Posted in bunker, rumah susun

Ada Bunker di rumah anakku


Setiap Rumah Susun Singapura di beri Gudang yang berfungsi sebagai Bunker jika negara dalam darurat diserang musuh mereka

Keluar masuk gudang menyimpan kopor-kopor lama, saya baru nyadar bahwa gudang yang satu ini sekalipun ukurannya saya taksir 3mx6m (barangkali over estimate) ternyata dilengkapi dengan lubang hawa yang diberi filter. Gudang ini tidak boleh dipaku, di bor atau dimodifikasi. Bangunannya sangat kokoh, tulang belulang tebal bahkan pintupun terbuat dari besi.

Ternyata dalam keadaan darurat, gudang bisa berfungsi sebagai Bunker darurat. Ada stiker dipintu masuh ditulis dalam bahasa China, Inggris, Hindu dan Malay mengenai tata cara kalau dalam keadaan darurat. Misalnya dianjurkan bawa Senter, Radio, Air Minum.

Ssalah satu peringatan untuk tidak memodifikasi Tembok Bunker eh Gudang rumah susun
Lubang Angin Bunker Perumnas Singapura

Lha kok negara yang sering kita bilang kecil, diledek orang sejakarta kencing bareng bakalan Singapur banjir kok pemerintahnya sempet-sempetnya mikirin perlindungan bagi rakyatnya. Sementara dinegeri kita Tabung Melon meleduk disana sini, kita masih sibuk bertelewicara mencari siapa yang salah.

Posted in apple

Mengunjungi pameran elektronik


Asal melihat orang berkerumun disuatu toko elektronik diam-diam saya merayap mendekati bokong mereka.

Kali ini kedai IPAD sedang mendemokan komputer mutakhir dari Apple. Lalu ingat presentasi Steve Job, ingin menciptakan generasi yang merupakan perpaduan antara Smart Phone dan Notebook – tetapi bukan netbook – sebab Netbook dilecehkan Steve sebagai laptop yang murah dan murahan.

Seorang ibu nampak menimang-nimang Ipad. Ditunggingkan, dibolak dan dibalik. Setiap ikon yang ada langsung dia tekan dengan telunuknya dan digeser-geser.

Lima menit berlalu hanya itu yang ia lakukan. Hebatnya ketika sang ibu pergi seorang bocah langsung mendekat, menyerondol saya dan dengan mudah ia program game yang ada disana. Anak-anak memang hebat daya adaptasinya kepada sesuatu yang baru..

Dari Ipad saya melihat demo TV3Dimensi dan TV berinternet. Nampaknya Samsung mengeluarkan jenis baru yang bisa berinternet, paling tidak ber SKYPE ria sehingga orang bisa bertelewicara dari negara manapun melihat wajah masing-masing dan gratis..tis…

Lalu bagaimana dengan Webcam untuk menangkap gambar. Ternyata harganya khusus dan harus webcam special untukTV

Posted in tol

Isi Ulang kartu Tol – ATM anda harus digesek dari bawah ke atas


Gara-gara Tol naik, saya tidak menyangka dampaknya adalah saldo di E-tol sudah menipis lebih cepat dari awalnya.

Jumat 30/7 pagi saya sudah berdiri didepan petugas Top-Up di sebuah bank penyedia jasa tersebut. Sebut saja Mandiri. Lantaran nasabah sedang berjubel sehingga menimbulkan antrean cukup panjang petugas nampak kewalahan. Saya lihat mesinnya ada didepan mata disertai cara mempergunakannya.

Gaptek ya Gaptek tetapi jangan terlalu – suara kecil dikepala mengingatkan saya.

Pertama mempelajari cara kerja mesin gesek dan mesin tempel. Bentuknya tak asing mirip kalkulator bagian keuangan yang keluar kertas cetakannya. Ah setiap transaksi pakai kartu debit atawa kartu kredit barang ini selalu hadir.

Maka saya pencet MENU diikuti Pre-Paid diikuti topup, nominasi 300.000 dan Voilla.. saya diminta menggesek kartu Mandiri saya.

Dengan cermat baca dan lihat diujung atas kanan ada ikon cara meletakkan kartu serta petunjuk posisi pita bermagnitnya.

Dengan yakin – saya masukkan kartu dari atas dan perlahan digesek kebawah… Jadi gerakannya seperti sedang mengiris kue tart ulang tahun dari Atas ke Bawah…

Tetapi apa daya tulisan aneh muncul

DO NOT HONOR

Sekali lagi saya coba, hasilnya gagal maning..gagal maning……

Akhirnya saya minta tolong petugas.. Ternyata kartu harus digesekkan dari bagian pantat baru kekepala…

Saya pikir saya tidak perlu seahli Profesor Langdon dalam Da Vinci Code – sebab tanda START menggesek memang dipasang pada bagian atas bukan dibagian bawah…

Memang – kartu berhasil ditopup cuma saya penasaran mengapa cara mengeseknya dibalik.

Posted in Uncategorized

Membangun Jalan dan Lampu Stopan baru Penduduk didatangkan


Ada sebuah pertanyaan di acara Radio – Katanya negara mana yang orangnya belum ada,  pengguna jalan masih sedikit tetapi pemerintahnya sudah ribet bongkar pasang jalan, meningkatkan kualitas sarana mulai dari pejalan kaki, lampu stopan dan tanda lalu lintas.

Lalu negara mana yang jalannya macet dulu baru pemerintahnya mencoba membangun jalan tambahan.

Stasiun LRT - Light Rapid Transportation, sekalipun belum diaktipkan tetapi semuanya sudah lengkap.
Peta sudah ada disetiap stasiun. Stiap pelosok sudah ada LRT bila daerahnya remote atau MRT untuk daerah yang sudah ramai penduduknya
Posted in anjing

Luka digigit anjing perlu di jahit atau malahan di explore – bingung-bingung kumemikirkan


Minggu siang sudah dirancang untuk makan malam diluar – memperingati Ulang Tahun anak bungsu saya Satrio. Beberapa foto lama saya tengok kembali. Saya lihat saat ia umur beberapa bulan bercanda bersama mbakyunya. Foto berwarna tersebut bertarikh 1987. Cepat nian waktu berlari. Melihat ukuran badan saya masih “lumayan” – rambut masih hitam sekalipun tidak menutupi ada gejala erosi hebat.

Sambil menunggu malam, saya menikmati leyeh-leyeh – kok mendadak didapur terjadi keributan anjing menggonggong lalu suara gedebag-gedebuk.

Horny Bitch Will Bite

Tidak lama Satrio keluar sambil memencet tangan kirinya yang meneteskan darah..

“Tanganku digigit si Cinta (nama anjing betina) kesayangannya..” – ini mengherankan sebab selama ini Cinta selalu menggemaskan dan tidak pernah menampakkan sikap agresif kecuali kepada kaos kaki bau saya.

Di bawah kucuran air wastafel ia bergumam bahwa sejinak apapun binatang, Anjing tetaplah binatang buas. Suatu waktu kalau moodnya sedang tidak baik, ia bisa saja mencelakai pemiliknya. Lalu ada tips kalau digit anjing seperti menekan bagian yang luka agar darah dan buih liur anjing bisa dikeluarkan.

Selanjutnya – luka dibersihkan dengan sabun, sebelum diberi desinfektan seperti Betadin dan minyak TeaTree.

MENDATANGI RUMAH SAKIT PLAT KUNING

Tanpa buang tempo, Satrio saya bawa ke rumah sakit swasta di jalan Daan Mogot. Langsung kami ke ruang Instalasi Gawat Darurat guna dilakukan penanganan seperlunya. Di ruang rawat terpancang Figura berisikan Kebiasaan orang yang efektip. Enam ranjang pasien nampak kosong.

Ada lima menit suster jaga tilpun sana-sini untuk minta Sabun yang biasa dipakai 9 dari sepuluh bintang filem untuk mencuci luka anak saya.

Kesimpulan dokter, luka cukup dalam dan diperlukan Hecting -satu kata baru bagi saya yang hanya mengenal kalimat “stitching” untuk dijahit. Saya harus menandatangani surat pernyataan kesediaan pasien di jahit. Biaya untuk pelayanan ini sekitar 700 ribu keriting.

Tetapi ada masalah baru. Vaksin Rabies tidak boleh dijual oleh RS Swasta. Kecuali di Puskesmas atau RS Pelat Merah. Opsi pertama jelas dimakzulkan berkenaan dengan hari minggu.

Digusah-gusah Satpam RS Plat Merah

Maka setelah mendapat surat rujukan dari dokter swasta, pasien saya bawa ke RS Umum untuk di vaksin. Sekali lagi saya masuk langsung ke ruang Gawat Darurat. Kami berhasil menyampaikan rujukan kepada petugas. Tapi nggak ngaruh. Mereka masih bertanya mengapa, kena apa, dimana, kapan terjadinya. Bahkan saat mencoba berkonsultasipun saya diusir satpam untuk tunggu giliran.

Prosedur kerja disini adalah surat rujukan dibaca petugas registrasi. Lalu ke sebuah Loket membayar harga dua ampul vaksin rabies. Lantas kami harus naik ke lantai atas menyerahkan formulir pendaftaran dan obatnya kepada petugas di ruang gawat darurat.

Namanya rumah sakit umum pemandangannya sama. Ranjang penuh alias pasiennya banyak tetapi paramedik sedikit. Lalu kami dipingpong mulai dari daftar, beli obat, tebus obat semua harus rajin bertanya, rajin ngotot, kalau perlu akal-akalan. Perlu ketahanan dan kesabaran luar biasa. Jangan berharap mendapatkan keramahan – kecuali seorang ibu di ruang penjualan Vaksin.

Sebaliknya para Dokter pria saling ramah dengan para jururawat. Ada dokter melayani pasien patah kaki sambil bercanda HP-nya hilang lalu seperti mau menghibur pasien lantas beretorika sedikit kemayu “Ada Nggak Ya HP seharga 50ribu biar kagak ada maling yang naksir…”

Giliran anak saya tiba. Perban yang baru beberapa menit dipasang langsung dibuka, bahkan team menyatakan keheranan mengapa luka digigit anjing pakai di jahit.

Ai siapa suruh jahit, pan luka beginian jangan dijahit…” kata dokter yang kehilangan HP. Sepertinya dia akan membuka jahitan yang baru saja dikerjakan di RS lain setengah jam lalu. Tentu beliau punya alasan kuat.

Satrio langsung ngotot tidak mau diperiksa ulang – dia bilang, “Saya kemari ingin disuntik Vaksin Rabies habis perkara.” Terjadi sedikit adu urat. Kami disodorkan formulir menolak pemeriksaan yang segera kami isi. Tak perduli para medik bermuka kecut melihat penolakan kami.

Akhirnya dua injeksi rabies dilakukan. Saya masih harus bayar lagi di loket yang berbeda.

Waktu menunjukkan jam 18:00an. Total biaya di Gawat Darurat (beneran) ini 350 ribu keriting. Dan penyuntikan masih ada dua sesi lagi…

Saya masih mikir cara alternatif mendapatkan vaksin Rabies untuk kelanjutan pengobatan anak saya. Rasanya memasuki ruang gawat darurat RS Pemerintah pada hari Libur dimana tenaga medis kewalahan menghadapi banjirnya pasien benar benar pengalaman Gawat beneran.

Mendadak tanpa suara permisi didepan saya nyelonong gerobak stainless steel masuk ruang Gawat Darurat. Rupanya pembagian makan malam berupa nasi bungkus.

Hancur sudah “mind set” saya bahwa dirumah sakit itu makannya pakai rantang aluminum bentuk ginjal, lalu ada lauk secara terpisah. Lha kok yang saya lihat berupa mirip daun kertas pakai lilin dan dikaretin.

Pulang ke rumah Satrio sempat memberikan pernyataan begini. Kalau dirumah sakit swasta, begitu masuk ruangan, ketemu tim dokter sepertinya kita sudah pasrah bongkokan (habis) kepada team medik. Tapi memasuki rumah sakit negeri, kenapa kita harus main curiga, harus kritis atas penangan tim. Salah dimana ini?

Selamat Ulang Tahun Satrio. Hadiah ultahmu satu injeksi di RS Swasta, dua Injeksi di RS Pemerintah.

Posted in Uncategorized

Ketika Harus Mengantar Bapak ke Lampung (2)


R. Soeratman 17-Agus-1931 - 4-Juli-2010

Selesai dengan mengamati wajah terbujur masih hangat untuk terakhir kali, pandangan saya mulai memutar ruangan sempit ini.

Di bawah kaki bapak, terduduk lunglai perempuan 52-tahun ditemani kedua anak-anaknya. Saat saya dekati anak lelaki dan perempuan nampak seperti mata ayam mengeram. Ada wajah tegang. Mungkin kuatir saya akan menyalahkan mereka membawa ayah yang sudah lumayan uzur – karena membawa Ayah kandung kami ke Lampung-Jakarta-Lampung sampai menemui ajal.

Dimana sih pekerjaan termudah didunia ini kalau bukan menyalahkan orang lain. Lagian ajal bisa kapan saja, kata pak Ustad.

Ketika saya pegang bahu perempuan yang menyukai rambutnya dicat merah, tangan saya diraih dan diciumi erat dan lama sekali. Perempuan ini nampak kurus sekali, tulang pipinya menonjol. Sembilan tahun saya dan adik-adik di satu pihak memperlakukannya seperti seteru. Kini saya datang dengan membawa senyum menyapa seluruh anak-anaknya dan suasana tegang mencair.

Kadang saya bersyukur hanya saya sendiri yang ada di Jakarta sehingga ekskalasi permusuhan bisa diredam. Apalagi bapak sangat mencintainya.

Ada pesan dari Bapak? Tanya saya.

Nggak ada Mim, Besok Senin lima Juli bapak mau ke Lampung untuk ambil pensiun dan gaji ke Tiga Belas.

Terjawab sudah kegalauan saya.

Saya Putra Sulungnya harus mengajak bapak ke Lampung, bukan untuk mengambil pensiun melainkan diistirahatpanjangkan.

Ketika keputusan saya ambil maka deretan agenda bermunculan. Surat Keterangan RT RW, Surat Ijin membawa jenasah ke luar kota, Surat dari Kepolisian, Surat Kematian/Visum dari Puskesmas, Ambulance, peti untuk membawa jenazah dan seabreg angka dan proses yang bermunculan.

Saya lirik sahabat saya Sandy. Ia mendekat, profesinya relawan bencana alam.

Soal Ambulance bukan masalah. Ada di Ciliwung, katanya. Persoalan dimana mencari peti jenazah tanpa simbol agama tertentu.

Mas Mono sang pengemudi Sandy, bilang, gampang saya punya channel cari peti.

Mereka sudah terlatih mendatangi pusat bencana mulai dari Aceh, Yogya dan banyak yang lainnya.

Seseorang yang dari semula selalu mendampingi jenazah, Ibu Rahman mendesak – apakah Bapak dimandikan di sini? – Saya bingung beberapa saat, lalu keputusan diambil “Terimakasih, tidak. Biarlah apa adanya sebab di Lampung ada spesial Task Force….

Adik-adikku ingin ambil bagian sendiri dalam upacara ini.

Keputusan mengawetkan bapak dengan bantuan formalin untuk sementara saya tepikan. Saya tidak bermasalah dengan formalin, tetapi ada 7 adik belum dan tidak bisa dimintakan pendapatnya.

Drama di depan mata adalah berpacu melawan waktu.

Ubo rampe sudah siap.

Tetapi Kapten Densus Rio, yang juga keponakan saya melapor bahwa Akte Kematian baru bisa diberikan hari Senin saat Puskesmas atau Rumah sakit buka. Terbayang kasus ibu Aini Habibi yang juga kepulangannya tertunda sebab hari libur. Apakah saya harus mengalah dengan aturan yang tidak masuk akal?.

Otak berfikir cepat. Lalu ingat adik saya yang dokter di Puskesmas untuk segera meluncur membuatkan akte kematian dokter. Ditunggu satu sampai dua jam, dia datang dengan membawa dua formulir kosong dan sebuah ballpoin, tetapi lupa bawa kacamata baca.

Kaca mata saya taruh (memang begini gaya saya kalau membaca dan menulis), lalu menulis di atas formulir sesuai dengan yang didiktekan oleh dokter.

Jam sudah menunjukkan 00:00 Senin pagi…

Jenazah sekarang siap dipindahkan ke dalam peti kayu coklat. Bukan terbuat dari kayu mahal. Terlampau sederhana. Ada enam baut pengunci terbuat dari logam murahan yang harus diputar extra hati-hati. Beberapa kali baut melesak miring. Duh ternyata tutup peti tidak simetris.

Saat dimasukkan ke ruangan, dimensi rumah yang sempit membuat peti harus dimanuver berulang kali.

Saya peluk bagian kepala bapak. Masih terasa hangat. Empat jam telah berlalu.

“Bapak dulu menceboki saya, mengeramas rambutku, menyisir rambut ikalku sambil kadang diberi pomade…,” bisikku di telinga beliau.

Hanya saya sedikit under estimate, ternyata sekalipun kurus, bapak masih berat juga.

Sambil memeluk bapak tetap saya ajak bicara sambil minta ijin mengangkat jenazahnya untuk dipindahkan ke dalam peti.

Ternyata jazad belum juga bisa diberangkatkan. Ambulan memang tersedia, namun pengemudi pada pulang ke Jawa. Musim liburan anak sekolah ditambah hari Minggu – waktu yang sempurna untuk keluar kota.

Kami cari pengemudi serabutan, rata-rata begitu memegang kemudi ambulan mereka bergidik dan menyerah. Alasannya “bannya mau ngebuang terus..” Para pengemudi dengan insting yang tidak dapat dijelaskan kadang bisa merasai ada energi lain duduk dalam ambulan.

Namun sepertinya bintang terang masih ada di pihak saya.

Ada pengemudi dengan Sim B2 yang berani dengan ambulan asal ditemani. Satrio anak saya menjadi relawan menemani sang pengemudi di Ambulan.

Lagi-lagi gang yang yang sempit kami paksa untuk mengakomodasi sebuah ambulan. Beberapa kali ambulan nyaris menggesek pagar. Teriakan instruksi maju, mundur, tahan seperti membuat suasana makin berkabung.

Untunglah semua bisa diatasi. Tidak ada lagi yang ditunggu, maka bertolaklah kami..

Sepertinya begitu..

Tapi … sosok kurus berbaju hitam masih nampak duduk. Kami dekati, ibu tiri saya. Dibalik tubuhnya yang seperti ringkih, ia memiliki kemampuan menaklukkan hati Bapak. Kemampuan yang menonjol adalah perempuan ini memang “anak Band” – melantunkan lagu Pop sampai Kucing Garong bisa dilalapnya dengan baik.

Apakah ingin Ibu Oma ingin ikut ke Lampung?” Sebuah pertanyaan bodoh.

“Ya,” katanya..

Ada kendaraan?..Atau orang yang bisa stir luar kota. Saya ada kendaraan extra tapi pengemudi tidak ada?

Ada anak saya (juga saudara tiri saya), dia biasa nyupir antar propinsi..” – Kata perempuan yang pernah menjadi teman sepermainan semasa kecil kami di Lampung.

Perfecto – Jangan buang waktu sekalipun untuk itu saya harus mengutus seseorang ke rumah untuk mengambil kendaraan lain. Adrenalin semakin berpacu dalam darah. Sementara hujan makin rintik….

Jam 03:00 – Didahului oleh kendaraan saya, diikuti ambulan, rombongan keluarga Tiri, keponakan Ajeng dan Imang serta anaknya. Kami mulai bersiap…

Saya tepuk mobil ambulans berdoa agar penghuni tak nampak jangan berulah.

Saya bisiki peti jenazah. Bapak, putra sulungmu Mimbar akan membawamu pulang ke tanah kelahiranmu Teluk Betung. Di sana ibu menunggu 9 tahun lamanya.

Allahuakbar, Tuhan lapangkan perjalanan kami. Kalau boleh pinjamkan sedikit keahlian Nabi Musa, hanya sekedar jinakkan ombak di Selat Sunda. Kami minta ijin untuk menyeberang lautmu..

Mudah-mudahan para supir konvoi kami tidak mengantuk dalam perjalanan sebab semua serba mendadak serba tanpa persiapan.

Posted in Uncategorized

Ketika mengantar bapak pulang ke Lampung


*** Bapak saat bersiap akan Umroh- April 2008 ***

“Yang ikhlas ya….,” kata lelaki ini sambil tersenyum. Beberapa tetes bubur yang disuapkan oleh ibu nampak mengalir di pipinya. Sore ini ayah seperti biasa minta minyak cap kapak, panadol dan obat pelancar nafasnya. Belakangan Ia mengalami kesulitan mengontrol air seni sehingga kemana-mana harus pakai pampers. Berat badannya menurun. Nafsu makanpun seperti berkurang.

Gang tempat Bapak melepas tugasnya.

“Ngomong apa sih bapak, jangan buat mainan kata-kata itu,” kata ibu. Setelah ibu meninggal 9 tahun lalu, maka perempuan ini yang menjadi pengganti ibu. Kami memanggilnya OMA.

Tapi ada keanehan, pandangan mata lelaki kelahiran Teluk Betung Lampung yang 17 Agustus kelak genap berusia 79tahun seperti kosong, dagunya lunglai.

Dikira suaminya pingsan sehingga ia menepuk pipi keriput ayah. Namun tidak ada reaksi. Panik dan takut, Oma berteriak dan memanggil tetangga. Untunglah ibu Rahman yang memang biasa memimpin pengajian – lantas berdatangan.

Dari pengalamannya ia tahu, ayah dari 10anak ini sudah tunai tugasnya didunia. Rohnya melesat menyusul dua anak kandungnya yang nota bene adik kandung saya, selain istri pertamanya (ibunda) yang meninggalkan kami 9 tahun lalu.

Dari pengalamannya pula ia langsung mengajak bicara jasad ini untuk menutup matanya dan mengikat dagu agar tidak menganga. Kabar pertama datang dari adik terkecil yang separuh histeris menyampaikan berita bahwa “bapak kita meninggal Mas..” lalu suaranya terputus dan sedu sedan yang terdengar.

Berita sungkawapun pulai disebar luaskan…
Adik-adik tersebar di mana-mana. Ada yang di Aceh, sedang menghadiri hajatan khitanan Iban salah satu keponakan saya, ada yang di Yogyakarta, Lampung – pendeknya tersebar. Saya anak tertua harus segera mendatangi rumah duka.

Masalahnya, kami tidak ada yang tahu TKP tempat almarhum berada. Ada 3 jam saya mencari alamat. Beberapa warga sempat kami tanyai dan semua menjawab dan dengan tulus memberitahu alamat.

Sayangnya jawaban yang diterima saling sengkarut. Satu bilang utara yang lain diselatan.

Tepat disatu tempat saya melihat ada bendera kuning. Separuh berlari saya mendatangi tenda tersebut

Gang kontrakan bapak, baru dua minggu tinggal disana.

untuk akhirnya kecele sebab bukan ayah yang saya maksud melainkan pihak lain.

Sebuah lokasi berbendera kuning ternyata ditutup oleh portal besi. Kata-kata ampuh bahwa ini adalah masalah orang meninggal dunia, tidak membuat penjaga malam bergeming. Sambil mengangkat rokoknya ia berkata. “Bapak harus memutar dulu..” – Sementara saya sudah tak sabar. Lupa usia portal saya lompati dan bersama Satrio anak saya, kami lagi-lagi setengah berlari mencari dimana bendera kuning berada.

Kali ini usaha pencarian berhasil..

Di ruang tamu sebuah rumah teramat sederhana, membujur berselimut kain batik seorang bekas Komandan Batalyon Brigade Mobil, Dan Res dan entah sederet panjang sertifikat penghargaan dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel Polisi.

Saya segera menghambur ke sisi jenazah. Tak sempat saya perhatikan sesosok tubuh kurus berbalut pakaian hitam bersimpuh seperti kehilangan daya. Dia lah ibu sambungan saya.

Perlahan cadar penutup penutup ayah dibuka, penggemar lagu “Bung Dimana” yang biasa dibawakan Diah Iskandar ini nampak seperti tertidur andai saja perban penahan dagunya tidak terpasang.

Saya mencoba mengontrol emosi saya, mencoba mengerti bahwa meninggal dunia adalah proses yang harus dilakoni mahluk bernyawa. Pikiran mistis saya berkecamuk – Inikah isyarat yang diterima puteri sulung saya Lia, yang beberapa hari sebelum hari “H” bermimpi didatangi almarhum Ibu saya. Saya biasanya hanya berkomentar bahwa isyarat mendahului kejadian bukan untuk mengubah jalan sejarah hidup seseorang melainkan – agar siap dan tabah menerima hari “H”

Aku elus wajah yang sekarang auranya sudah merasuk dalam tubuh saya. Jujur saja semenjak pernikahan kedua, hubungan antara beliau dengan saya dan adik memang sedikit masam. Kami berdua memang memiliki gengsi ssama-sama ngotot.

Tapi beliaulah yang mengajarkan saya bagaimana menulis sebuah karangan, bagaimana menghadapi massa, berbicara didepan mikrofon, bernyanyi sekalipun suara beliau begitu bagus sementara saya parau dan fals. Cara beliau memandang setiap persoalan hidup dengan “hati nurani,” Seperti masih membekas. Masih indah rasanya menjelang tidur malam beliau bercerita tentang kehidupan, kejujuran, lalu menidurkan saya sambil memetik Biola, membawakan lagu semacam “Laila Manja atau Bung Dimana..”

Kalau kami berbuat salah dan mengaku, biasanya beliau melarang ibu memukul saya: Alasannya anak kalau sudah mengaku berbuat salah masih juga dihukum, maka yang terjadi adalah mendidik anak menjadi tidak jujur.

Mim,begitu beliau memanggil saya. Janganlah karena mengejar hablum minallah (hubungan vertikal) kamu malahan merenggangkan hubungan hablum minnas (hubungan horizontal) terutama dengan tetangga. Kata itu masih berkumandang, sampai sekarang.

Lalu ayah memilih meninggalkan rumah pribadinya di Teluk Betung dan rela berdempetan hidup seadanya dengan pasangan barunya. Bukankah hidup adalah sebuah pilihan. Ayah juga seperti mengingatkan bahwa mencintai seseorang harus berani mengambil resiko yang terkadang berseberangan dengan pendapat umum.