Posted in anjing

Anjing Menggonggong Tak Selalu Gara-gara Kafilah


“Sedih ceritanya,” kata yang sudah menyaksikan filem besutan Richard Gere ini.

“Ah masa iya, kapan kita sudah paham, cerita persahabatan antara anjing dengan manusia, lalu saat sang tuan meninggal dunia, anjing tetap setia menunggu tuannya di stasiun kereta api..”Kata saya dalam hati tetapi menyisakan rasa penasaran sementara filem sudah bergeser dari bioskop kelas atas ke kelas bangku mulai bodol.

Akhirnya kesampaian juga saya menonton filem Hachiko ini di Atrium Senin, tidak tanggung-tanggung ambil yang jam 13:30 siang. Sendiri lagi….

Lantaran sendirian, saya tahu diri. Daripada dikira cari sesama jeruk atau daun muda maka saya klik mode “dont talk to stranger..” – Ternyata puasa ngomong dengan tetangga sebelah berat juga ya.

Saat telinga saya aktipkan mode “parabola on” menguping pembicaraan seorang bapak tinggi besar, sebelah saya, sendirian juga, menjawab panggilan hanfone dalam bahasa yang aku ngerti “Aku neng BESKOP”.

Sementara bapak bercakap saya tebarkan pandangan kesekeliling.

Dari empat studio maka saya lihat filem horror lebih menyedot peminat ketimbang filem bertema lain.

THING…PINTU STUDIO 4 SUDAH TERBUKA (pintu tobat selalu terbuka dari dulu).

Sebelum filem main, ada adegan tambahan yang konon sudah lama, tetapi menurut saya edisi baru. Pedagang minuman, permen dan brondong jagung memasuki arena pertunjukan.

“Jagung-buat teman nonton-cuma lima ribu rupiah,” teriak pedagang berseragam hitam-hitam. Saya ambil sebungkus brondong sambil mengulurkan selembar lima ribua lalu iseng bertanya

“ini manis atau asin?” –

“Asin Pak!”

“Saya mau yang manis”

“Kalau manis harganya lebih mahal,” Buset deh, saya bergumam. Jualan berondong jagung ala bule saja sudah ikutan pedagang duku pinggir jalan, harga duku ditulis segede truk gandengan Duku Rp 5000/kg, begitu anda dekati bahasa bermetamorfosa. Duku kuntet dan masam, memang segitu, yang manis dan bongsor bisa “lipet dua(k).”

Kembali ke Hachiko

Awalnya saya nggak melihat kehebatan filem ini. Ada kereta api, lalu pertemuan anak anjing dengan penumpang kereta bernama Profesor Parker. Parker jatuh hati pada anak anjing ini, sementara isterinya menolak. Parker seperti merasa dapat “soul mate” – pertama ia suka football. Sang anjing juga suka nonton TV apalagi acara sport Football. Mereka rela menonton di kamar belakang sebab sang istri komplin kalau ditempat tidur TV dinyalakan dan yang menonton berteriak-teriak mendukung timnya sambil memamah brondong jagung (manis atau asin ya) dan yang jelas remah disana sini.

Saat acting Istri yang tidak setuju ada anjing dirumah, saya menduga ada konflik.

Nyatanya hati sang istri luluh saat melihat suami amat suka cita bermain dan melatih anjing. Mata saya jadi berat dan tenggorokan jadi kaku. Sial bener. Perasaan dihidung ada yang ngegesek tas kresek.

Yang menarik adalah pernyataan Profesor Ken seorang berdarah Jepang yang sohib profesor Ken. Ia membuat saya berfikir bahwa Ken adalah keturunan samurai sebab dalam satu latihan kendo, Ken mampu menangkis serangan pedang (kayu) yang dilancarkan Profesor Parker dari belakang tanpa menoleh.

Sebetulnya Narasi dikendalikan oleh Prof Ken. Dari Ken pula, profesor Parker banyak tau bahwa Akita adalah jenis Anjing Jepang yang dipelihara kaum Shogun untuk berburu. Ia bukan anjing penghibur yang mau membawa bola yang kita lemparkan, setelah disogok oleh permen.

“Anjing Jepang Tidak Bisa disuap Parker..”. Kalau ia menggonggong, atau melakukan sesuatu – tentu dengan alasan yang kuat.

Lalu ingat dikeluarga kami anjing menggonggong bentakan berlaku. Yang cerewetlah yang nakallah. Di tetanggaku anjing mendekat – batu bakalan berbicara. kalau tidak atas ancaman menggigit, kanin dituding membawa ke neraka.

Saat tahu tuannya (Parker) tidak kembali lagipun, Hachi sebagai anjing trah Samurai tetap menjalankan tugasnya sampai ajal menjemput. Lagi-lagi Ken seakan menjelaskan kepada penonton, ini bukan anjing bego. Anjing ini sudah tahu tuannya didunia lain, tetapi tugasnya adalah mengabdi. Dan itu akan dilakukan sampai kapanpun. “Do what you have to do..”

Filem keluarga yang perlu ditonton agar anak-anak mengerti arti persahabatan dengan hewan. Dari persahabatan dengan hewan biasanya muncul empati terhadap kemanusiaan. Suatu hal yang sekarang apalagi diibukota sudah mulai hilang.

Aselinya jenis anjing Akita adalah mahluk akrab dengan manusia. Ia menggemaskan dan cerdas. Seperti juga manusia, anjing cerdas biasanya rewel dan banyak tingkah. Kalau tidak ada yang dikerjakan, Akita cenderung merusak sekitarnya. Ia harus selalu dibuat sibuk. Mudah-mudahan anda yang belum menontonnya tidak terusik dengan resensi singkat ini.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.