Posted in pelayanan, pelayanan payah

Panggil Aku Ibu Jutek!


Suatu siang, saya mendatangi sebuah kedai nasi yang lokasinya berada diantara kendaraan parkir di Cilandak Commercial Estate, Jakarta Selatan. Melihat banyaknya penikmat masakan ibu ini, biasanya masakannya aduhai.

Penjualnya seorang ibu berkulit cerah, nampaknya dari kawasan Utara Sulawesi.

Saya pesan nasi, sebagai lauk saya minta Capcay, sepotong paha ayam goreng. Tetapi mata rakus saya menatap disela lengannya ada semacam “kering tempe..” – warnanya kecoklatan, ada harum cabe goreng dan uhh saya minta sesendok kering tempe.

Tolong Tambahkan Kering Tempenya Bu!

Ibu yang punya anak gadis ayu (dan berkulit putih terang) ini berdecak sambil melengos. Ketus menukas permintaan saya sambil jepitan makanan ditunjukkan secepat kilat dari satu masakan kemasakan lain yang terlindung dinding kaca “Ini Mau Itu Mau Nanti tidak dimakan.”

Dari harusnya emosi, saya malahan geleng kepala. Pertama ingat kepada cara alm ibu kalau mengajar saya. Kedua saya ingat pepatah Cina “Jangan Buka Kedai Kalau Tidak Bisa Tersenyum…”

Sadarkah ibu ini bahwa sekalipun saya senyum dan makan seperti tidak pernah terjadi peristiwa mengejutkan sejatinya saya membagi cerita ini kepada teman sekantor di kawasan Cilandak. Dan daftar korban mulut ketus ini cukup lumayan. Salah satunya sebut saja Ifa. Ia yang pemakan sambal tentunya tidak bisa menelan mulus makanan tanpa sambal. Ia menerima teguran “Jangan Banyak-banyak Ambil Sambal…”

Kalau anda penasaran ingin merasakan “tarikan urat lehernya,” ibu ini tidak segan-segan memproklamirkan dirinya dan bangga “cari Saya Ibu Jutek..”

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.