ini yang membuat saya blingsatan, dan rela melepaskan makan siang bersama tiga rekan, berburu karcis di beskop kawasan Taman Mini.

Masih satu jam lagi. Kami duduk memesan jus buah di resto kecil. Lalu lihat lagi ada bihun-seafood-saus tiram. Jus datang dengan rasa bak makan dodol garut encer saking kental dan muanis habiz. Bihun datang dengan rasa hambar. Tetapi jangan salah, semua saya bikin ludes.

Tanpa diputar trailer sama sekali, filem langsung digeber disaksikan mungkin tak lebih dua belas orang.

Saya hampir berasumsi buruk sebab beberapa sekuel cuma diisi hp berdering, sms datang. Sosok lelaki beralis tebal yang diperlihatkan super sibuk dengan HP, sementara teman lainnya, diam mematung di depan layar monitor sehingga anda tidak perlu menebak, apakah pekerjaan di bidang properti, atau video game.

Baru perlahan, filem terkuak mengisahkan kisah percintaan – yang rupanya “secara gw banget” – Oh ini to udang dibalik batu, sampai rela istri menunggu filem lebih dari lima repelita. Tak pantas saya mendongeng ceritanya – sehingga mending anda tonton sendiri, dengan harga 15ribu rupiah per kepala. Apa bisa menutupi biaya operasional ya?

Sempat terjadi insiden antara kursi A10-A11 (antara kami), sebab tiga (atau malah empat HPnya bergetar dan menyala). Saya ingatkan untuk mematikan alat tersebut segera. Alih-alih malahan telpon genggam satu plastik diberikan kepada saya – dan saya malu tidak bisa mematikannya di tempat gelap itu.

Pulangnya. Semua toko sudah tutup,lift, eskalator sudah dimatikan. Celakanya pintu akses ke parkir sudah dikunci sehingga perlu bantuan pihak keamanan untuk membukakan pintu bagi saya.

Di ruang basemen yang gelap dan horror maka maka cuma secuil mobil yang masih betah di sana. Lain kali kalau mau menonton malam, lokasi parkir harus menjadi bahan pertimbangan. Ada satu putaran saya kepentok gardu bayar yang juga sudah dipalang. “Pintu satu pak masih buka!,” seru seorang penjaga malam berseragam biru.

Karena sudah jam 23:00 saya melihat penjual duku di pinggir jalan Hankam terkantuk-kantuk. Dukunya tidak banyak, disusun mirip penjual telur menyusun dagangannya. Warna kuning langsat disinari petromak sehingga makin pucat, dengan latar belakang Taman Mini yang sudah gelap – maka duku tadi emang bikin ngeces.

Kendaraan saya pinggirkan, mungkin karena masih mengantuk mungkin ia bermimpi mendapat rejeki nomplok.

Duku Komering yang biasanya dibandrol 7.000-8.000 per kilo, tidak tanggung-tanggung si abang minta 100% lebih mahal. Alasannya belum musim bener-tetapi- banyak peminat (duku).

Dengan bonus hujan rintik di kawasan Taman Mini, saya beli dua kilo dan harga putus 13ribu. Ada orang memilih dagang membusuk – ketimbang untung tetapi sedikit. Toh dia pikir yang beli nggak mungkin kami datang dua kali. Memarkirkan kendaraan dinon bahu jalan saja sudah “toh-nyowo” alias Izroil sudah mulai larak-lirik.

Sesampai di pertigaan pasar Kecapi, saya lihat tukang buah langganan kami masih buka. Duku di sana masih ditulis “Sedia Duku Komering Manis, Rp 7000/kg”- Yang jual gemuk dan belum kelihatan mengantuk. Tetapi apa boleh buat, mereka saya lewatkan, termasuk tukang parkir tua yang mulutnya menghitam sebab kebanyakan merokok.

Terpaksa sampai di rumah saya menikmati buah yang sepertiganya memang aseli Komering, dengan campuran duku Kumpay, Condet entah apa lagi. Kadang manis, yang sering sepet dan mentah. Dan sekalipun hati saya bilang “idep-idep-shodakoh” – kok masih ada mahluk kecil imaginer di kepala saya berbisik “tapi kan lebih bagus lagi sambil shodakoh – makan duku sesuai harga. Lain kali penjual tersebut jangan dibeli lagi.” Dasar!

Lalu teringat adik kandung saya yang menikah dengan orang Baturaja Sumsel – yang lebih suka menyebut sebagai Putra Sriwijaya – beberapa kali mengundang – “kalu sual makan duku – datang bae Mas ke Baturajo, di tempat kami nak sekeruntung (tas anyaman dari kulit bambu), nak sepohon, tinggal ambek bae. Tanpo BEBAN. Payolah datang-tengoklah kami di dusun ini,”

Translation mode ON-Tanpo Beban – ini bahasa wong kito – mengekspresikan makan gratis, tidak pakai beban bayar. Payolah (ajakan dari ayohlah). Ambek=ambil.

Pondok Gede 13 Jan 2010

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.