Posted in Uncategorized

Dari Selongsong Rokok Gentong


Koran ibu kota hari Sabtu 27/3/2010 menampilkan seuntai pesan singkat dalam bahasa Sunda Punten sakarang tos nape dimana? Sakarang diatosan di kurayni sakarang diatosan

Boleh jadi sang pengirim pesan singkat hendak menyatakan “Maaf sudah sampai di nyampe dimana, di karang ditunggu di KURANJI, sekarang ditunggu..”– Rupanya sang wartawan bermaksud meliput kehidupan warga Baduy, dan seorang pemuda Baduy bersedia menjadi Pemandu mereka. Titik rendevouz adalah Kuranji.

Tetapi saya masih belum ngeh akan maksud penulis C Anto Saptowalyono dan Cornelus Helmi mengcopy paste- pesan singkat dari seorang keluarga Baduy Luar- Banten.

Dasar bukan orang Sunda kendati kelahiran Pandeglang tahun 1953, saya cuma ngeh bahwa kata nape seharusnya Nyampe, dan diatosan seharusnya diantosan = ditunggu, lalu kata daerah Kurayni seharus Kuranji

Ada kesalahan tata letak kalimat yang tidak pas disini. Apakah akan membahas maslaah disleksia?

Baru saya “DONG” – bahwa orang kampung Cipaler, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten – bukannya secara adat dilarang sekolah, diharamkan baca tulis, lantas mengapa Lilik (30) mampu menulis melalui tilpun genggam yang ternyata sudah mendekam disementara rumah warga Badui.

Kalau anak-anak normal, belajar membaca dengan mengeja “ini ibu budi, ini bapak budi,” maka warga Badui belajar membaca dari potongan selongsong rokok. Lilik, misalnya, belajar dimulai dari melihat bungkus rokok Gentong. Lalu dia mulai menggunakan kemampuan fotografi otaknya untuk memotret bentuk hurup dan sulih suaranya.

G “gambarnya begini”, e “gambarnya begitu, dan “n” dan seterusnya. Lalu ia membaca iklan rokok lain, dan mulai melakukan studi perbandingan sehingga ditemukan cara dahsyat belajar membaca tanpa guru.

Teknologi tilpun genggam, ternyata dimanfaatkan secara positif bahkan ketika orang berdebat Haram Merokok, Mubah Merokok, Makruh Merokok, mereka malahan belajar menempa diri.

Keinginan membaca pada Lilik van Badui ini tumbuh saat ia usia 13 tahun. Tidak tanggung-tanggung dunia aksara terbuka setelah ia menekuni sembari sembunyi belajar selama 3 tahun. Ia bahkan bisa berjualan ke dunia luar, membaca nota bon pembelian yang ditulis oleh Babah Liem di Rangkas Bitung.

Pak Wiro, tukang sampah kelurahan kami, 60, mampu membaca uang. Tetapi berapa gerobak sampah yang ia layani hari itu, biasanya cuma cari potongan genteng dan “bret” dia menarik garis demi garis, seperti yang dilihatnya kalau ada cara hitung pemilu.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.