Posted in lift

Etika Naik Lift


Masih pagi benar ketika saya mak-jleg dilobby kantor. Bagian kebersihan masih terlihat “menguas” lantai dengan pel. Saya harus mlipir mencari lantai yang sudah kering. Ingat masa kecil kalau disuruh ibu ngepel lalu adik-adik yang memang banyak berlarian kian kemari menginjak pekerjaan saya. Disitu saya biasanya naik pitam.

Seorang anak muda, segera menyalip masuk kedalam lift, lalu jleg – pintu lift buru-buru tertutup sehingga saya dan lainnya menunggu giliran. Herannya kenapa sih tidak menekan tombol atau menahan pintu untuk memberikan kesempatan kepada orang lain menggunakan lift yang sama.

Sekalian hemat Energy karena lift sekali angkut bisa membawa banyak orang.

Lalu seperti kata mas Glady – kedoyanan kita menghalangi lift. Sudah tahu bakalan turun di lantai 7, mereka manteng saja di depan pintu lift. Kadang menggembol backpack dipunggungnya. Jadi pemakai dari lantai 2,3,4,5,6 terpaksa berulangkali bilang “misih, misih” – tetapi hati “misuh”

Tetapi saya pernah punya pimpinan “perempuan” yang kalau naik lift selalu tingkahnya aneh-aneh. Pada dasarnya beliau phobia ketinggian. Begitu “mak jleg” kakinya masuk lift, biasanya wajahnya dihadapkan ke dinding. Dan itulah yang ia lakukan sampai kita beri isyarat bahwa lift sudah sampai.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.