Posted in Bakiak

Bakiak


Setiap kali duduk manis-manis menunggu di lobby kantor KPS atau PSC (Production Sharing Contract) dari perusahaan minyak terkemuka maupun terlanjur maju kena mundur kena – maka memperhatikan pekerja keluar masuk kantor adalah mengesankan. Memandang wajah penuh percaya diri, setelan baju yang disetrika rapih, dasi yang serasi – rasanya hari menjadi cerah. Hilang sudah penat akibat diteror suasana jalan yang macet (basi ya bilang Jakarta macet).

Lantaran mata ini menganggur, mau nggak mau saya jadi memperhatikan lalu-lalang para pekerja. Dan yang paling mengganggu adalah ketika para ibunda, bapaknda yang perlente tadi serentak keluar ruangan sudah pakai sandal jepit, masuk toilet yang biasanya berada diujung kantor dan kembali sambil menyeret sandal yang basah sehingga memberikan bekas jejak air di kemilaunya ubin. Okay kalau ada diantara mereka mungkin akan menjalankan salat. Cuma pemandangan jadi sepet ketika sandal ini dipakai sepanjang hari, sementara sepatu hak tinggi hanya digunakan untuk masuk dan keluar kantor.

Lantas, bicara soal sandal. Setiap jumat di kawasan Cilandak kami selalu diselenggarakan salat Jumat di ruang Auditorium. Semula saya melihat ada sekitar setengah lusin sandal kayu alias bakiak berwarna biru sebuah perlengkapan pengganti sepatu bagi orang kantoran yang hendak berwudhu (menyucikan diri dengan menggunakan air sebelum ritual berdoa). Lama kelamaan jumlah bakiak biru ini makin menipis, entah hilang, entah rusak. Padahal sejujurnya bakiak kayu ini ukurannya satu nomor lebih kecil dari ukuran rata-rata sepatu orang asia. Maka bisa dibayangkan langkah tertatih para bakiakwan yang ujung kakinya tidak sempurna masuk diantara jepitan karet ban bekas sebagai sarana penjepit kaki, sementara bagian tumit menggantung seperti besi slop 5 meter dinaikkan diatas truk 3meter. Kadang langkah mereka seperti Chaplin dimasa kejayaan filem bisu tempo hari.

Lalu saya sekali tempo bawa sandal sendiri. Begitu salat selesai, sandal saya entah dimana. Nampaknya saat sandal saya geletakkan, seorang jamaah “meminjamnya” – lalu lupa dimana sandal diambil dan digeletakkan begitu saja. Sandal malang ini hanya sebentar mengaso, lalu “dipinjam” jemaah lain dan digeletakkan ditempat lain entah dimana. Pengalaman dengan sandal raib, saya menggantungkan diri pada bakiak kekecilan ini. Toh bakiakpun perlahan hilang dari peredaran… Kalau sudah begini saya harus memuji – beberapa kerabat saya yang menjalankan agama super ekslusif – dimana meminjamkan perkakas sembahyang adalah pantangan, tentu masuk akal dipandang dari segi kesehatan. Masih soal sandal… Biasanya kita memasuki mushala dan meninggalkan sandal dengan ujung sandal menghadap kedepan. Saat keluar mushala, biasanya kita membungkuk atau duduk di tangga sambil santai memutar sandal sementara jamaah dibelakang kita antrean hendak melakukan yang sama.

Cuma ada dua nama yang saya tahu pernah meneladani meletakkan sandal dengan moncong ke arah kebelakang agar saat pulang nanti kaki tinggal dimasukkan tanpa pakai acara “u-turn.” Orang pertama adalah AA Gymnastiar.. Orang kedua adalah GuruBesar Perguruan beladiri Kempo – yakni bapak Indra Kartasasmita.

Advertisements