Posted in Tenda

Ketika kubersujud di bawah Tenda Biru


Tenda Biru sejak April 2010 - Lebih permanen

Tenda memang alat serba guna. Melindungi dari terik panas, atau dari curahan hujan.

Tetapi pernahkah kita terpikir justru alih-alih terlindung dari air hujan, bisa jadi hujan palang besi yang mengintip kelengahan kita.

Akibat hujan, atau pipa besi kelas KW2, maka nyaris besi ini bisa ditekuk untuk membuat bumerang raksasa.

Biasanya saat hujan tiba – mendadak tenda berubah fungsi. Dari semula dimaksud sebagai pelindung menggelontorkan curahan hujan lho kok alih-alih menjadi baskom raksasa menampung air meteor. Masalahnya – karena acara menampung air adalah partai tambahan, terang saja ada konsekwensi tidak mengenakkan disini.

Misalnya..

Saat kami bersujud pertama dalam salat Jumat 22 Jan 2010 – kok ada ritual salat “adendum” yaitu teriakan cukup panjang waaa..dari sebagian jamaah yang luber diluar mushala merangkap gedung pertemuan kami.

Tenda yang sudah miring kekanan miring kekiri – bahaya-lalalalala…

Ternyata tulang besi yang menunjang posisi tenda plastik sudah keburu lempar handuk – akibat menampung sebagian air hujan yang tidak mampu dilalukan oleh sistem. Akibatnya palang besi melengkung, dan saya kuatirkan kaitan yang nampak pada foto 3 jangan-jangan tidak kuat (patah), maka akibatnya bisa dibayangkan. Dalam foto siyh – para jamaah lebih takut kena hujan, ketimbang keambrukan tenda yang sudah miring kekanan miring kemana-mana.

****

Semula gedung yang kami pakai berfungsi sebagai Auditorium belaka. Hanya sejak Desember 2009 pada hari jumat dialih fungsikan menjadi mushala agar para penghuni komplek kantor yang bersebelahan dengan lapangan golf sohor di kawasan Jakarta Selatan ini tidak perlu repot untuk menunaikan ibadah Jumat. Karena tidak perlu biaya pemeliharaan – lantaran ditangggung pemilik property – uang hasil KENCRENG bin Tromol bin Kota Amal bin Kayu cat coklan cukup lumayan hasilnya sehingga terkadang panitia mengabarkan bahwa sebagian uang disumbangkan ke yayasan atau lembaga sosial yang membutuhkan bantuan.

Sejalan dengan waktu, peminatnya meningkat sehingga lokasi salat ditambah dan tetap meluber ke jalan-jalan dibelakangnya. Lalu panitia berseragam batik, menyewa seperangkat tenda untuk melindungi jamaah dari terik matahari dan hujan.

Baru kali inilah kekuatan tulang-tulang besi tenda ketahuan “rahasia dapurnya”

 Moral of Story: Kalau sewa tenda, sebaiknya teliti kalau ketemu pipa besi sebesar ANACONDA tetapi mereka tergolong KW2.

Lebih takut hujan ketimbang keambrukan tenda doyong

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.