Posted in lelang, mudlogger, mudlogging

Mendadak Rapat Lelang


Bertahun-tahun hidup saya selalu dibelenggu aturan bahwa mengikuti rapat lelang pertama kali harus tepat waktu. Membawa dokumen seperti Surat Kuasa atau Power Attorney yang sudah ditandatangani Direktur perusahaan.
Duluuuu (u panjang) sekali kami pernah mau ikut lelang di sebuah daerah diujung Sumatera. Dari Bandara setempat kami masih harus menggunakan kendaraan naik turun jalan berbelok dan berliku, mengikuti truk-truk pembawa kayu balak- gelondongan dan kalau bisa sampai dalam 1,5 jam itu termasuk perjalanan lancar. Umumnya mendekati 120menit kami baru tiba ditempat tujuan.
Mendadak pesawat SEMPATI di bandara Cengkareng membatalkan penerbangan secara sepihak. Padahal waktu itu perusahaan yang mengenalkan motto SANDIWARA (Arisan di undi diUDARA) ini sedang di “gadang-gadang” bakalan menjadi perusahaan besar. Sekalipun akhirnya cuma sekedar perusahaan Sandiwara alias tonil beneran.
Lantaran mendadak batal, maka banyak peserta dari Jawa yang kelimpungan dan mencoba pindah pesawat Merpati misalnya.

Tentunya kami akan tetap terlambat. Dan masalah ini disampaikan kepada panitia di ujung sana (HP masih dalam awang-awang), yang dijawab oleh panitia: “Itu urusan anda. Terlambat datang berarti kami jatuhkan talak 1.”

Tentunya kata yang tersirat adalah, kalau mau ikut tender ya datang jauh-jauh hari menginap di daerah. Dengan catatan perusahaan kita menanam pohon duit dibelakang rumah sehingga semua ongkos tinggal memetik duit dibelakang. Alias kaya raya.

Tadi pagi sekitar jam 09:23 sebuah fax melayang ke mesin kami. Pembukaan Lelang ini hari jam 10:00 pagi.

Sontoloyo..

Kok mendadak dan last minutes begini. Kesannya seperti kejar setoran – langka perencanaan.

Masih ada tambahan, peserta harus membawa Power of Attorney alias Surat Kuasa yang diberi stempel basah diatas meterai dan ditandatangani direktur (bilamana direktur -berhalangan hadir).

Hopo Tumon…

Mendapatkan tanda tangan pak Direktur kan tidak semudah beli Pulsa isi ulang. Kadang beliau ada meeting, kadang di toilet, dua-duanya haram diganggu.

Sebagai perbandingan.

Ketemu Teman lama terpisah 22 tahun

Dengan jarak yang sama kata mas HeruSantiago -di Klaten – Jawa tengah sana ia membutuhkan waktu 45menit. Lha di Jakarta, mana boleh jadi 37menit emang mau mabur.

Tetapi show must go on. Seorang staf yang hari itu seharusnya terbang ke KL lalu ke Philippine, rela-rela naik Ojek dari rumahnya. Misinya adalah tegas – setor muka kepada panitia yang membuat waktu 37menit seperti dineraka.

Soal POA alias Surat Kuasa – kami kirimkan melalui kendaraan bermotor mas Agus.

Saya yang tua, dengan lamban naik Taksi menuju sebuah lokasi di lantai 23 tingginya seperti tertera dalam kop surat. Ternyata Kop surat tersebut sudah kadaluwarsa. Perusahaan yang saya jadikan target ada di lantai 24. Cara kesampaian kesanapun unik. Turun dulu ke Ground Zero, lalu pindah lift.

Wekekek..

Akhirnya – saya datang paling laat, sementara yang lain sudah berhaha-hehe satu sama lain. Ada yang memuji supir taksinya maha berani sebab menerobos lampu kuning dan merah berulang kali. Coba to? kalau lihat Taksi dan Mikrolet menerobos rambu kita misuh-misuh setengah mampus. Tetapi begitu kita ada didalam Taksi dan Mikrolet, kita puji-puji sang supir yang ugal-ugalan karena kepentingan kita diutamakan.

Ruang rapat pertama tidak muat menampung peserta. Kami pindah keruangan yang lebih besar. Viewnya indah sekali sebuah lapangan golf. Sampai-sampaui saya berfikir orang-orang ini apa tidak kerja ya kok pagi-pagi begini sudah cethak-cethuk nggebuki bola tak bersalah.

Rapatpun dibuka. Tidak ada basa-basi maaf dari panitia lelang. Kamipun menganggap tidak penting.

Yang penting dalam hidup saya bertemu seorang Filipino. Kami ketemu ditahun 1983-an di Provinsi Tarlac – Philippine kawasan Victoria tanah tumpah darah Aquino. Saat bersalaman dia lama berfikir padahal saya menyebut nama daerah di Philippine. Lalu saya sekali lagi mengeja nama ketiga.

Mendadak Jesus (demikian namanya), bangkit dari duduknya, seperti melompati tiga orang disisinya lalu menghambur kearah saya sambil bertanya “what happened with your hair,” dan cup-cup – kening saya dikecupnya.

Sebelum anda menyangka saya kelompok “TJMJ” The Jeruk Makan Jeruk – dia bilang kepada teman-teman diruang rapat “this is the man who taught me in the mudlogging bussines..”

Wah syukurlah kalau dia masih ingat. Kami pun berfoto sejenak. Dengan latar belakang gedung CitiBank di kawasan Sudirman, dari ketinggian lantai 24.
Mimbar 27 Mei 2010

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.